Sunday, July 29, 2018

Dari Penjara sampai PNS (What I feel about recent issues)

A lot of things happened in a week. I mean, in this era of information flooding over us, impossible to avoid yourself from hearing issue, both in good and bad way. So, I just want to make a quick recap about what I feel about our world recently.

Pertama, soal episode Mata Najwa terbaru, Pura-Pura Penjara. Kalo belum nonton, gue saranin kalian tonton di channel yutub Mba Nana because it's mind-blowing. 
Gue udah liat kisi-kisinya dari ig Mba Nana, so I was like "wah, harus banget nonton ini" sehingga TV yang bisa default tersetel di tvN, untuk malam rabu kemarin sengaja dipindah ke trans7. Gue nonton acranya dari awal sampai akhir dengan perasaan nano-nano (wk, entah kenapa lagi suka kata ini karena pas banget menggambarkan hati gue yang gampang terombang-ambing (?)). Di satu sisi kasian, tapi inget kalo mereka tuh melakukan kejahatan pada negara, jadi gemes juga. Yang paling bikin elus dada adalah gap antara orang berduit dan orang ga punya bahkan terlihat juga di penjara. Ada yang kamarnya baguuus banget, dimodif kata kamar apartement aja (tapi versi mini) dan segala fasilitas pribadi kaya gadget yang mereka bawa sendiri. Dan ketika dibandingkan dengan kamar napi biasa, ya Allah jauh bangeeet. Parah banget, kaya ga layak dihuni manusia gitu, apalagi posisi kamar mandinya yang cuma bolongan doang PERSIS DISAMPING TEMPAT TIDURNYA. :"( #findingjustice
Jadi mempertanyakan disiplin petugas penjaranya sih ini mah. Penjara tuh dijaga oleh para pegawai teknis yang ga heran kalo mereka akan dengan mudah akan abai dengan peraturan jika ditawarkan uang, mungkin beberapa lembar saja? Integrity problem comes up here. Esensi penjara adalah mengambil kebebasan dari si penjahat. kalo kaya gini, kebebasan mana yang diambil? apa gue harus ikutan hashtag #2019gantirakyat? heheh. Menurut gue untuk orang yang butuh menumpahkan pemikirannya, bisa dikasih perpustakaan di penjara, tempat mereka bisa bekerja kalau memang dibutuhkan. Bukan dengan mengizinkan segala kebebasan mereka bertebaran di dalam sel penjara. Tapi kalo dipikir-pikir, penjara itu dioperasikan dengan uang negara, berarti semua orang yang ada didalam penjara tuh tanggungan negara. Semakin banyak penjahat yang dipenjara, berarti semakin banyak pengeluaran negara buat menyokong kehidupan para penjahat ini? Wait, jadi pusing.


Kedua, soal Mesut Özil yang keluar dari Timnas Jerman. Heboh juga nih diantara para fans Jerman dan akhirnya dibahas juga di video Mba Gitasav. Sedih juga sih dengan beberapa isu rasisme kaya gini. Ternyata masih banyak orang yang diperlakukan tak adil kaya gini. Dan bagusnya dia speak up, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk jadi pelajaran buat orang lain. 
Gue sendiri ga pernah ngalamin hal kaya gini. Eh, pernah deng dulu banget pas kecil. Lebih tepatnya dibully sih pas di Jepang dulu. Sebenernya yang jahat cuma satu anak aja, dia emang suka bilang gue 'gaijin' which means 'orang asing' dalam bahasa Jepang. Tapi klimaksnya adalah dia ngatain makan siang gue kaya 'kotoran' (karena ga semua menu makan siang dari sekolah bisa gue makan, jadi gue selalu bawa bekal masakan ummi dari rumah). Gue juga udah lupa kronologisnya gimana dan apa yang gue rasakan saat itu, tapi yang masih gue inget adalah akhirnya saat itu juga gue samper wali kelas gue (yang selalu makan bareng di kelas) dan gue lapor ke dia kalo makanan gue dikatain. Akhirnya guru gue marahin dia dan dia berhenti ngatain gue sejak saat itu. Yeah, it's important to stand up for yourself. Dan alhamdulillah, gue belum pernah mengalami hal tidak enak sampai sekarang (atau gue yang ga sadar, wkwk). Tapi menurut gue penting untuk punya that feeling of self worthiness, power to stand up for yourself, apalagi wanita ya.


Ketiga, tentang overheard gossip ringan di kantor tentang Konser Syahrini yang harga tiketnya 25 juta. WHAT. Sefenomenal Celine Dion aja ga nyampe 10 juta ga sih tiket konsernya. Entah kenapa, jadi emosi wkwkwk (ya Allah nis ga penting banget ya). Ya ampun, tapi ga penting banget ya ngurusin orang gini. Biarin lah mereka mau ngapain dan bikin sensasi apa, yang penting ga ganggu hidup gue aja, daripada bikin cape hati.


Terakhir, dari hasil ngobrol sama Masi dari antah berantah sana (engga deng, dia lagi jadi PM di Konawe sana). Tentang budaya hidup orang disana. Yang gurunya ga ada komitmen ngajar, padahal udah PNS dan digaji pemerintah. Yang PNS-nya masuk jam 9 dan pulang sebelum siang (?). Trus kegiatan mereka apa dong, "Yaa, cuma duduk-duduk nongkrong, kumpul di rumah yang ada TV-nya. Ngopi-ngopi, ngobrol. Trus dateng ke pesta tiap ada hajatan." Wow. "Trus mereka ga ada motivasi untuk bekerja, melakukan sesuatu gitu?" "Iya, ga ada kali ya. Tempo kehidupannya tuh santai banget" *kemudian speehless*
Di satu sisi, ide tentang kehidupan yang dimiliki orang-orang yang tinggal di daerah itu (terutama desa, kampung, or whatever you call it) sederhana banget. Mereka tuh sudah senang dan puas hanya dengan duduk-duduk, bersantai, kumpul dengan keluarga, teman, dan seterusnya. Mereka juga bukan tipe rakus, haus harta tahta, karena... yaa... kurang ambisi. dan semua yang mereka butuhkan tersedia dan terbeli.
Tapi itu juga membuat mereka kurang ambisius (in a good way) yang motivate mereka untuk bekerja (paling sederhana) dan berkontribusi untuk masyarakat, melayani kebutuhan orang lain. Wajar kalau pendidikan masih terbelakang, karena bisa baca gajadi prioritas buat mereka, yang penting anaknya mau bisa berkebun. Mentalitas seperti itu ya yang kurang (apa gue harus tambahin #2019gantirakyat lagi? hehe). Setelah denger cerita Masi, jadi ngerasa banget sih kalo pada akhirnya kita ga heran di daerah tuh susah majunya, karena mindsetnya aja belum ada. Mau sebagus apapun kebijakan pemerintah, tapi ga ada orang yang menjalankannya. Dan kebayang bedanya dengan Jakarta yang mostly orang yang punya determinasi dalam berkarir dan berkontribusi.
Berarti sebenernya program pemerintah tentang Revolusi Mental tuh bagus banget, kalo emang beneran direalisasikan sampai ke akar-akarnya. Susah ya.... jadi presiden Indonesia :"(
Dan hal kaya gini baru kerasa kalo kita beneran tinggal di daerah, yang faktanya jarang ada orang yang mau 'mengorbankan dirinya' memperbaiki daerah karena anak muda zaman sekarang justru berbondong-bondong ingin tinggal di ibu kota *tunjuk diri sendiri*. Susah yaaa...jadi gubernur di Indonesia. Berarti betapa mulianya kepala daerah yang emang punya niat baik untuk membawa perubahan bagi daerahnya. Makanya pilih orang baik ya, jangan golput :")


Oke, sekian dulu racauannya karena lagi butuh ngerapihin otak. dan sekarang gue butuh tidur karena besok mulai agenda pagi :") bye!


Tuesday, July 24, 2018

Nano-nano,

Kadang ingin berjuang untuk masa depan, kerja keras, punya goal yang SMART (wk)

Kadang ingin menikmati momen 'sekarang', tanpa peduli harta, kedudukan (?) toh ga akan kita bawa mati juga

In the end, kalau dipikir-pikir, semuanya tentang membawa kemaslahatan, kebermanfaatan, apapun pont of view yang dia ambil dalam hidupnya.

Maka, akan ada orang yang terlihat begitu 'pasrah', cukup dengan apa yang ia punya, kadang terlihat seolah tidak peduli harta dan tahta. Hidupnya mengalir seperti air.

Pula akan ada orang yang terlihat begitu berjuang, bekerja keras, atau sering kita bilang 'ambisius'. Prestasinya yang tak habis-habis, selalu berusaha menjadi number 1.


Tapi tak apalah, ga ada yang salah maupun benar,karena pada akhirnya yang dilihat adalah amalnya dan apa yang telah dia berikan untuk dunia.

Wednesday, June 27, 2018

Get Inspired: TED talk, time management and your personality




Honestly speaking, my youtube playlist isn't a pretty one. Aktivitas yutub saya kebanyakan buat dengerin lagu, nonton klip drama korea or jepang (karena terlalu malas untuk nonton full episode-nya) dan tontonan hiburan-hiburan lainnya. 
Tpi yutub masih baik sama saya dan keluarlah video diatas (TED Talk - Inside the mind of a master proscrastinator by Tim Urban) dengan tag Recommended for you (well, how do youtube knows that?!), tergeraklah jari saya untuk mengklik video ini tanpa banyak mikir. Waktu itu jam kantor udah selesai tapi tertahan di ruangan karena hujan deras, akhirnya memutuskan untuk menunggu reda sambil mencoba menghabiskan kuota youtube yang masih seabreg.

Saya termasuk yang senang menonton TED talk karena inspiratif dengan topik yang menarik dan relatable dengan lehidupan sehari-hari. Juga pembicara di TED biasanya adalah para pakar yang memang bicara dengan data dan fakta sehingga lumayan persuasif dan memuaskan untuk saya pribadi yang ga mudah percayaan orangnya, hehe. 

Selama menonton video ini, saya hanya bisa tersenyum miris, realizing how relatable those things to mine, the money and panic attack monster (saya saranin, kalian nonton dulu ya talknya. ga panjang dan cukup menghibur kok).

Then, that so called "panic attack monster" menyerang dan saya langsung "waduh, gawat" and then I came across this video



How to gain control of your free time by Laura Vanderkam. Very classic yet often forgotten (and maybe neglected) life advice you have received. There is no such thing as "I don't have time, I am busy", set your priority and time will find you.

As a treat, saya juga memutuskan untuk menonton TED talk lain yang topiknya cukup menarik tentang personality.




Personally, suka banget pembawaan Bapak ini, tipe professor yang mengayomi murid-muridnya dan terlihat dari pembawaannya kalau dia passion dengan apa yang dia lakukan. Hal yang megena banget dalam TED talk ini adalah bagian:

"Don't ask people what is their type (of personality), but ask them what is their core project in life".

This. 
Saya termasuk yang menyenangi dan juga menjadikan referensi segala tipe-tipe personality, murni karea mereka menarik untuk dipelajari dan membantu kita memahami karakter orang lain (juga diri sendiri) dengan lebih baik. 
Tapi di satu sisi, saya juga tidak setuju dan tidak suka menjadikan tipe-tipe tersebut sebagai hal yang baku dan definitive, membuatnya jadi standar baku dalam menggambarkan sikap seseorang. Kadang ada aja orang yang menjadi tipe kepribadian sebagai pembenaran dalam sikapnya, "gue kan tipenya ini, makanya harus kaya gini". Hmmm.
Saya percaya manusia adalah makhluk yang berkembang, not just physically but also mentally and brainly (ga tau sih ada kata ini apa engga). Sehingga manusia itu jauh lebih pintar dan bisa punya kepribadian yang variatif daripada sekedar 16 tipe kepribadian, dll.

Maka, kembali lagi ke talk Pak Brian Little di atas, bahwa tidak sebaiknya kita mendefinisikan orang dengan tipe kepribadian mereka, tapi dengan apa yang mereka perjuangkan dalam hidup sehingga dari sana kita bisa liat seperti apa orang ini menyikapi hidupnya dan bagaimana dia menghadapi masalah.

Well.

Sekian dulu ya. 
And another thing I realise is,
I really need to reduce watching youtube :"

Thursday, June 21, 2018

Happy Eid 1439 H!

Semuanya, selamat Idhul Fitri 1439H! Mohon maaf lahir batin atas semua kata-kata, tingkah laku ataupun tulisan dalan blog ini yang tidak berkenan. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang leih baik setelah 'pesantren' Ramadhan tahun ini dan bisa dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan :) Amiiin.

Well, mau cerita tentang lebaran sedikit. Karena sadar udah sebulan belum mampir lagi kesini (dan mungin siklusnya emang bulanan ya --") jadi mau menulis sebentar saja karena sebentar lagi jam tidur (yap, besok masih ngantor sehingga harus tidur jam 11 supaya besok ga ngantuk di kantor). Dan juga perlu tempat untuk 'pamer' foto-foto lebaran kemaren, wkwkw. Rada insecure kalo ngepost di instagram karena udah ga ada sense of privacy di IG, jadi agak burdensome aja kalo ngepost di sana, hehe.

Well, let's start. Jadi lebaran tahun ini (dan tiap tahun) hari pertama dihabiskan di Bandung, visit Uyut di Banjaran dan Keluarga Aki Bojongloa. Biasanya hari kedua di Bandung juga, gilirannya silaturahmi keluarga abi yang di bandung. Tapi tahun ini agak beda, dan kita langsung cus ke Depok di hari kedua. Alasannya adalah karena Keluarga Am Ade (adik Abi) yang berdomisili di Kapuas, Kalimantan, lagi pulang ke Depok sekeluarga setelah 7 tahun lamanya :o

Keluarga Bandung-Cimahi

Rutinitas setelah maaf-maafan: Foto time w/ timer!

Tim nunggu mobil menuju Banjaran

Keluarga Depok

Akhirnya anak nenek lengkap tahun ini.

Ketauan banget siapa aja yang tua

The girls!

Si adek kecil yang membesar

Satu-satunya keluarga yg gatau malu di silsilah rumah ini
Ketemu sanak saudara emang selalu menyenangkan dan emang momen banget untuk mempererat persaudaraan yang emang ketemunya jarang. Tapi hal yang lebih menyenangkan lagi adalah bisa spend more time bareng keluarga inti, yang notabene si adik-adik cowo ini sudah mulai besar (dan emang sudah besar) dan gamau ngomong kecuali sama gadgetnya. Kalau udah 'dipaksa' keluar rumah dengan minim wifi kaya gini, biasanya jadi bisa ngobrol sama mereka dan denger oppini-opini mereka. Disitu aku akan merasa, "wah, mereka udah besar banget ya. udah punya pemikiran sendiri. udah mulai milih jalan hidup sendiri. makin mandiri dan makin ga dengerin apa kata orang tua (wk)." Jadi, terharu :")


So, kapan ya family trip lagi?


Monday, May 21, 2018

Ramadhan Kantoran (2018)

Marhaban Ya Ramadhan :) Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya. Alhamdulillah, dipertemukan kembali dengan Ramadhan lagi tahun ini dengan kondisi yang sehat wal afiat tidak kurang satu apa pun. Semoga kita bisa meraih, menggali, menabung pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan ini dan menambah investasi kebaikan yang akan kita tuai untungnya nanti di akhirat nanti. Amiin.

So, ini adalah tahun pertama gue puasa sebagai karyawan kantoran. Beda? Beda banget. Sekarang gue ngerti kenapa semua orang bilang kangen Ramadhan di Bandung. Selain karena cuacanya lebih bersahabat di Bandung, tapi suasana di Bandung (terutama di kampus ya) itu sangat kondusif untuk kamu menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Apalagi dengan adanya oase bernama masjid Salman. Udah enak banget pokoknya. Mungkin untuk gue, selain Bandungnya, gue juga kangen puasa sebagai mahasiswa ataupun civitas kampus karena lu tuh ga begitu terikat oleh ruang dan waktu (#maksud?), dan bisa menyesuaikan ritme ibadah dengan jauh lebih leluasa. Tilawah di mushola bisa, mau tilawah di pojok selasar juga boleh banget, malah enak karena tertiup angin sepoi-sepoi dan lu ga bakal diganggu. Sholatnya ganti-ganti tempat dari mushola satu ke mushola lain bisa. Kalau bosan, bisa jalan-jalan juga sekitaran kampus. Waktunya juga bisa disesuaikan dengan jadwal kegiatan, karena lu ga harus bekerja straight 8 jam sehari. Jadi, paham kan maksud dari ga terikat ruang dan waktu? hehe

Nah, tahun ini pertama kali ngerasain puasa di kantor, adaptasi banget dan gue masih mencari cara banget supaya tetap nyaman beribadah. Apalagi kantor gue bukan yang terkondisikan untuk beribadah secara khusyu. Ga kaya kantor-kantor lain yang ada kajiannya, musholanya pun berukuran 2x3 sehingga seringkali sangat packed, penuh orang dan lu ga bisa lama-lama disana. Meja kerja juga  bukan tempat yang efektif untuk tilawah karena yaa, begitu deh, hehe. Sebenernya ada masjid di kampus samping kantor, tapi untuk orang kaya gue yang suka waswas dengan lautan manusia, bukan jadi opsi yang menyenangkan juga. Padahal 1/3 waktu gue dalam sehari dihabiskan di kantor dan sayang banget kalau ternyata gue ga bisa pake waktu sama sekali untuk nambah tilawah atau amalan yang lainnya.

Sampai sekarang, paling yang gue lakukan adalah, curi-curi waktu untuk dhuha dan nambah beberapa lembar di waktu itu. trus sebisa mungkin udan siap-siap sholat dari sebelum adzan, sehingga mushola masih sepi dan masih bisa punya space dan waktu untuk tilawah, karena kalo udah mulai berdatangan orang-orang, lu udah ga bisa ngapa-ngapain disana. Selama di meja, sebisa mungkin gue pake buat dengerin qur'an, loop ayat untuk nambah hafalan supaya nanti tinggal dilancarin aja begitu ketemu waktu untuk murajaah. Itu pun kalau ga tiba-tiba dipanggil, "Anisah!" hehehe

Yaa, begitulah. sejujurnya masih struggle untuk menyesuaikan diri dengan ritme Ramadhan di kantor. Mungkin kalian yang kebetulan lagi baca ini bisa ngasih ide atau berbagi pengalaman tentang ramadhan di kantor? I would appreciate it so much :)

Thursday, May 10, 2018

What to do about future talk.

Hi, there.

What for today? Lagi-lagi tentang masa depan. Karena si Shofu sedang nyusun skripsi dan bakal diwisuda dalam beberapa bulan kedepan (Aamiin), mau gamau pasti bahasannya sama ortu juga tentang next step yang mau dia ambil. Pas ditanya, "Gimana teh?" Hmmm, gimana ya, ga bisa jawab juga karena gue juga masih luntang-lantang gini, hehe. I just can say, "survive aja" wkwkwk.

After I gave a careful thought, ngomongin masa depan kan emang ga ada abisnya, sebuah misteri yang hanya Allah yang tahu. Kita manusia, lagi dan lagi, hanya bisa berusaha dan bertawakkal. Tapi sebelum usaha itu, tentu ada proses berpikir yang panjang (atau bisa jadi pendek) tentang apa yang mau diusahakan, bagaimana cara berusahanya dll. Dan yang pastinya proses berpikir itu juga suatu usaha.

Setelah mencicipi 2 tahun after graduation, beberapa hal yang bisa gue katakan; bahwa hidup masing-masing individu itu emang tidak lepas dari campur tangan Allah, jadi kita ga bisa nentuin nasib hidup kita sendiri. Ada rencana hidup yang kita susun tapi ada juga rencana hidup yang Allah susun untuk kita. Tinggal masalahnya adalah apakah yang kita rencanakan dan yang Allah rencanakan itu align atau engga? Kalau memang cocok, jalan hidup kamu ya memang disitu. Kamu susuri sesuai dengan rencana kamu dan insya Allah akan mudahkan karena Allah juga inginkan hal yang sama untuk kamu. Tapi kalau engga? Ya, Allah ga akan sampaikan kamu kesana dan amazingly He will show the other ways which are way better than your initial plan (atau seengganya kamu harus percaya 'dulu' kalau itu jalan yang terbaik karena bisa jadi hikmahnya ga langsung kelihatan dan Allah ingin surprise kamu nanti).

To deal with successful life as you planned them? Bersyukur terus menerus dan menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya. To deal with failure in your life plan? That's harder. Tapi sering ga sih denger, kalau ternyata hidup kita tidak sama dengan apa yang kita rencanakan, maka bersyukurlah karena berarti hidup kita akan berjalan dengan rencana Allah. Indah ga? Allah yang ngerencanain hidup kita :")

But for sure, kedua hal ini, baik yang sukses mewujudkan rencana maupun gagal dalam mewujudkan rencana, ga ada yang lebih baik ataupun lebih buruk kok. Meskipun di mata manusia pasti lebih disanjung, dilihat lebih keren dan lebih disenangi orang-orang yang sukses dalam mewujudkan mimpinya, tapi apalah arti segala pujian manusia dibandingkan dengan apa yang Allah liat pada diri kita.

Makanya Islam itu masyaa Allah adilnya, bahwa mulia atau tidaknya manusia itu dilihat dari takwanya, bukan dari kesuksesannya. Jika dia sukses, dia bersyukur, jika dia gagal, dia bersabar.

Jadi gimana nis? wkwkwk. Tak lepas dari semua surhatan panjang diatas, yang pasti gue juga berusaha untuk berusaha (maksudnya?!). Jadi ga berhenti untuk berusaha, membuat rencana lagi, berusaha lagi, menaklukkan ketakutan-ketakutan (yang sebenarnya duniawi) dan meningkatkan pasrah diri kepada Allah. That's all I can say and I can do for now. Insyaa Allah semua manusia akan ditemukan dengan jalan hidup terbaik yang telah Allah siapkan untuk mereka :)

Btw, menemukan artikel bagus hasil scroll linkedin (sekarang mainannya linkedin karena lebih banyak bacaan bermanfaat disana) dan artikel ini juga salah satu trigger gue menulis tulisan ini. Silakan disimak ya.

https://www.thriveglobal.com/stories/30391-oprah-s-brilliant-career-advice-for-20-somethings-is-a-master-class-in-emotional-intelligence?utm_source=Arianna&utm_medium=LinkedIn


Salam,
Anisah

Sunday, April 29, 2018

Singapore in 3D2N Part 2 : Itinerary

Here we come again, as I promised untuk menulis part 2 dari cerita perjalanan saya dan geng ke Singapore selama 3 hari 2 malam dengan murah meriah!

Part 1-nya bisa didapatkan di sini untuk tau segala pernak-pernik persiapan sebelum pergi Singapura.

Kali ini kita bahas tentang cara menyusun itinerary dan contoh itinerary yang saya buat ketika pergi ke Singapura lalu.


Sebenernya cara menyusun itinerary tuh ada banyaaaak dan bergantung dari cara orangnya. But I find my method quite helping, rather quick and easy to follow, so here we are!