Friday, December 18, 2015

Selamat 62 Tahun HMFT!




Tulisan in dipersembahkan buat... siapa aja yang mau baca, hehe. terkhusus buat anak-anak FT yang super kece pemuda-pemudi harapan bangsa :D

Sebenernya ini telat sehari, tapi masih bolehlah ya kalo mengucapkan

Happy 62th HMFT Anniversary!

Alhamdulillah himpunan tercinta udah memasuki usia 62 tahun, kalo dibandingkan dengan manusia, usia 62 tahun itu sudah lumayan uzur, udah pensiun bahkan. tapi HMFT tetep awet muda, insyaa Allah :) HMFT akan tetap 'diawetmudakan' (bahasa apa ini) oleh muda-mudi yang bersemangat, bermimpi besar, dan tak kenal lelah berjuang hingga titik darah penghabisan, wow!

Kenapa tiba-tiba nge-post tentang HMFT, padahal biasanya males banget bikin post di blog? Karena HMFT sangat layak untuk disayangi, dibanggakan dan disebaruaskan ke seluruh dunia. Spread the words! Jujur, udah mau empat tahun kuliah di FT, ga ada habis-habisnya bersyukur sama Allah SWT aku dipertemukan dengannya. Keilmuannya, dosen-dosennya, teman-temannya, semuanya bikin jatuh hati ♥ Pasti ada up and down selama belajar di sini, tapi "do what you love, and love what you do" itu sangat berperan dalam proses kuliah aku selama ini :)


Awalnya ga kebayang samsek, mau ngapain aja di FT, cuma tau Nanotechnology aja. Ternyata FT ga sesempit itu bahkan sangat luas sampe bingung :$ Mau jadi anak material bisa, bikin robot ga kalah jago sama elektro, master instrumentasi dan kontrol iya, mau kayak arsitek juga bisa.
Fisika Bangunan, keahlian yang aku pilih, itu bisa dibilang gabungan arsi-sipil-lingkungan, haha. meskipun ga bisa se-expert anak-anak yang kuliah di bidang bersangkutan :D

"Jadi FT belajar apa sih?" "Hmmm, apa ya? Belajar apa aja :')" haha.
Tapi beberapa minggu yang lalu, sepertinya aku sudah menemukan jawabannya :)



ITB Insight
Ini bukan sekedar acara, bukan sekedar event gede-gedean, apalagi pensi, tapi ini adalah mimpi, kerja keras, dan pembuktian dari anak-anak FT tentang apa itu FT, apa yang kami pelajari di FT, dan apa yang bisa kami lakukan untuk Indonesia!
Ga habis-habisnya bangga sama ITB Insight, terlebih semua anak FT yang jadi panitia yang mengikuti proses mewujudkan agenda ini. Aku mah cuma bantu-bantu kerjaan kecil aja, tapi membantu kerjaan kecil aja udah berasa banget euforia persiapan ITB Insight yang super wow. Salut sama para petinggi Insight!
Dan hari H, kami segenap panitia ga ada lelah-lelahnya melayani pengunjung, ngomong sampe berbusa-busa ngejelasin tentang lab, jaga wahana dengan antrian super panjang dengan sabar. Dan semua ini terbayar dengan antusiasme pengunjung, mukan berbinar anak-anak yang menikmati wahana sains, muka bahagia orang tua melihat anaknya gembira. Alhamdulillah ya Allah, semoga semangat kami, mimpi kami, untuk memandirikan masyarakat melalui teknolgi tersampaikan dengan baik :)
Setelah kembali ke kosan, dan merenungi apa yang udah sehari itu dapatkan, aku sadar bahwa ini loh yang disebut FT, ini loh yang kami pelajari, dan seperti ini loh kami dididik, untuk bermimpi tinggi dan mimpi itu akan dicapai dengan usaha besar tanpa kenal lelah dan mengeluh, dan kami, mahasiswa Fisik Teknik adalah yang akan memwujudkan semua mimpi besar kami :)

Semangat terus guys, we know that we can!

Vivat FT! Vivat FT! Vivat FT!

Sunday, September 27, 2015

A Tribute to You : Ust. Win Wirawan

Teruntuk seorang luar biasa dalam hidup saya, inspirasi pertama saya untuk membentangkan sayap lebih lebar, Ust. Win Wirawan. Sudah 23 hari berlalu sejak kepulangan Ustadz ke pangukuan-Nya dan saya rasa masih belum terlambat untuk menuliskan tentang Ustadz. Mimpi besarnya yang menginspirasi banyak orang, ketulusan dan keikhlasannya dalam dunia pendidikan, konsistensi beliau dalam memimpin, dan banyak lagi kebaikan beliau yang membuat orang-orang cinta padanya, termasuk saya :)

Nurul Fikri Boarding School adalah sekolah kesayangan saya. Sekolah hutan ini spesial, precious, dan tak terlupakan :) dan Ust. Win adalah sesosok yang mengisi banyak episode kehidupan saya di hutan ini. Menjadikan sekolah hutan dan pelosok ini menjadi sekolah bintang, itulah mimpi Ust, Win selama ini. Saya yakin, seluruh unsur yang ada di NFBS saat itu ikut mendoakan keinginan Ustadz....

Ust, Win, yang menjadi kepala sekolah SMP saat itu, adalah seorang yang sangat berkharisma, penuh semangat, dan sangat humble. Dia hafal nama-nama muridnya, menyapa mereka dengan ramah, memotivasi, menginspirasi, itulah yang selalu Ust. Win lakukan kepada kami. Salah satu episode yang tidak akan pernah saya lupa adalah saat saya pergi berangkat lomba cerdas-cermat MIPA ke Solo, sebuah SMS masuk ke handphone saya :

"Anisah, teruslah bersemangat dalam meraih prestasi dan cita-cita. You're one of my best student :)
 - R. Win Wirawan "

SMS singkat dari Ust. Win berhasil mencharge penuh semangat saya dan membuat saya lebih optimis menghadapi perlombaan saya setelahnya. Makasih, Ustadz :)


Teruntuk Ust. Win, tidak akan cukup kertas sebanyak apa pun untuk menuliskan kebaikan yang ada pada diri Ustadz. Saya hanya satu dari ratusan murid Ustadz yang telah ustadz didik, telah ustadz ayomi dan adanya saya disini sekarang, takkan pernah lepas dari jasa Ustadz :)

Terima kasih ustadz. Ustadz akan selalu menjadi kepala sekolah terbaik saya :)

Thursday, July 9, 2015

Cerita I’tikafku :)


Cerita I’tikafku :)



Alhamdulillah, udah masuk 10 hari terakhir Ramadhan aja J rasanya waktu berlalu sangat cepat, udah mau tingkat akhir kuliah aja ya (keinget diskusi panas di grup WA tentang decision making di tahun akhir ini, haha). Dan alhamdulillah dikasih semangat blogging lagi, hiatus bloggingnya ga nyampe setahun loh, yaa hampir lah ya :P Pardon me, haha.

10 hari terakhir Ramadhan tiba, maka masjid-masjid akan diramaikan dengan i’tikaf. Mendengar ceramah tarawih tadi di masjid Al-Kautsar Komplek Damkar Cilegon, tentang i’tikaf, bikin saya teringat cerita i’tikaf saya selama ini, jauh ke belakang (dan entah kenapa tiba-tiba jadi mellow).
Saya udah dibiasakan untuk beri’tikaf di masjid dari kecil, mungkin waktu masih SD, begitu pulang dari Jepang, ummi nampaknya sangat bersemangat melaksanakan i’tikaf di masjid. Seluruh anggota keluarga ‘diseret’ sama Ummi buat ikut i’tikaf di masjid. Jujur, dulu saya ga suka banget disuruh i’tikaf. Males. Tapi mau gimana lagi, kalau ga ikut nanti sahur kita gimana? Haha.

Ummi saya, jujur, kuat banget tekadnya untuk ikut i’tikaf di masjid. Pertama kali ikut i’tikaf di Indonesia, saya dan Shofi masih SD, Hilmi sama Azzam masih kecil banget, repot kalo mesti dibawa tidur ke masjid. Tapi ummi ga pantang menyerah. Ummi bawa bed cover yang besar dan empuk ke masjid supaya anak-anaknya masih bisa tidur nyaman meskipun bukan di kasur rumah. Makanan sahur pun Ummi persiapkan dengan sangat baik. Ummi membawa makanan sahur dari rumah dengan rantang termos supaya anak-anak tetep bisa makan sahur dengan nasi dan sop yang hangat meskipun makannya di pelataran masjid bukan di meja makan rumah. Membawa semua barang itu ke masjid? Wah, repot banget. Pertama kali dateng ke masjid, ada bapak-bapak nyeletuk “ini mau i’tikaf apa pindah rumah?”. Malu rasanya mendengar hal itu, tapi yaaa mau bagaimana lagi. Ummi kan ga bisa dilawan, haha :p

Dan seperti itu lah i’tikafku berlanjut tahun-tahun berikutnya. Bed cover dan bantal di masjid serta makanan sahur dari rantang selalu menemani hari-hari akhir Ramadhan kami. Namun, tiap tahunnya i’tikaf kami selalu berprogres. Seiring bertumbuhnya anak-anak Ummi, kami sudah tidak butuh lagi membawa bed cover. Anak-anak ummi udah bisa tidur dengan sajadah kok. Dua atau tiga tahun kebelakang ini pun Ummi sudah tidak perlu lagi bawa makanan hangat di rantang. Anak-anak ummi udah bisa makan sahur yang disediakan panitia i’tikaf meskipun nasinya sudah dingin dan lauknya tidak berkuah :) Kami sudah tumbuh besar rupanya, haha 

Namun, nampaknya progres bagus ini berjalan lambat pada diri saya :p sampai beberapa tahun terakhir, saya masih susaaaah banget diajak i’tikaf. Maleees banget, meskipun kaki melangkah ke masjid, tapi pikiran ngelindur kemana-mana. Kadang suka ngambek juga sampai-sampai ga mau bangun kalau dibangunkan untuk shalat tahajud. Pada akhirnya, saya cuma numpang pindah tidur dari kamar ke masjid. Kalau berhasil bangun tahajud pun, ga bisa sabar ikut shalat jama’ah yang baca suratnya super panjang. Pada akhirnya mager dan shalat tahajud sendiri di shaf belakang. Ckckck, emang anak rebel -_-“

Mungkin ini jalan pencerahan yang Allah berikan. Kilas balik kehidupan saya setahun belakang ini, memang banyak banget hal yang berubah. Kehidupan bagai berbalik seratus delapan puluh derajat. Bukan, ini bukan kehidupan kampus yang saya inginkan. Benar kata dosen agama saya, bahwa setidaknya setengah dari hal yang terjadi di dalam hidup kita itu tidak terencana. Tapi sedikit demi sedikit saya mulai memahami arti dari apa yang terjadi, apa yang saya miliki dan apa yang Allah ingin berikan. Teringat lagi dengan perkataan seorang teteh, bahwa kadang memang ada hal yang tidak usah kita pertanyakan alasannya karena maksud di balik itu semua akan terungkap pada akhirnya, cepat atau lambat.

Setelah apa-apa yang terjadi pada saya sampai saat ini, saya merasa begitu bersyukur, Ummi telah membiasakan saya dan adik-adik untuk beri’tikaf sejak kecil. Salah satu latihan kecil yang saya percaya akan jadi modal kehidupan saya nanti. Entah kenapa, tiba-tiba terasa begitu membahagiakan J mengutip Steve Jobs, it’s all about connecting the dots. 

haha, sekian. entah kenapa ngerasa childish banget setelah nulis ini. udah ceritanya childish, gaya bahasanya kekanak-kanakan pula --" haha. 

Wednesday, July 16, 2014

Faktor X : Doa Orang Tua

Entah kenapa jadi pengen nulis blog di tengah euforia pengumuman SBMPTN. Buat yang sudah dapet, Alhamdulillah. Buat yang belum beruntung, tenang, semua udah ada jalan terbaik masing-masing atas kuasa-Nya. :)

Sebelumnya, kita ucapin dulu ya selamat buat adik saya, Shofura, yang berhasil menaklukkan SBMPTN dan masuk Ilmu Psikologi Universitas Indonesia. Bangga banget deh :") Jujur, khawatir juga liat adik saya ini nyebrang total dari IPA ke IPS, les tiap hari, buat mengejar impiannya. Pada awalnya saya berpikir, "seriusan IPS, shof?" karena kalo saya ada di posisi itu, mungkin saya tidak akan berani ambil resiko belajar IPS dari awal -- Super salute lah buat anak ini.

Menjelang pengumuman, saya jadi ikut deg-degan. padahal ga ikut SBMPTN, dan alhamdulillaaah. Saat itu di rumah cuma bertiga, saya, Azzam, dan Shofi. trus kita bertiga heboh di kamar ummi-abi, liat web SBMPTN dengan tulisan 'Selamat Anda lolos seleksi bla bla bla....'. Teriak-teriak ga jelas, kayanya saya lebih seneng daripada yang diterima (dianya nangis terharu gitu) wkwkwk

Di momen itu, saya jadi kepikiran buat nulis ttg ini. tentang faktor x, yang ga pernah lepas dari kehidupan kita. di setiap kejadian yang kita alami. selalu dikatakan bahwa hasil harusnya sebanding dengan usaha. Orang sukses, berhasil di bisnis, di akademik, di kehidupannya pasti berusaha lebih keras daripada orang kebanyakan. tapi saya selalu percaya kalau dibalik semua yang kita alami, yang kita dapatkan, pasti ada faktor x, campur tangan Allah.

Dan faktor x yang selalu saya yakini adalah, salah satunya dan yang paling utama, Doa orang tua.

saya gak pernah ragu kalau saya yang sekarang adalah hasil dari doa orang tua saya. selama 20 tahun hidup di dunia ini, saya mendapatkan banyak hal, dan sebagian besar didapatkan dengan mudah sekali, berkat doa orang tua saya.

Alhamdulillah, selama ini saya selalu bisa bersekolah di tempat yang kata orang bagus (pada awalnya saya ga percaya, tapi saya telah merasakan kehebatan sekolah itu setelah saya lulus), kuliah di kampus yang kata orang 'terbaik bangsa'. dan semua hal itu begitu mulus, tanpa hambatan. bukannya mau sombong, tapi setiap saat saya selalu meyakini segala kemudahan yang saya dapatkan adalah karena doa orang tua saya.

Bukan berarti saya ga pernah gagal atau apa. saya juga pernah ditolak program beasiswa Jepang yang sangat sangat sangat saya inginkan (saking kecewanya, saya nangis kejer sampe bikin ortu panik, hehe), atau saya juga baru aja ditolak di program beasiswa yang saya apply dengan susah payah (huft). Tapi, hey, kalau dipikir-pikir lagi lebih banyak hal yang bisa kita syukuri daripada hal yang kita sesali kan?

begitu banyak hal baik yang terjadi pada saya, yang mungkin sebenernya saya pun tidak menginginkan hal itu terjadi, tapi hal itu terjadi. banyak hal yang saya inginkan tapi tidak terjadi. begitu banyak faktor x dalam hidup saya, di luar kendali saya, yang diam-diam menuntun saya menuju pelajaran hidup yang berarti. yang ingin Allah sampaikan pada saya, yang orang tua saya ridhai dan Allah ridhai.

-maaf, kalo agak ngelantur. 

Sunday, July 6, 2014

Inspirasi Kecil dari Anak-Anak

Alhamdulillah, kemarin dikasih kesempatan buat ngajar anak-anak binaan kang Ma'mun di PPI. karena pengajar-pengajar aslinya (yang notabene anak Mata' semua) lagi pada muker, saya yang emang nganggur ga jelas di Bandung diminta untuk mengganti ngajar hari itu. saya pun menerima dengan senang hati, karena rasanya udah lama banget ga ketemu dan belajar bareng anak-anak (mengingat kegabutan saya di Skhole).

ketika mengajar anak-anak, ada hal yang selalu saya tanyakan kepada mereka. "cita-cita"
saya selalu suka mendengar cita-cita dari anak-anak, saya sangat menikmati 'sensasi kecil' setelah mendengar mereka mengungkapkan cita-citanya. Anak-anak itu selalu berhasil memberikan inspirasi kepada saya.

"Cita-cita saya mau jadi pemain sepak bola"

"Dokter"

"Mau jadi ustadz"

"Cita-citanya jadi pebisnis properti"

"Pengen jadi wali kota Cianjur (asal kotanya)"

"Guru"

"Kalau kakak mau jadi apa?"

"hmmm... apa ya? mau jadi guru :)"

Melihat mereka mengatakan cita-citanya dengan lantang dan penuh percaya diri, selalu memberikan saya energi untuk bermimpi kembali. Setiap kali bertemu anak-anak adalah setiap kalinya saya mendapat inspirasi dan meraih energi untuk memandang hidup saya dengan lebih positif :)

Alhamdulillah...

Wednesday, July 2, 2014

Media mana yang harus kita percaya?

hmm.. saat ini, semua orang ramai sekali membicarakan Pilpres. Buka facebook, twitter, bahkan instagram (mungkin Path, karena saya ga main Path hehe), is all about Pilpres. Mulai dari yang serius mendukung salah satu kandidat, terang-terang menyatakan nomer 1, 2, 3, dst, sampai ke parodi-parodi yang hanya ditujukan untuk lucu-lucuan.
Pilpres tahun ini juga ga lepas dari black campaign, negative campaign, (apa itu lah istilahnya) yang isi beritanya melulu mencoba menjatuhkan salah satu kandidat yang menjadi saingan. Saya pribadi capek banget lah, ngikutin berita-berita yang mungkin awalnya menarik tapi ga jelas sumbernya dari mana dan lama-kelamanaan ga ada abisnya. *Helouu, plis stop jelek-jelekin orang dong* :p

untuk menjawab hal itu, kemarin, HMFT, himpunan saya tercinta, mengadakan kegiatan HMFT Memilih sebagai bentuk perhatiannya terhadap Pesta Demokrasi ini. Dan juga mencoba membuka wawasan kita tth Pemilu lebih luas. Tema acaranya kemarin adalah "Media dan Fenomena Politik Di Dalamnya".

Dalam diskusi itu, Pers Mahasiswa ITB memaparkan bahwa berdasarkan hasil survey menyatakan sebagian besar anak ITB lebih suka mencari berita pemilu dari media sosial dan online dengan alasan lebih praktis. *it's sooo true*
Namun, mas Adi dari AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) berkata, "Saya sangat kecewa mendengar hal ini. Anak ITB mecari berita dari media online karena lebih praktis? Kalo mau praktis, kalian gausah kuliah S1. Kuliah aja D3 cuma 3 tahun lulus dapet kerja. Lebih praktis kan?" *audiens ketawa tapi itu jleb banget* "Anak ITB yang jelas literasinya lebih banyak aja ga mau repot. Apalagi masyarakat nun jauh di sana, mereka dapet berita dari mana?"
Ada juga pemaparan dari Pak Suwandi, Dosen FIKOM Unpad, "Memang benar bahwa media sekarang menjadi sebuah industri yang bisa dikendalikan oleh para pemilik modal. Sebagian besar kita bahkan sudah tahu, media ini milik siapa, channel ini dibiayai siapa. Untuk apa? Ya, untuk menciptakan opini publik."
Dipaparkan juga tentang keprihatinan TVRI sebagai media penyiaran publik yang kalah pamor dibandig stasiun TV berbayar. padahal sebagai instansi milik pemerintah, TVRI ini punya cakuran penyiaran yang paling luas, yaitu 75 % wilayah Indonesia dapat dicapai oleh gelombang TVRI. tapi kenapa debat capres yang full itu ditayangkan di channel swasta, bukan TVRI? :"

Jadi, yang mana yang harus kita percaya?

Mas Adi ngasih alternatif, "Bacalah media cetak. Mau dia milik siapa pun, menjagokan yang mana pun, semua tulisan di media cetak itu terikat kode etik jurnalisktik. Berita apa pun yang dimuat di media cetak, dia harus memuat dari berbagai sudut pandang, tidak hanya satu. Berita yang dimuat di media cetak adalah berita yang sudah terverifikasi, didapat dari berbagai narasumber dan objektif-tidak memihak. Media cetak yang mana? Sebanyak-banyaknya."

Well, guys, pada akhirnya kita harus mengerti kalau di era modern ini justru kebenaran adalah suatu hal yang sulit didapatkan. Kepraktisan dan segala ke-instan-an ini cenderung membiaskan kita ke arah yang tak menentu. Bener kata para narasumber, mahasiswa jangan mau dapet enaknya aja, cari gampangnya aja. Justru kita yang paling tahu, informasi yang valid didapatkan dengan jalan yang panjang.

So, semangat mencari informasi kawan-kawan. Jangan mau diperdaya oleh berita-berita ga jelas. Ini semua untuk kebaikan kita juga. Kalau bukan kita yang menjadi cerdas untuk bangsa ini, siapa lagi?

Monday, June 23, 2014

Menjadi Introvert

suatu ketika nemu artikel yang bagus banget dari blognya mbak sepatumerah tentang Introvert.
kalau kita masu masuk organisasi atau kepanitiaan suka diminta tes kepribadian gitu kan, biasanya orang paling banyak pake MBTI dan itu cukup menggambarkan personality kita.

kalo gue sendiri suka dapet hasil yang berbeda-beda, kadang INFP atau INFJ, pernah juga sekali ISFP (wkwkwk, berapa kali ya gue tes MBTI), biasanya hasilnya ga jauh dari itu sih, mungkin kadang-kadang gue suka ga ngerti pertanyaannya jadi jawab ngasal trus dapet hasilnya juga berbeda-beda, hehe

tapi, yang pasti hasil gue ga bakal meleset dari huruf I dan F, I untuk Introverted dan F untuk Feeling. jadi emang gue sih udah fix orang yang introvert dan cenderung menggunakan perasaan ketika mengambil suatu keputusan. sebenernya gue juga udah cukup mengerti tentang diri gue sendiri yang lebih suka menyendiri dan cenderung perasa ini #hem

membaca artikelnya mbak sepatumerah berasa bisa mengenal diri gue sendiri lebih baik. ooh.. introvert tuh ternyata gini toh, mereka bukannya antisosial tapi energi mereka akan terkuras ketika bersosialisasi maka mereka selalu butuh waktu untuk men-charge dirinya agar siap kembali beraktivitas. dan gue juga baru tau kai perbandingan orang intrvert dan extrovert di dunia ini tuh 1 : 3. gue kira orang introvert ada banyak di dunia ini :p

jadi langsung aja cek artikel super-kecenya mbak sepatu merah yaa :

http://blog.sepatumerah.net/2014/04/introverts-jangan-dibecandain-d/

happy reading :)