Sunday, November 12, 2017

[Review] Mendengar Nyanyian Sunyi by Urfa Qurrota 'Ainy

Mendengar Nyanyian SunyiMendengar Nyanyian Sunyi by Urfa Qurrota 'Ainy
My rating: 4 of 5 stars

Kesan sepanjang membaca buku ini, "wah, gue banget""kok sama persis sih dengan apa yang aku rasain?" "oh.. ternyata begitu toh."
Sebagai peminat ilmu-ilmu kepribadian, saya termasuk yang senang mencari-cari tahu tentang personality, termasuk MBTI lah yang paling banyak saya acu. Berkali-kali saya mencoba mengetes kepribadian saya, dari berbagai situs yang berbeda dengan pertanyaan berbeda, hasilnya pun beraneka ragam. Namun, satu yang tidak pernah berubah, yaitu huruf I, introversion over extroversion yang selalu menang. Setelah banyak membaca mengenai kepribadian, saya adalah orang yang sampai pada kesimpulan bahwa kepribadian itu bukan sesuatu yan saklek dan tidak bisa dikotak-kotakkan secara sederhana oleh empat huruf atau hanya satu kata sifat saja. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih rumit dan misterius daripada itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, suatu sifat bisa menjadi sangat dominan dalam diri kita, baik kita sukai atau tidak, yang mana kita harus memahami, mengayomi dan berdamai dengannya. Dan bagi saya itu adalah sifat I ini.
Bisa dibilang saya adalah golongan yang sudah bisa menolerir ke-I-an saya, sudah bisa lebih nyaman dengan diri sendiri without any burden to try to interact with more people, bisa mengatakan 'tidak' untuk aktivitas sosial yang tidak saya inginkan tanpa merasa bersalah (atau setidaknya berusaha tidak merasa bersalah :") tapi tetap saja masih banyak hal yang membingungkan dalam diri saya, dan BUKU INI berhasil mendefinisikan hal-hal tersebut dengan tepat. Jujur, saya mendapat banyak sekali pembelajaran dengan membaca buku ini dan menjadi lebih termotivasi dengan kelebihan yang saya miliki sebagai introver yang mungkin selama ini saya sepelekan.

Jadi curhat gini ya di kolom review goodreads :") tapi jujur, buku ini membuat saya jadi ingin menumpahkan segala sisi introver saya yang baru saya temukan definisinya sekarang. Terima kasih kak Urfa :)

View all my reviews

Saturday, November 11, 2017

Impresi Pasca Bekerja

Here we come.

Lagi-lagi sudah lama ga menengok halaman ini, dan tanpa disadari membuka laptop di malam hari udah jadi momen langka. Biasanya pulang kerja yang bisa jadi jam 7 atau 8 di rumah, langsung tidur-tiduran sambil nonton TV, atau main HP, atau cuma sekedar bengong tanpa bergerak. Udah ga ada semangat untuk bergerak berpikir produktif lagi setelah dikuras seharian di kantor (kecuali kalau terpaksa atau memaksakan diri).

Wah, ternyata gini ya kehidupan berkantor itu. minimal sepertiga jatah waktu dalam seharinya diambil dan hanya akan menyisakan kelelahan di malam hari dan siap-siap menyambutnya di pagi hari. Hidup terpusat pada bekerja itu sepeti itu ya ternyata. Dulu waktu kuliah, banyak hal yang bisa dipikirkan selain kuliah itu sendiri, ya itu tugas dosen lah, asisten praktikum lah, kerjaan organisasi lah, atau kerjaan part-time lah. Sekarang, no time for that. Jadi paham sih, kenapa bekerja itu harus dilandasi dengan itikad yang baik, kenapa kita harus berhati-hati dalam memilih bekerja, dan kenapa ada orang yang berpindah-pindah kerja. Karena kalau kita bekerja hanya sekedar sebagai penggugur kewajiban mencari nafkah saja atau hanya demi kepuasan melihat slip gaji saja, sia-sia banget ga sih? Sebegitu besar ia mengambil porsi waktu hidup kita, tapi ternyata tujuan kita hanya sedangkal materi saja :"(

Akhirnya banyak orang juga yang merasa kosong dan mencari kegiatan bermanfaat lainnya. Beruntung lah jika sudah bekerja di tempat yang dapat memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Kalau tidak, kita harus pandai-pandai mencari kesempatan memanfaatkan waktu kita yang ada untuk menjadikan aktivtas kita lebih bermakna dalam, baik bagi diri kita maupun orang lain.
Q@@AQ
Impresi setelah hampir tiga bulan kerja di perusahaan swasta, aku banyak dapet insight baru tentang dunia kerja, terutama jika ingin berkarir di dunia engineering. Aku sudah mulai terbiasa di tempat bekerja, dan senang juga terutama karena semua personil timnya baik dan suasana kerjanya bikin nyaman. Tapi ya, kalau direnungkan lagi, aku ingin berkarir yang lebih tepat guna dan tidak hanya sekedar rutinitas, apalagi di perusahaan swasta yang tujuan utamanya hanya mencari profit saja. I am not saying that is bad, but I need something more meaningful in my life.

Thursday, October 26, 2017

Soon November

So I skipped my September without a blogpost and finally I find my time to open this blog tab again. Many things happened for past months and I am in the process of adaptation to the new circumstance, trying to be grateful and I AM grateful for everything happened lately. That I still got a chance to be productive, having experience working on a decent company, have new colleagues, earn money ;)

SO many things going on that I don't know what to write here. I just want to let the world know that I am fine, living well, and still finding my way to become better, stronger person.

I'll be back soon with more 'berfaedah' post ya, guys.

Sunday, August 6, 2017

Books I've recently read : Women and stuffs

Hi there again.
Kali ini mau sharing tentang buku-buku yang udah saya baca, as I usually do, tapi kali ini berfokus pada buku tentang pemberdayaan wanita, para wanita, or simply tentang wanita. As I love to get inspired, saya senang sekali membaca buku-buku ini karena memberikan banyak inspirasi untuk terus bergerak dalam hidup dan tetap punya dginity sebagai wanita. Atau seringkali merasa kecil karena belum melakukan apa-apa dalam hidup ini sebagaimana wanita-wanita inspiratif itu. Apalagi mereka adalah sesama wanita seperti saya, makanya jadi kisahnya lebih terasa nyata dan lebih mengena.And of course, those are the books that I've really enjoyed, so I would be glad if you try to read them too.

Disclaimer : ini adalah murni pendapat pribadi, tanpa sponsor (ya iya lah), dan hanya berdasarkan pengalaman dari buku-buku yang pernah dibaca, which is subjektif karena sedikitnya buku yang sudah saya baca sehingga saya sangat terbuka dengan berbagai rekomendasi yang lain.



The Dressmaker of Khair Khana (Gayle Tzemach Lemmon)

Buku ini berlatarkan daerah konflik di Afghanistan dimana daerah ini 'disandera' oleh Taliban dan tidak memungkinkan bagi para wanita untuk keluar rumah dengan bebas. Para pria dalam keluarga banyak yang keluar dari rumahnya untuk ikut berperang sehingga semakin sedikit keluarga yang mempunyai penghasilan dan mampu menghidupi anggotanya karena mereka kehilangan tulang punggung keluarga. 
Begitu pula degan Kamila Sidqi yang harus mensupport kehidupan 5 saudara perempuan yang lain, dia memutuskan untuk membuka usaha jahit pakaian. Dalam buku ini diceritakan cerita perkembangan usaha dia mulai dari Kamila berjuang sendiri sampai dia dapat membuka lapangan pekerjaan untuk wanita-wanita di lingkungannya.
Saya belajar kecerdasan berbisnis dari sosok Kamila bagaimana dia melakukan segmentasi pasar, melakukan marketing, pembagian kerja dengan saudara-saudaranya, hingga diversifikasi produk dengan cara yang amat sederhana. 

I am Malala (Malala Yousafzai)

Masih terinspirasi dengan Malala dan review detilnya udah pernah saya tulis disini (plus curhatannya, hihi). Saya masukkan lagi ke list karena pas banget dengan tema women empowerment.

Mimpi Sejuta Dolar (Merry Riana & Alberthiene Endah)

Buku ini saya baca tahun 2011, tapi masih berkesan sampai sekarang. Tentang perjuangan Merry Riana bertahan hidup di Singapura, membiayai kuliah dan kebutuhan hidup sehari-harinya. Bagaimana dia melewatkan hari-hari penuh perjuangan dengan menjadi sales person di mall-mall, dari yang tidak berhasil mendapat customer sepanjang hari sampai dia bisa punya client banyak. 
Kisah hidupnya memang menginspirasi sekali dan Merry Riana adalah sosok motivator wanita terkenal hingga saat ini. Menurut saya, semuanya worthy setelah apa yang dia lalui, dan membuat saya dan banyak orang terus percaya untuk bekerja keras. Hard works pay off :)

Thrive (Arianna Huffington)


Buku ini sebenarnya bukan tentang wanita sih, lebih ke wisdom of life in general yang simple tapi sangat mengena dan seringkali kita lewatkan padahal mereka sangat penting. Tapi dimasukkan ke dalam list ini karena sosok penulisnya Arianna Huffington sendiri yang merupakan 'wanita hebat' zaman ini. 
Seperti yang kita semua tahu, dia adalah pendiri surat kabar terkenal, Huffington Post, dan sekarang menjadi Board member di beberapa perusahaan besar, salah satunya Uber. Dia juga suka memberi inspirational talk di TED, termasuk tentang pentinganya tidur (I lover her ;p), haha. 
Sebenernya ada satu lagi buku dari pengarang wanita yang ingin saya baca, yaitu Lean in, tapi belum tercapai. Semoga segera ya.


Eat Pray Love (Elizabeth Gilbert)
Buku ini salah satu memoir favorit saya. Tentang Liz yang mencoba mencari makna kehidupan dengan travelling sendiri ke Italy, India, dan Indonesia (bali lebih tepatnya). Cerita Liz sangat menghibur bagi saya sekaligus berkesan karena jadi ikut merasakan mental struggle-nya Liz. Membaca kisah ini juga menginspirasi saya untuk travelling lebih banyak, hihi (yang sampai sekarang masih wacana).












Bonus :

Three Cups of Tea (Greg Mortenson & David Oliver Relin)

Buku ini sebenarnya bukan tentang wanita dan bukan juga ditulis oleh wanita. Buku ini menceritakan dengan Greg Mortenson, seorang nurse yang hobi mendaki gunung, dimana dia diselamatkan oleh penduduk lokal setelah terpisah dari rombongan pedakian K2 dalam keadaan sekarat dan bersumpah akan membalas jasa mereka dengan membangun sekolah di desa tersebut. Janji ini mengantar Greg pada kehidupan baru yang pada akhirnya membuat dia menjadi sosok pahlawan pendidikan di Pakistan dan daerah konflik lainnya. 
Saya memasukkan buku ini di list karena terkesan dengan filosofi bergeraknya Greg yang sangat menekankan pada pendidikan untuk para anak-anak perempuan di Pakistan di mana mereka tidak bisa mendapat fasilitas pendidikann yang sama seperti anak laki-laki. Perjuangan Greg ini berbuah berhasilnya anak-anak perempuan di desa yang melanjutkan sekolah hingga pendidikan tinggi, dan sebagian besar dari mereka kembali lagi ke desanya dan menjadi penggerak kesehatan di sana.
Saya juga terkesan banget dengan pemikiran Greg seperti yang saya kutip :

"Once you educate the boys, they tend to leave villages and go search for work in the cities. But the girls stay home, become leaders in the community, and pass on what they've learned. If you want to change a culture, to empower women, improve basic hygiene and healthcare, and fight high rates of infant mortality, the answer is to educate girls."

Ga salah sih kalau wanita disebut tiang negara. Praktisnya sama seperti apa yang Greg katakan diatas, bahwa betapa pentingnya pendidikan, untuk wanita juga :)

Friday, August 4, 2017

Pendapat tentang sukses dan struggle

Kalau ada orang bisa menghafal satu halaman Qur'an hanya dengan 10 menit dan ada orang yang baru bisa menghafal satu halaman Qur'an setelah 1 jam, mana yang lebih baik? Mana yang lebih banyak pahalanya?

Tergantung. Tapi kemungkinan besar orang yang butuh sejam lah yang berkesempatan mendapat pahala lebih banyak. Kenapa?

Karena satu jam yang dipakai untuk menghafal, full diisi oleh bacaan Qur'an. Dia akan mengulang-ulang ayat Qur'an yang mau dia hafalkan, dibaca lagi, dihafal lagi, diulang lagi hafalannya sampai selesai sudah satu halaman dia hafal semua.
Bukannya bisa menghafal cepat itu lebih baik? Belum tentu, bisa jadi dia bisa hafal satu halaman hanya dengan waktu sepuluh menit. Tapi ternyata sisa 50 menitnya dia pakai untuk main game yang ga ada faedahnya. 50 menitnya luput diisi oleh menghafal halaman selanjutnya, padahal dengan waktu sejam, dia bisa menambah hafalan 6 halaman.

Bisa dianalogikan ke kehidupan juga sih konsep ini. Ga selamanya orang yang suksesnya cepat itu lebih baik. Ada orang yang ga perlu struggle lama untuk mencapai mimpinya. Ada orang yang bisa cepet kaya, cepet nikah, cepet punya anak, cepet jadi professor. Tapi ada juga orang yang struggle banget, hidupnya penuh cobaan dan ujian, dan kayanya jauuuh banget dari kesenangan hidup. Siapa yang lebih baik hidupnya? Lebih berkah hidupnya?

Ya, tergantung.

Ketika orang bisa sukses dengan mudah, bisa memiliki pencapaian hidup dengan cepat, maka dia haru segera berpindah menuju pencapaian sebelumnya. Supaya ga banyak waktu sia-sia yang terbuang. Itu rezeki dia, dengan segala akselerasi dalam hidupnya, dia bisa memiliki banyak hal dan mencapai banyak hal dalam hidup. Tapi, kalau cepat sukses naun gampang terlena, waktunya habis untuk banyak kesia-siaan. Menikmati kemewahan hidupnya.
Sedangkan orang yang struggle dan tidak menyerah dengan tujuannya, maka kemungkinan besar hidupnya selalu diisi oleh attempt-attempt yang baik, selalu bersyukur, bersabar sambil menikmati proses menuju pencapaiannya. Bisa jadi dalam perjalanannya dia mendapat pelajaran hidup yang banyak, dikasi kesempatan untuk beramal yang banyak dulu, berdoa yang banyak, beribadah yang banyak, sehingga prosesnya selalu diisi oleh hal-hal yag bermanfaat.

So, that's okay kalo struggle. Ga perlu iri dengan keberhasilan orang, karena untungnya Allah nilai kita dari proses, bukan hanya dari hasil. But for some people out there who are lucky enough to achieve success quickly, segeralah berpindah mencari proyek kebaikan selanjutnya karena keerhasilan kadang emang melenakan.

Tuesday, July 4, 2017

Tujuan Hidup yang Butuh Ditata

Harusnya manusia ga bakal pernah kehilangan tujuan hidupnya. Tujuan manusia hidup di dunia itu apa? "Beribadah kepada Allah SWT." Selama kita masih percaya dengan pernyataan ini, harusnya manusia ga akan pernah kehilangan arah hidupnya. Beribadah itu konteksnya banyaak banget, dan opsi-opsi ibadah itu ga akan ada habisnya, mau kita setua renta apa pun. Mau kita sudah punya seluruh harta di dunia, pergi ke suluruh belahan dunia, sudah mencapai puncak karir, tapi kesempatan beribadah itu tidak akan pernah habis. Pada akhirnya, manusia memang dituntut untuk selalu bergerak dalam hidupnya. Bahan, ketika kita sudah abai dengan dunia, ga punya keinginan apa-apa, ga ingin bekerja, ga peduli dengan uang, tidak memiliki keluarga, toh selama kita masih bernafas, kita masih harus tetap sholat, puasa, dan zakat. Itu opsi ibadah yang paling minimal.

Ladang ibadah di dunia ini sangatlah luas, tak terhingga.

Tapi, dengan tujuan hidup 'beribadah kepada Allah' ini, kita tidak bisa membatasi diri sendiri, di dunia kecil hasil rekayasa kita sendiri, dengan obsesi yang ga berujung dan kadang lupa daratan. Karena ladang amal yang Allah tebar begitu luasnya, sehingga ga layak bagi kita untuk membangun agar batas sendiri. Merasa pagar yang kita bangun ini sudah benar dan paling baik. Dan mungkin itu yang sedang aku pelajari. Belajar menghancurkan pagar batas yang aku bangun sendiri di ladang yang begini luasnya.

Belajar menata hati, menata pikiran, menata prioritas. Semakin lama, semakin sadar, mugkin sekarang lagi kehilangan prioritas dan jadi disorientasi pikiran dan hati, mana pikiran dan mindset yang harus didahulukan. Kadang, menjadi begitu ambisius untuk 'beribadah kepada Allah', mengejar sesuatu di dunia, tapi pada akhirnya hal itu tak lebih kurang hanyalah hawa nafsu semata.
Sepertinya aku lupa pada konsep tawakkal setelah ikhtiar, di mana harus seimbang antara keduanya tanpa berat sebelah.

Akhir-akhir ini jadi susah membedakan mana impian yang murni ibadah, mana yang ternyata cuma hawa nafsu pribadi aja. Terkadang kita sangat menginginkan sesuatu hingga takut kehilangan, tapi pada akhirnya hal itu dicabut jauh dari diri kita, terkadang dengan cara yang menyakitkan. Mungkin kita menjadi sangat sedih, menangisi, meratapi, tapi bisa jadi kita tak sadar bahwa ambisi itu menjadi tumbuh menjadi racun dalam diri kita sendiri, yang bisa membutakan hati, menjauhkan kita dari prioritas yang hakiki, yaitu ibadah itu sendiri.

Makanya, perkataan "orang yang mengejar dunia akan mendapatkan dunia, tapi orang yang mengejar akhirat akan mendapat dunia dan akhirat" itu benar. Bukan berarti mengejar akhirat itu selesai dengan ibadah mahdhah atau ibadah ritual semata. Tapi dengan selalu melibatkan Allah, dengan selalu memprioritaskan ibadah dan percaya dengan ladang amal yang Allah sediakan buat kita membuat kita lebih ikhlas menjalani apa-apa yang menghadang dalam hidup.

Barakallah buat kita semua :)

Tuh, nis. Ini semua tuh materi mentoring yang udah kamu hafal, udah kamu sampaikan berkali-kali ke adik-adik. Tapi ternyata prakternya di dunia nyata, susahnya minta ampun :"

Wednesday, June 28, 2017

Trust me. tadi gue udah nulis post baru panjaaang banget, tapi gara-gara internet yang super ga jelas ini, tiba-tiba semua tulisan itu hilang entah kemana. Ga ada di draft, ga ada di list published post. Hilang ditelan bumi.

And I am totally not in mood to type down AGAIN all of previous writing, so here it is. Mengisi blog post baru dengan tulisan ga jelas. Semoga ada lagi niat buat nulis di blogs di sertai kondisi internet yang memadai.