Friday, February 24, 2017

Resolusi Si Penggemar Kucing

Kok judulnya gitu? Jadi gini ceritanya..

Saya punya adik mentor, sebut saja N. Anaknya suka semau sendiri, tapi yang pasti dia penggemar kucing. Ada satu kebiasaan dia yang bikin saya heran sekaligus kagum.

Setiap hari dia bawa sebotol makanan kucing ke kampus.

Waktu pertemuan perdana mentoring, di tengah-tengah pemberian materi, seperti biasa, ada satu kucing berseliweran. N langsung memanggil kucing itu, 'Waduh mau ngapain nih' sebagai anti-kucing, saya ogah banget ada kucing ikutan mentoring saya /-_-/ Ternyata N mengeluarkan sebuah botol dari dalam tasnya, "Sini, kamu laper ya" dan diberilah makan si kucing itu. Saya cuma bisa melongo. "Kamu tiap hari bawa itu?" "Iya kak" "Dikasih ke kucing mana?" "Mana aja kak, seketemu di jalan aja, hehe" "Habis ga tiap hari?" "Biasanya abis sih kak" "ooo (kemudian speechless)". Ketika itu cuma ada satu yang di kepala saya. Salut.

*****

Pertemuan mentoring awal tahun ini, saya buka dengan kegiatan menulis resolusi tahunan. Saya minta setiap mentee saya menulis hal-hal yang ingin mereka capai tahun ini di sebuah kertas. Semuanya asik menulis mimpi-mimpinya yang bisa mencapai satu kertas penuh. Tapi N selesai menulis lebih cepat dari yang lain. "Udah?" "Udah kak, aku ga nulis banyak sih hehe" "Liat dong". Lalu yang pertama dia tulis di kertas adalah

1. Jadi lebih baik sama kucing-kucing di kampus

/gulp/

*****

Mungkin untuk sebagian orang, resolusi ini terlihat lucu. Tapi saya cukup tertancap dengan kalimat ini, ugh, straight to the heart /apasih/ Saya langsung malu dengan resolusi saya, 'Berangkat S2 tahun ini' 'Dapet beasiswa' 'Bisa Qurban sendiri' dll, yaa mungkin terdengar bagus dan besar, tapi terdengar egois juga.

Mimpi besar selayaknya disupport dengan mimpi kecil, mendambakan hal besar dimulai dari memiliki hal-hal sederhana. Seberapa pun besarnya resolusi, apa gunanya kalau ternyata memperbaiki diri setiap hari, sedikit demi sedikit saja kita belum bisa, bahkan belum terpikirkan? Sesimpel N yang ingin makin baik sama kucing-kucing kampus, dia bikin small step untuk memperbaiki dirinya, untuk memberi manfaat buat orang lain (ups, makhluk lain maksudnya, hehe). Mungkin saya juga harus bikin resolusi simpel, 'Ga jajan kalau ga lapar' 'Lebih banyak senyum sama orang' gitu ya?

Orang-orang simpel tuh emang suka inspiratif ya :")

*****

Ya udah begitu aja ceritanya..
Plus bonus foto kucing makan dan botol makanan :)


Monday, January 9, 2017

Setelah masuk ke dalam proyek dosen ini dan menjalani kehidupan 'selayaknya' bekerja, entah pikiran jadi lebih tenang daripada masa 'menganggur' dulu.

Sebelumnya kerjaannya galau terus, browsing sana-sini, cari kerjaan yang bisa dilakukan sambil nunggu LoA dari kampus yang udah didaftar, galau (lagi) ga jelas. pokoknya pikirannya disibukkan dengan hal-hal pribadi yang mengganggu, bisa dibilang kekhawatiran yang berlebihan.

Begitu sudah punya hal yang dikerjakan, pikirannya jadi lebih fokus, kerjaan jadi lebih jelas, pikiran udah ga mondar-mandir kesana kemari lagi karena kita punya prioritas yang harus diselesaikan. jadi lebih tenang, istirahat juga lebih nikmati, dan kesendirian lebih dihargai.

Manusia memang harus bekerja, harus bermanfaat untuk orang lain, biar tidak disibukkan dengan urusan diri sendiri saja.

Jadi inget taujih ustadz tentang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu. 'Kalau kita tidak disibukkan dengan proyek-proyek kebaikan, maka pasti pikiran kita, kegiatan kita akan penuh dengan hal yang sia-sia'. :"(

Friday, January 6, 2017

Syukur di Malam Sabtu

Manusia yang bekerja Mon to Fri, 8 to 4 (atau 9 to 5) pasti ngerti banget betapa membahagiakannya malam sabtu, seperti malam ini. Begitu jam menunjuk angka 4 pada hari jumat, waah pikiran udah liar kemana-mana, malam ini tidur jam berapa, besok mau ngapain, lusa mau ngapain, mau nonton apa, baca apa :)

Saya bersyukur bisa jadi yang merasakan itu :) rasanya tak perlu susah payah untuk mencari pengalaman bahagia, cukup jam 4 di hari jumat sudah seperti terapi 'how to be happy', hehe

Seperti malam ini, bisa menghabiskan waktu ngoceh di blog, bukan nulis draft Job Safety Analysis seperti tadi malam. Dan bisa pergi tidur tanpa pikiran besok pagi harus mandi jam setengah 7 :")

Alhamdulillah, terlalu banyak hal yang bisa kita syukuri, seperi malam sabtu ini :)

Saturday, December 31, 2016

2016 was..

Tidak terasa sudah sampai di penghujung tahun lagi :)

meskipun ga punya ritual khusus menyambut tahun baru dan biasanya hanya menikmati kesendirian di kamar kosan seperti biasanya, tapi tetap tidak bisa dipungkiri malamini memang malam yang berbeda. tidak biasanya suara petasan dimana-mana, dari luar kamar terdengar tiupan-tiupan terompet yang mau tidak mau menyadarkan diri sendiri "wah, udah akhir tahun aja ya..."

sebenarnya malam ini sedikit berbeda dari malam-malam tahun baru sebelumnya karena tidak dilewati di rumah (biasanya malam tahun baruan di rumah sambil nonton TV). Tapi karena sekarang sudah bertekad menetap di bandung (dan keluarga yang malah mau visit Bandung), jadilah asik menjomblo di malam tahun baru, haha :) Wah, ternyata sudah dewasa ya, malam tahun baru tanpa orang tua :") apasih

sehinggaaa.... saya memutuskan untuk menulis, menyapa kembali blog yang udah usang ini dengan rekap singkat tentang hal-hal mengesankan dalam hidup 2016 saya ini :)

2016 saya dibuka dengan amanah Majelis Syuro Gamais (yang bikin kita semua jadi ahli 'syuro') dan magang di BPPT bagian konservasi energi. Kerja magang ini bener-bener spontan dan atas kemauan sendiri, ngurus surat sendiri, minta izin sendiri sampai rela libur minggu pertama kuliah karena magang ini. Akses magang ini didapat lewat jalur belakang (wkwk) karena kebetulan Abi kenal dengan salah satu bos di sana. Meskipun singkat (ga sampai sebulan) tapi saya mendapat gambaran tentang kerja PNS, terutama peneliti. Saya ga dapet uang saku atau keuntungan fisik apa pun, tapi sangat bersyukur saya memutuskan untuk magang di BPPT karena memperkuat pengetahuan tentang Fisika Bangunan dan teman-temannya.

Cerita setengah tahun pertama 2016 saya pasti tentang Tugas Akhir. Memulai dengan banyak kebingunan, ekspektasi tinggi, konsultasi tiada henti dengan pak Nugroho (sampai bapaknya bosan liat kita ._.) tapi setelah dijalani perlahan, alhamdulillah banyak kemudahan yang dikasih dalam menyelesaikan TA ini. Bisa dibilang tidak ada kendala yang berarti dan sangat menikmati proses pengerjaannya, semangat mencari literatur, baca puluhan paper tentang bangunan (padahal lebih banyak paper yang ga ada hubungannya sama TA, haha), diskusi panjang ini-itu dengan Inay, 6 bulan berkutat dengan TA ini berhasil membuata saya jatuh hati dengan dunia fisika bangunan dan menjadi aspirasi saya untuk kehidupan mendatang :)

Satu lagi hal besar yang terjadi dalam first-half 2016 saya adalah backpacking pertama sekeluarga ke Singapura ! Hal paling menyenangkan yang ga akan saya lupakan di tahun ini :) Perjalanan ini bener-bener terjadi seperti kejutan, mulai dari WA mendadak dari Ummi  "Teh, insyaa Allah berangkat ke singapura 17-19 Juli ya.." yang berhasil membuat saya :O bikin itenerary bareng mulai dari tujuan wisata, tpurist attraction mana saja yang mau dikunjungi, alur perjalanannya dan akomodasinya. Dari awal ummi udah bilang, "Kita ke Singapura bukan buat kuliner ya," sehingga makan kita di Singapur cuma indomie, McDonalds, dan KFC :") ga nginep di hotel fancy tapi cuma di satu kamar apartemen di Orchard yang disewa murah, commute kemana-mana dengan MRT dan jalan kaki cukup menguras tenaga dan sering kali menghasilkan pertengkaran kecil antara member keluarga. Tapi saya bener-bener bahagia diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan kali ini, selain karena Singapur yang emang ramah turis dan menyenangkan untuk dikunjungi, saya merasa didewasakan dengan trip kecil ini yang bisa bikin saya lebih dekat dengan adik-adik, menyadari bahwa keluarga memang harta tak ternilai yang harus kita syukuri :)

Setengah tahun terakhir 2016 saya menguji kesabaran dan kedewasaan saya dengan cukup dalam. Selesai kuliah berarti selesai sudah satu rangkaian perjalanan kehidupan, lalu sekarang mau kemana lagi? Bagi sebagian orang, pertanyaan ini terjawab dengan mudah, tapi saya termasuk yang struggle dalam mencari jawaban. Galau tanpa akhir, sudah bulat keputusan tapi ada kalanya meragu pada diri sendiri, sehingga sebagian besar waktu dihabiskan bertapa di kamar kosan :") Kisah sidang dan wisuda udah banyak diekspos di socmed, jadi sepertinya tidak perlu diceritakan disini ya :p
Setelah wisuda, saya mulai siap-siap untuk daftar universitas impian, urus dokumen, memperbaiki CV, meminta surat rekomendasi, dan membuat personal statement. Sebelum wisuda, kegiatan persiapan S2 saya hanya berkisar browsing, mencari informasi, nonton video-video tips dan trik, tapi ketika wisuda sudah lewat, saya sadar bahwa sekarang saya harus benar-benar 'memulai' semua hal itu dari nol dan itu cukup menguras energi, not physically but mentally.. Meski sampai baru berbuah satu LoA dan masih belum punya beasiswa, Insyaa Allah akan Allah pertemukan dengan jalan terbaik-Nya :)

Ohya satu lagi, di tahun 2016 ini officially jadi M.SG (a.k.a. Master Syuro Gamais) dan (akhirnya) resmi mengakhiri karir saya di Gamais :) hehe. Setelah 3 tahun non-stop wadah dakwah ini, antara lega dan sedih melepas amanah sudah melekat terlalu lama dalam diri saya. Proses regenerasinta cukup memakan waktu dan pikiran, tapi alhamdulillah bisa keluar nama pemimpin-pemimpin kebaikan baru di ITB ini. Barakallah semua :)

Melanjutkan judul yang terpotong, 2016 was incredible and memorable :) Sejujurnya terlalu banyak hal yang terjadi di satu tahun ini dan apa yang telah saya ketik di atas hanyalah satu fragmen kecil kehidupan setahun ini.

Menyambut 2017 yang hanya dalam hitungan menit, mari sapa dia dengan semangat baru dan proyek-proyek kebaikan baru :)

Tuesday, December 13, 2016

[Review] Tamasya ke Surga (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

sumber : rumah-muslim.com
Kemarin, akhirnya selesai baca buku tebal berbobot ini setelah beberapa minggu (pengangguran) berusaha sekuat tenaga buat terus konsisten baca buku ini dari awal sampai akhir :") And it is worth it!

Brief overview :
Sesuai dengan judulnya, buku ini mengajak kita bertamasya, mengenal lebih dekat surga. Apa saja isinya, seperti apa bentuknya, siapa saja di dalamnya, pokoknya complete introduction dari Jannah yang semua muslim dambakan. Buku ini terdiri dari 61 bab dan hampir semua isi halamannya adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang detail surga. Dan bener-bener literally everything, mulai dari definisi surga sampai luas pintu surga (hayo, pernah kepikiran ga?!). Mungkin kalau dijadikan buku yang lebih modern, judulnya akan menjadi 'A-Z tentang surga' :)

Kesan :
Aku pribadi beneran bertamasya setelah baca buku ini. Kadang terpana dengan deskripsi keindahan surga, ada kalanya juga menangis karena sedih inget dosa dan takut belum pantas jadi penghuni surga :") Recommended untuk dibaca siapa pun yang ngaku muslim. Jadi reminder banget, bahwa dunia ini kehidupan semerntara, jadi stop berharap mengejar kenikmatan disini dan berharapkah dibalas semuanya di surga, aamiin.

Special thanks to Atifah Rabbani yang ngasih buku spesial ini (setelah 'maksa' supaya ngasih aku buku, haha)

Saturday, December 3, 2016

A bad habit leads problems : Ketika buku membawa masalah...

Beberapa waktu yang lalu, sempet baca sebuah artikel di website (lupa baca dimana) bahwa ternyata wanita menghabiskan rata-rata 20% gajinya untuk membeli pakaian dan aksesorisnya. Wah, 20% tuh lumayan banyak juga loh. Kamu gajinya 2 juta ada, berarti 400 ribunya kamu pake pake buat beli baju ?! ckckck. Sebenernya teori itu ga berlaku buat saya karena alhamdulillah jarang punya obsesi berlebihan dalam berdandan atau berpakaian. Tapi masalahnya, saya punya obsesi lain yang serupa dengan kegilaan wanita terhadap fashio. Obsesi sama buku! (>.<)

Saya emang suka banget baca buku. Mungkin keturunan, karena ayah, ibu, adik-adik saya suka baca buku juga dan kebiasaan itu terus terpelihara sampai sekarang. Ditambah saya tipenya suka baca buku fisik, ga suka baca dari layar, yang membuat saya menjadi suka membeli buku juga. Tambah lagi, Bandung punya Gramedia, Togamas, Rumah Buku, Toko Buku Mufti, dan Tazkia yang bikin opsi 'window shopping' buku jadi lebih menarik (yg berakhir dengan purchase, ga cuma window shopping -_-). Makanya, udah 4 tahun ini ga heran kalo banyak momen-momen kalap buku yang berujung sedikit penyesalan. Bukan penyesalan karena beli buku, tapi penyesalan karena ga punya uang lagi di akhir bulan :"

Saya orangnya suka ga mikir kalo urusannya sama buku. Akses buku murah yang gampang di bandung bikin belanja makin kalap lagi, and it becomes my habit, a bad habit. Kalo liat buku murah (apalagi dalam event pameran buku), "Ayo, nis beli. Itu lagi murah banget, kapan lagi bisa beli buku murah." Akhirnya... ambil satu buku. Pindah stand lain, "Wah, ada buku ini! Diskon lagi! Mumpung nemu." ambil lagi satu... Tau-tau udah numpuk dan akhirnya harus diseleksi lagi karena ga mungkin bisa beli semuanya. Hal itu berlanjut terus sampai sekarang dan menjadi semakin prah akhir-akhir ini.

Bulan November kemarin, kalau dihitung-hitung ternyata hampir 400-500 ribu untuk belanja buku :o berakibat harus berhemat ketat di akhir bulan :") Kalo udah kaya gini, mau ga mau harus ngasih hukuman buat diri sendiri "No more books for next two months" karena sebenernya saya tau, saya ga sedewa itu untuk menghabiskan 7-8 buku yang udah dibeli dalam waktu satu bulan, apalagi mereka bukan buku-buku novel.

Dalam refleksi pribadi, akhirnya saya menyadari bahwa kebiasaan buruk kaya gini harus segera disembuhkan dan keluar dari jeratan obsesi ini, yang mungkin keliatan baik tapi sebenernya banyak bawa mudharat.

Thursday, November 24, 2016

Departure

source : themavehotel.com

D+33 since my graduation. Seems like everybody has gotten busy with their individual activities again. Back to normal.

Departure. Setelah menempuh penerbangan yang lama dalam maskapai kehidupan kampus, kita semua udah sampai di bandara tujuan. Dan kemudian manusia yg ada di dalamnya berbondong-bondong turun dan berjalan menuju pintu keluar yang berbeda-beda, sesuai dengan passport masing-masing. Ada yang langsung pindah ke penerbangan menuju tujuan selanjutnya, ada yang transit dulu sebentar menunggu penerbangan berikutnya, ada yang menuju loket untuk memilih dan membeli tiket lagi, ada pula yang hanya termenung duduk diam belum ada niat untuk menentukan tujuan berikutnya.

It's' okay, ga ada yang salah dengan semua itu. Dan perjalanan setiap orang memang seharusnya berbeda, it supposed to be. Mungkin orang yang sedang transit akan iri melihat orang yang segera melanjutkan penerbangannya, mereka tidak akan mati kebosanan karena menunggu. Bisa jadi orang yang langsung terbang lagi sebenarnya mereka masih ingin istirahat dulu, menyiapkan diri untuk penerbangan selanjutnya. Orang yang di loket masih kebingungan menentukan destinasi selanjutnya, dia akan bertanya kepada banyak orang sampai hatinya mantap untuk membeli tiket penerbangan lagi.

It's all part of process. Tak apa menunggu sebentar, tak apa bingung sebentar, boleh telat sedikit, yang penting pada akhirnya kita bangkit dari diam dan siap memasuki perjalanan selanjutnya. Meskipun kondisinya akan berbeda dari sebelumnya. Mungkin penerbangannya tidak senyaman yang sebelumnya, tidak sesuai dengan ekspektasi, mungkin akan berganti bandara beberapa kali atau bahkan berganti tujuan. Itu semua resiko yang harus dihadapi.

But it's okay, asalkan kita semua bergerak menuju tujuan masing-masing. Karena kita tidak bisa selamanya berada di bandara ;)