Monday, May 21, 2018

Ramadhan Kantoran (2018)

Marhaban Ya Ramadhan :) Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya. Alhamdulillah, dipertemukan kembali dengan Ramadhan lagi tahun ini dengan kondisi yang sehat wal afiat tidak kurang satu apa pun. Semoga kita bisa meraih, menggali, menabung pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan ini dan menambah investasi kebaikan yang akan kita tuai untungnya nanti di akhirat nanti. Amiin.

So, ini adalah tahun pertama gue puasa sebagai karyawan kantoran. Beda? Beda banget. Sekarang gue ngerti kenapa semua orang bilang kangen Ramadhan di Bandung. Selain karena cuacanya lebih bersahabat di Bandung, tapi suasana di Bandung (terutama di kampus ya) itu sangat kondusif untuk kamu menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Apalagi dengan adanya oase bernama masjid Salman. Udah enak banget pokoknya. Mungkin untuk gue, selain Bandungnya, gue juga kangen puasa sebagai mahasiswa ataupun civitas kampus karena lu tuh ga begitu terikat oleh ruang dan waktu (#maksud?), dan bisa menyesuaikan ritme ibadah dengan jauh lebih leluasa. Tilawah di mushola bisa, mau tilawah di pojok selasar juga boleh banget, malah enak karena tertiup angin sepoi-sepoi dan lu ga bakal diganggu. Sholatnya ganti-ganti tempat dari mushola satu ke mushola lain bisa. Kalau bosan, bisa jalan-jalan juga sekitaran kampus. Waktunya juga bisa disesuaikan dengan jadwal kegiatan, karena lu ga harus bekerja straight 8 jam sehari. Jadi, paham kan maksud dari ga terikat ruang dan waktu? hehe

Nah, tahun ini pertama kali ngerasain puasa di kantor, adaptasi banget dan gue masih mencari cara banget supaya tetap nyaman beribadah. Apalagi kantor gue bukan yang terkondisikan untuk beribadah secara khusyu. Ga kaya kantor-kantor lain yang ada kajiannya, musholanya pun berukuran 2x3 sehingga seringkali sangat packed, penuh orang dan lu ga bisa lama-lama disana. Meja kerja juga  bukan tempat yang efektif untuk tilawah karena yaa, begitu deh, hehe. Sebenernya ada masjid di kampus samping kantor, tapi untuk orang kaya gue yang suka waswas dengan lautan manusia, bukan jadi opsi yang menyenangkan juga. Padahal 1/3 waktu gue dalam sehari dihabiskan di kantor dan sayang banget kalau ternyata gue ga bisa pake waktu sama sekali untuk nambah tilawah atau amalan yang lainnya.

Sampai sekarang, paling yang gue lakukan adalah, curi-curi waktu untuk dhuha dan nambah beberapa lembar di waktu itu. trus sebisa mungkin udan siap-siap sholat dari sebelum adzan, sehingga mushola masih sepi dan masih bisa punya space dan waktu untuk tilawah, karena kalo udah mulai berdatangan orang-orang, lu udah ga bisa ngapa-ngapain disana. Selama di meja, sebisa mungkin gue pake buat dengerin qur'an, loop ayat untuk nambah hafalan supaya nanti tinggal dilancarin aja begitu ketemu waktu untuk murajaah. Itu pun kalau ga tiba-tiba dipanggil, "Anisah!" hehehe

Yaa, begitulah. sejujurnya masih struggle untuk menyesuaikan diri dengan ritme Ramadhan di kantor. Mungkin kalian yang kebetulan lagi baca ini bisa ngasih ide atau berbagi pengalaman tentang ramadhan di kantor? I would appreciate it so much :)

Thursday, May 10, 2018

What to do about future talk.

Hi, there.

What for today? Lagi-lagi tentang masa depan. Karena si Shofu sedang nyusun skripsi dan bakal diwisuda dalam beberapa bulan kedepan (Aamiin), mau gamau pasti bahasannya sama ortu juga tentang next step yang mau dia ambil. Pas ditanya, "Gimana teh?" Hmmm, gimana ya, ga bisa jawab juga karena gue juga masih luntang-lantang gini, hehe. I just can say, "survive aja" wkwkwk.

After I gave a careful thought, ngomongin masa depan kan emang ga ada abisnya, sebuah misteri yang hanya Allah yang tahu. Kita manusia, lagi dan lagi, hanya bisa berusaha dan bertawakkal. Tapi sebelum usaha itu, tentu ada proses berpikir yang panjang (atau bisa jadi pendek) tentang apa yang mau diusahakan, bagaimana cara berusahanya dll. Dan yang pastinya proses berpikir itu juga suatu usaha.

Setelah mencicipi 2 tahun after graduation, beberapa hal yang bisa gue katakan; bahwa hidup masing-masing individu itu emang tidak lepas dari campur tangan Allah, jadi kita ga bisa nentuin nasib hidup kita sendiri. Ada rencana hidup yang kita susun tapi ada juga rencana hidup yang Allah susun untuk kita. Tinggal masalahnya adalah apakah yang kita rencanakan dan yang Allah rencanakan itu align atau engga? Kalau memang cocok, jalan hidup kamu ya memang disitu. Kamu susuri sesuai dengan rencana kamu dan insya Allah akan mudahkan karena Allah juga inginkan hal yang sama untuk kamu. Tapi kalau engga? Ya, Allah ga akan sampaikan kamu kesana dan amazingly He will show the other ways which are way better than your initial plan (atau seengganya kamu harus percaya 'dulu' kalau itu jalan yang terbaik karena bisa jadi hikmahnya ga langsung kelihatan dan Allah ingin surprise kamu nanti).

To deal with successful life as you planned them? Bersyukur terus menerus dan menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya. To deal with failure in your life plan? That's harder. Tapi sering ga sih denger, kalau ternyata hidup kita tidak sama dengan apa yang kita rencanakan, maka bersyukurlah karena berarti hidup kita akan berjalan dengan rencana Allah. Indah ga? Allah yang ngerencanain hidup kita :")

But for sure, kedua hal ini, baik yang sukses mewujudkan rencana maupun gagal dalam mewujudkan rencana, ga ada yang lebih baik ataupun lebih buruk kok. Meskipun di mata manusia pasti lebih disanjung, dilihat lebih keren dan lebih disenangi orang-orang yang sukses dalam mewujudkan mimpinya, tapi apalah arti segala pujian manusia dibandingkan dengan apa yang Allah liat pada diri kita.

Makanya Islam itu masyaa Allah adilnya, bahwa mulia atau tidaknya manusia itu dilihat dari takwanya, bukan dari kesuksesannya. Jika dia sukses, dia bersyukur, jika dia gagal, dia bersabar.

Jadi gimana nis? wkwkwk. Tak lepas dari semua surhatan panjang diatas, yang pasti gue juga berusaha untuk berusaha (maksudnya?!). Jadi ga berhenti untuk berusaha, membuat rencana lagi, berusaha lagi, menaklukkan ketakutan-ketakutan (yang sebenarnya duniawi) dan meningkatkan pasrah diri kepada Allah. That's all I can say and I can do for now. Insyaa Allah semua manusia akan ditemukan dengan jalan hidup terbaik yang telah Allah siapkan untuk mereka :)

Btw, menemukan artikel bagus hasil scroll linkedin (sekarang mainannya linkedin karena lebih banyak bacaan bermanfaat disana) dan artikel ini juga salah satu trigger gue menulis tulisan ini. Silakan disimak ya.

https://www.thriveglobal.com/stories/30391-oprah-s-brilliant-career-advice-for-20-somethings-is-a-master-class-in-emotional-intelligence?utm_source=Arianna&utm_medium=LinkedIn


Salam,
Anisah

Sunday, April 29, 2018

Singapore in 3D2N Part 2 : Itinerary

Here we come again, as I promised untuk menulis part 2 dari cerita perjalanan saya dan geng ke Singapore selama 3 hari 2 malam dengan murah meriah!

Part 1-nya bisa didapatkan di sini untuk tau segala pernak-pernik persiapan sebelum pergi Singapura.

Kali ini kita bahas tentang cara menyusun itinerary dan contoh itinerary yang saya buat ketika pergi ke Singapura lalu.


Sebenernya cara menyusun itinerary tuh ada banyaaaak dan bergantung dari cara orangnya. But I find my method quite helping, rather quick and easy to follow, so here we are!

Saturday, March 31, 2018

Jalan-jalan (mukhayyam) ke Singapura: Part 1 Akomodasi, transportasi, dan persiapan

Sudah lewat 3 buan setelah posting terakhir di blog ini, haha. Well, ketika ingin menulis panjang tapi gamau di diary karena nanti tangannya pegel, toh saya akan balik juga ke halaman ini :") maafkan kemalasan diriku ini, nak (minta maaf ke blog). Tapi topik kali ini juga bukan sesuatu yang bisa saya tulis di diary juga, karena ini topik yang mau saya sharing ke orang-orang. Alhamdulillah, ANisah akhirya bikin post selain curhatan ga jelas:") (pardon me).

Okay, singkat cerita, saya dan geng ukhti-ukhti akhirnya berhasil memecahkan tembok kewacanaan untuk jalan-jalan dan terbang juga ke Singapura 17-20 Maret kemarin. Tema perjalanan kali ini adalah budget traveller, jadi segala hal dibuat seminim mungkin sehingga ga rugi banyak amat walaupun jalan-jalan ke luar negeri dan bisa belanja lebih banyak (emang dasar wanita).
Sebenarnya untuk saya ini kali keduanya ke Singapura, pertama kali pada Juli 2016 bersama keluarga. Itu kali pertamanya sekeluarga liburan ke luar negeri, dan judulnya masih budget travelling juga karena ibu saya yang super hebat dalam menghemat dan pergi ke luar negeri yang menjadi sebuah kemewahan bagi keluarga saya, sehingga liburannya juga bukan liburan yang 'nyaman banget' sebagaimana orang-orang lain kalau liburan ke Singapura.

Dan karena di dua kali perjalanan ke Singapura itu saya lumayan ngurus banyak hal tetang pernaik-pernik persiapannya, ada baiknya saya share tentang hal tersebut, biar pada tau sebenernya pergi Singapura itu se-simpel itu dan bisa dengan biaya yang sangat minim kok :) Mari kita mulai...

1. Terbang ke Singapura

Hal pertama yang pasti harus dilakukan adalah membeli tiket pesawat. Ini selalu jadi langkah realisasi yang pertama sih kalo emang niat mau liburan :") saya dan geng juga setelah wacana sekian lama akhirnya nekat beli tiket supaya beneran niat menyiapkan diri ke Singapura.

Kapan waktu paling enak ke Singapura? Jawabannya, googling aja (you don't say nis)

Sebenernya Singapura dan negara ASEAN lainnya kan seperti Indonesia ya, ga ada musimnya paling cuma musim kemarau dan hujan. Sehingga bisa kapan aja ke Singapura, tapi tetep perhatiin cuaca karena ketika saya kesana bulan Juli, sempet hujan besar dan bikin ga bisa jalan-jalan.

Untuk durasinya, orang paling senang ke Singapura pada weekend, untuk meminimalisir kemungkinan harus ambil cuti sebisa mungkin (untuk para buruh korporat seperti saya, hehe). Tapi hal ini membuat harga tiket saat mahal di waktu-waktu tersebut. Pinter ya emang orang marketingnya.

Jadi kalo diperhatikan, tiket ke Singapura itu menjadi mahal di JUMAT MALAM dan SABTU PAGI karena rata-rata orang pergi di jam segitu, sehingga bisa mulai jalan-jalan dari sabtu pagi hingga minggu. Begitu juga tiket pulangnya menjadi mahal di MINGGU MALAM atau SENIN PAGI, mungkin senin malan juga masih mahal tapi ga semahal dua waktu tadi. Mahal ini kalau buat saya 500 ribu ke atas itu udah mahal banget karena harga biasanya itu 300 ribu juga dapet, tentunya dengan maskapai LCC kaya Air Asia, Jetstar, Lion Air, dll.

Nah, karena budget lebih penting daripada cuti, akhirnya saya dang geng memutuskan untuk berangkat di waktu yang ga biasa, yaitu Sabtu Siang. Kita beli tiket di maskapai Jetstar yang lagi promo, sehingga dapatlah tiket murah, bulat 300 ribu include semuanya. Ohya, satu lagi, harga murah ini tentu comes with no facilities ya. Jadi kita ga dapet bagasi check-in (which means cuma boleh bawa bagasi kabin maksimal 7 kg), kursinya mepet-mepetan dan ga dapet makan (ya iyalah). Dan kalau mau nambah fasilitas bagasi, biasanya harus bayar lebih yang biasanya biayanya sama besar dengan harga tiketnya, hiks.

Waktu pergi sama keluarga juga pake Lion Air tapi di Jumat malam pakai Lion Air, yang berujung pada delay perkepanjangan (harusnya Jumat sore jadi Jumat malam jam 9) waktu itu lagi promo tapi ga semurah itu juga, karena yaa jam mainstream.

Untuk pulangnya, kami ambil waktu di Selasa malam, alhasil harus cuti 2 hari, tapi liburan maksimal di bela-belain lah :") karena belinya rada mepet (sebulan sebelum berangkat), jadi harganya ga semurah pas beli untuk berangkat tapi masih lumayan menurut saya, yaitu 431 ribu. Kami belinya lewat teteh-teteh agen gitu, yang ternyata pakai website www.airpaz.com, jadi mungkin bisa jadi alternatif juga selain traveloka atau skyscanner yang paling umum digunakan untuk mencari penerbangan.

Jadi, total biaya ke Singapura kira-kira 750 ribu pp/ orang. Lumayan kan?

2. Akomodasi di Singapura

Topik kedua dalam persiapan ke Singapura adalah 'mau tidur dimana?'. Karena Singapura sendiri emang sudah jadi tujuan wisata terkenal, jadi kita gampang banget kalau mau mencari penginapan. Saya sharing berdasarkan pengalaman pribadi aja ya.

Mungkin kalau saran pertama saya adalah, cari di Airbnb. Sekarang ini Airbnb jadi pilihan yang paling menguntungkan karena banyak banget yang menyediakan penginapan dengan fasilitas yang sangat memadai (biasanya satu apartemen) dan harga super duper miring sehingga bisa menekan budget seminim mungkin di penginapan. Tapi masalahnya Airbnb hanya menerima pembayaran dengan Kartu Kredit :"( Apalah kita, generasi buruh yang belum berdaya punya kartu kredit, huhu. Mungkin bisa bayar pake VCN atau debit online-nya BNI tapi belum pernah coba juga (kayanya sih ga bisa ya). Tapi yaa, seperti itulah keadaannya sehingga saya juga ga pernah pakai Airbnb di dua perjalanan saya ke Singapura.

Opsi-opsi lain yang pernah saya lakukan adalah:

a. Sewa kamar apartemen

Ini yang dilakukan ummi saya waktu liburan keluarga. Karena kalau di hostel akan terlalu 'menyedihkan' dan kalau di hotel menjadi terlalu mahal, sewa kamar apartemen banyak jadi pilihan orang dan ternyata di Singapura banyak yang seperti itu. Seperti Airbnb, yang menyewakan apartemen adalah orang pribadi yang punya unit apartemen tidak terpakai sehingga mereka sewakan ke orang lain, tapi bedanya ini pembayarannya bisa dengan cara transfer biasa.

Kamar yang kami sewa waktu itu adalah big size room yang muat untuk 6 orang dengan 3 buah kasur, dilengkapi TV, wifi dan kamar mandi di dalam. Sebenarnya ini udah pas banget, malah termasuk enak karena tempatnya nyaman, dan alhamdulillah dekat dengan stasiun MRT. Lebihnya lagi, di apartemennnya ada dapur, jadi ummi saya bisa masak mie instan buat sarapan biar ga beli makan lagi di luar, hehe. Ada mesin cuci dan jemuran juga, jadi udah cucok banget pokoknya. Tapi karena yang disewakan cuma kamar aja, dan di apartemen itu ada 3 kamar, jadi kami ketemu dengan tamu lain yang ikut sewa kamar juga. Tapi karena kamarnya berjauhan, sehinggan secara privasi juga oke (Y).

Mohon maaf karena ga ada fotonya, tapi semoga kebayang ya. Saya gatau ummi pake keyword apa pas mencari sewa apartement itu, tapi menurut saya lumayan worth trying, karena biayanya 2 juta permalan, dimana kami sewa 3 malam sehinggan total 6 juta untuk 6 orang selama 3 malam. Perorang jatuhnya cuma 1 juta untuk 3 malam. Lumayan :)

b. Menginap di hostel

Saya dan geng mau yang lebih murah lagi untuk penginapan sehingga jatuh lah pilihan ke hostel. Rombongan kami total ber 6 tapi 2 orang pulang duluan Senin malam, sehingga di malam ketiga tinggal ber 4. Nah, ini lumayan tantangan juga. Saya sebagai PJ akomodasi akhirnya memulai pencarian di dunia maya mengenai perhostelan di Singapura. Situs favorit saya adalah traveloka, agoda dan booking.com, tapi ujung-ujungnya pasti pakai traveloka karena agoda cuma terima kartu kredit dan booking.com biasanya bayar di tempat. Saya emang lebih nyaman pakai traveloka karena lebih user-friendly, informasi yang ditampilkan cukup, dan yang paling penting metode pembayarannya ada banyak pilihan. Saya juga prefer bayar di awal, bukan bayar di tempat, karena takut aja nanti kena banyak biaya tambahan yang ga disangka-sangka dan malah bikin panik. Mending bayar di awal dan beres semuanya :) Wkwk, jadi kaya ngiklan traveloka ya, but I truly love traveloka, thanks for coming to the world, hehe.

Back to topic tentang hostel. Pokoknya prioritas utama kita adalah low cost, high sufficient return. Yang penting murah tapi tetep nyaman buat jadi tempat singgah (halah). Jadi yang saya lakukan adalah search hotel di traveloka (6 people in one room), sort berdasarkan harga terendah, dan yang dimasukkan dalam pilihan adalah hostel-hostel yang punya bintang bagus atau review tinggi dan banyak, karena review banyak berarti udah banyak orang yang menginap disitu dan review bagus berati yang memang tempatnya bagus :)

Ohya, biasanya hostel itu modelnya dormitory with bunk bed (kalo yang pernah pesantren pasti tau), jadi model tempat tidur tingkat dan dikasih loker perorangnya. Satu kamar ini bisa macam-macam jumlah bunk bed. Paling minimal 3 bunk beds (utk 6 orang) hingga 12 bunk beds (utk 24 orang) atau mungkin lebih banyak lagi. Selain itu ada yang tipenya mixed (campur cewe-cowo), ada juga yang female only (jarang sih yang men only, tapi ada aja kadang). Kami pilih yang sekamar untuk 6 orang, jadi sekamar isinya kita semua supaya lebih bebas dan terjaga privasinya.

Untuk malah keduanya, kami ber 4 untuk memutuskan memesan di tempat lain, karena yang pasti mau yang murah dan (sok-sokan) cari pengalaman baru di hostel lain. Tapi karena cari kamar untuk 4 people only sangat susah, akhirnya kita sewa kasur di female only room yang harus berbagi dengan orang lain.

Pilihan kami untuk penginapan adalah Footprints Hotel (untuk malam pertama) dan Mori Hostel (untuk malam kedua), berikut review pribadi saya:

Footprints Hostel (Little India)


Hostel ini letaknya di daerah Little India dan dekat dengan 3 stasiun MRT, yaitu Rochor, Jalan Besar, dan Little Inda MRT. Tempatnya mudah ditemukan dan accessible banget ke MRT sehingga memudahkan kami yang bawa koper segaban :") Disini kami sewa satu kamar (karena mereka punya dormitory for 6 people, jadi pas deh diisi sama kami semua). Awalnya saya ga ekspektasi apa-apa sih sama hostel di Singapura. Yaa, namanya juga penginapan murah, pasti banyak ga sreg-nya. Tapi alhmadulillah Footprints ini menurut saya termasuk nyaman, bersih dan sangan mengakomodir kami. Karena kami sampainya pagi hari (malemnya tidur di bandara, bakal dibahas dipost yang lain ya) sedangkan check-in baru jam 2, staffnya mengizinan kami untuk titip barang dulu di lobby mereka (tapi yang pasti mereka tidak bertanggung jawab atas kehilangan) dan kami baru kembali untuk check-in setelah selesai jalan-jalan di malam harinya.

Ketika check-in, ada deposito dulu SG$ 20 tiap kunci untuk jaga-jaga dan setiap orangnya dapat seprei kasur dan bantal baru, jadi sifatnya sepreinya dipasang sendiri. Kamar yang kita sewa kira-kira seperti ini bentukannya.


Kamarnya sendiri memanjang dan sempit sih, jadi kalau mau sholat juga space-nya cuma muat buat satu orang. Ada AC dan kipas angin, tiap kasur ada lampu bacanya dan gantungan baju. Kamar mandinya shared. Ujian kami menginap di Footprints adalah kami kebagian kamar persis di depan kamar mandi cowo :") sempet was-was juga sih, tapi yaa karena kita ga keluar kamar selain ke kamar mandi dan mungkin karena cowo-cowo backpacker jarang mandi (?) jadi saya sendiri ga ada papasan sama cowo di depan kamar (alhamdulillah, hehe).

Kamar mandinya cukup bersih, yaa standar lah kalau kata saya mah. Yang pasti siap antri sama turis-turis lain karena cuma ada 3 shower per lantainya. Di sini, kami dapet sarapan juga. Menunya standar, sereal, susu, roti dan selainya. Ini juga sistemnya self-service jadi peralatan makannya harus dicuci sendiri setelahnya.

Breakfast area + pantry
Keesokan paginya, kita sarapan, siap-siap, dan check-out langsung tapi masih titip barang karena 2 orang harus pulang malamnya dan sisanya harus pindah hostel. Overall, saya suka sama hostel ini, suasananya nyaman, fasilitas juga oke. Oiya, harga kamar yang kami sewa itu IDR 954 ribu, bagi 6 orang berarti IDR 158 ribu perorangnya. Lumayan kan? kalau perginya sendiri atau sedikit orang, jatuhnya sewa kasur dan berbagi kamar sama orang lain. Harganya berkisar 160-200 ribu perkasu permalam, tergantung dari kapan kamu booking (semakin jauh hari semakin baik) dan juga tipe kamar yang kamu mau (biasanya female only lebih mahal dari mixed, dan semakin banyak jumlah orang perkamar, semakin murah).

Lebih lanjut tentang Footprints Hostel bisa liat di http://www.footprintshostel.com.sg . Mereka cukup responsif juga kok di FB!

Rating : 4/5

Lanjut ke hostel kedua kami, yaitu Mori Hostel (Little India).


Kenapa sih harus pindah hostel? yaa, sesimpel pengen dapet yang murah :") karena kalau lanjut di Footprints lagi, harga semalemnya jadi 200 ribu dan kita mau yang jauh lebih murah dari itu. Jadi, kita ber 4 yang tersisa memutuskan untuk pindah hostel, sekalian cari pengalaman baru juga. Pilihannya jatuh ke Mori Hostel yang emang murah banget, 126 ribu permalam perkasur untuk female only-nya. Kalau yang mixed, lebih murah lagi cuma 100 ribuan.

Ketika pertama kali kami check-in ke hostel ini, ternyata jauh bangat dari MRT station. Sebenernya kami udah tau dan udah antisipasi juga sih, tapi karena kelelahan setelah berjalan seharian, lebih berasa cape lagi pas perjalanan ke hostel ini. Dari stasiun terdekat kira-kira masih harus jalam 10-10 menit lagi supaya bisa sampai kesini. Dan satu lagi, hostel ini lobbynya sempit, ga seluas footprints, mesipun kita masih boleh titip barang di sana (tapi harus ditata banget supaya ga ganggu jalan). Jadi bangunanya semacam ruko kecil yang memanjang ke belakang gitu.

Begitu masuk kamar, alhamdulillah lumayan bagus :")




Lebih besar dari footprints dan lebih cozy juga sih. ada kaca besarnya juga (cukup esensial buat wanita, hehe). Ketika kita masuk, udah ada satu orang penghuni, Tru dari China dan sorenya masuk lagi Apshari dari Sri Lanka. Jadi full sekamar ber 6.

The shocking thing is, ternyata kamar mandinya mixed cewe-cowo, yaampun maaf guys tapi emang saya no idea banget kalo bakal ada juga hostel yang ga misahin kamar mandi cewe-cowo. Meskipun awalnya rada panik, yaudah dipaksa untuk tenang dan alhamdulillah emang ga ada happening apa-apa juga sih. Sarapannya juga sama kaya footprints, tapi serealnya lebih enak karena ada cornflake-nya (abaikan).

You can find out more about Mori Hostel on its website http://www.morihostel.com/index.php.

Rating: 3.8/5

Tapi jujurnya saya banyak dapet pelajaran dari menginap di Mori Hostel ini, apalagi setelah mencoba berbagi kamar dengan orang lain. Tips dari saya adalah:

  • Ketika traveling ramai bersama teman, lebih baik sewa kamar saja supaya bisa leluasa ngobrol, ketawa-tawa. Kalau kasus kita, karena pulang lagi ke hostelnya agak malam, ternyata lampu kamarnya udah dimatiin sama penghuni lain jadi gabisa ngobrol lebih lanjut. Alhasil cuma bersih-bersih dan langsung tidur juga
  • Kalau di Singapura, penting banget cari hostel yang dekat dengan MRT stasiun. Meskipun mori ini deket sama halte bus, tapi siapa pun yang pernah traveling di sana pasti tau kalo transportasi umum yang bakal kita andalkan paling utama adalah MRT. Jadi akses juga harus diperhatikan banget
  • Kadang kita suka sepele juga sih dalam memilih penginapan, karena tujuan utamanya kan jalan-jalannya, jadi penginapan dinomorsekiankan. Tapi bener kata ummi, kalau penginapan yang nyaman itu penting banget karena kita harus dapat istirahat yang cukup dan suasana yang enak sehingga bisa bugar kembali untuk aktivitas selanjutnya. Maka, jangan abai sama review-review dari orang dan pelajari juga fasilitasnya sebelum booking ya. Kalau punya spare uang yang lebih banyak, bagus juga kalau sewa kamar yang lebih nyaman. Treat yourself for your holiday, it won't hurt :)
Oh iya, booking dua hostel ini semuanya via traveloka yaa :) nanti pas check in tinggal tunjukin screenshot bukti bookingnya. Mereka udah biasa kok.

3. Transportasi di Singapura

Kalau sudah booking pesawat dan penginapan, insyaa Allah sudah 80% dari persiapan. Selanjutnya harus dipikirkan juga mobilisasi di sananya. Ada 2 pilihan, yaitu EZ-link atau Singapore Tourt Pass (STP).

EZ-link adalah kartu yang dapat dipakai untuk naik semua transportasi umum (MRT dan bus) yang sistemnya isi ulang di-tap di stasiun (MRT) atau sebelum masuk bus. Ini sistemnya kaya kartu multi trip aja, kalian pasti udah cukup familiar, dan bisa ditop-up kapan pun. Saldo dalam kartu EZ-link akan berkurang seiring dengan jumlah pemakaian kita.
Info: http://www.ezlink.com.sg

Sedangkan STP adalah all-day pass yang bisa digunakan untuk transportasi umum (kecuali sentosa express) dan bebas berapa pun pemakaiannya asalkan masih dalam jangka waktu sesuai pembeliannya. STP ini ada yang 1-day, 2-days dan 3-days dengan harga $10, S16, dan $20.
Info: http://thesingaporetouristpass.com.sg


Nah, mending beli yang mana? Ini disesuaikan dengan itinerary kalian. Kalau kalian dalam satu hari akan mendatangi banyak tujuan (misal 6-7 tujuan), pakai banyak MRT atau bus, maka lebih untung pakai STP. Tapi kalau ternyata itinerary kalian lebih santai, maka lebih hemat pakai EZ-link. FYI, tarif MRT rata-rata adalah $0.77 - $2 tergantung dari jarak tempuhnya, kalau kami sih rata-rata setiap perjalanan itu kesedot $1 (kami pakai EZ-link). Drawback-nya dari EZ-link adalah minimal isi ulang adalah $10, tapi nanti bisa direfund kok, meskipun $5 akan melayang untuk beli kartunya. Sedangkan kalau STP, kartunya harus dikembalikan ke counter resmi, jadi ga ada kenang-kenangannya :"

Untuk itinerary akan dibahas dipost selanjutnya ya. Doakan semoga ga kalah sama males :"(

4. Tiket atraksi di Singapura

Kalau kalian mau jalan-jalan kekinian di Singapura dan ada budgetnya, mungkin akan tertarik untuk coba wahana atau activities yang berbayar di Singapura. Ada cable car, Singapore Flyer, flower dome-nya Garden by the bay, ataupun yang mau masuk USS. Ada baiknya semua tiket atraksi itu dibeli dulu di Indonesia, karena sering kali harganya lebih murah (meskipun yaa paling beda sedikit) dan lebih tenang aja pas di sananya (anaknya lebih suka kalo well-prepared sih) hehe.

Buat yang mau beli, di traveloka juga bisa (that's why I love traveloka). Tapi ada juga website yang lebih menarik (dan kayanya lebih lengkap), yaitu https://www.klook.com. Mangga bisa dibrowsing kalau berminat.

5. Makan di Singapura

Makannya gimana ya? Apalagi yang muslim biasanya was-was tentang makan tiap traeling ke luar negeri. Kalau Singapura, udah relatif aman banget. Rata-rata Fast foodnya udah certified halal, kaya KFC, McD, Burger King, Texas Chicken. Dan banyak restoran muslim juga di bugis, little india. Kalau di Food Hawker, cari yang tulisan No Pork, No Lard ya, insyaa Allah itu halal.

Budgetnya sekali makan itu beragam, tapi biasanya dalam range $5-$10. Kalau yang fas food itu kisarannya $6-7 sih, tapi disana jarang yang punya paket nasi, rata-rata burger dan french fries. Tapi posri besar dan mengenyangkan banget kok, kami aja ampe kaget-kaget karena rasa ayam KFC-nya jauh lebih enak dari pada yang di Indonesia (wkwk, norak banget emang).

Well, that's it for now.. See you in Part 2 :)

Sunday, December 31, 2017

The Dawn of 2018

Okey, jadi sekarang sudah kurang dari 2 jam lagi menuju tahun baru, waktu yang sangat tepat untuk diisi dengan kegiatan pra-mengantuk dan biasanya di penghujung tahun, orang-orang akan menulis refleksi atau pun highlight hidupnya setahun, so here I am.

Blog ini memang sudah seperti tempat sampah pikiran aja ya, seenaknya nulis disini. Tapi lebih tempat sampah diary tulis sih, cuma lagi malas menulis manual sekarang.

Jika melihat 2017 kembali dari januari hingga sekarang, hmm, lumayan banyak ya yang terjadi. But mostly wasn't about me. Well, saya bekerja untuk pertama kalinya sebagai asistem proyek untuk waktu yang lumayan lama, 8 bulan. dari sana dapet kesempatan bolak-balik Bontang, stay di sana kurang lebih 1 bulan, dan dapet banyak pengalaman dan gambaran tentang life as an engineer, apa yang akan saya hadapi dan skill apa saja yang harus saya punya. I owe much to Pak Augie, Prof Yul, dan Pak Tua for this. Dan juga jajaran alumni TF di Badak NGL, terima kasih banyak atas kesempatannya. Lalu karena rencana masa depan yang masih buram (yang curhatannya lumayan banyak ya di blog ini wkwk), akhirnya saya memutuskan untuk pindah bekerja tetap sebagai karyawan swasta, yang saya masih jalani hingga sekarang, dan kali ini bener-bener ngerasain gimana the real work life is. It definitely have pro and cons for my future plan, but I decided to take it slow and give more careful thought on this. So, it is quite interesting way to go. Udah komitmen sih, seenggaknya satu tahun mau kerja dulu to gain some new skills, karena sebenernya apa yang aku kerjakan di kantor sangatlah berbeda dari yang dipelajari dan pernah aku kerjakan. Jadi, setidaknya aku harus punya skill baru yang berguna, seperti skill komunikasi yang baik dengan klien, skill negosiasi dan some new knowledge on project management. Then, I think I will be confident enough to decide my next move for further career path.

Paling yang bisa diceritakan tentang diri sendiri yaa cukup sekian yaa. bagi-bagi sama post-post sebelumnya dan apa yang tertulis di dalam buku diary, juga bagi-bagi dengan post di instagram, goodreads, hmm, mungkin dua itu yang masih dijamahi ya. Ohya, sadly, reading challenge di goodreads tidak terpenuhi per hari ini, yang targetnya 30 buku per 2017, hanya berhasil menyelesaikan 28 buku. Tinggal dua lagi, hiks. But I wrote many reviews this year, glad that it can be my portofolio of book, thing I love so much. Pencapaian baru adalah akhirnya Anisah qurban sendiri guys. Ya Allah, kenapa baru sekarang, hiks. dulu pas kuliah tuh kayanya berat banget ngelepas uang 2,5 juta aja, tapi alhamdulillah sekarang diberi kelapangan rezeki jadi bisa kurban. Insyaa Allah doakan semoga bisa jadi kebiasaan ya.

The other point is 2017 was much about my good friends and family. Banyak sahabat terdekat yang punya momen istimewa di tahun 2017 ini dan alhamdulillah bisa jadi saksi peristiwa bahagia tersebut. Fiftythree's yang akhirnya semuanya berhasil wisuda, yey!! dan yang paling penting para bidadari jiwa yang menggenapkan setengah agamanya. Dibuka dari Arina, Atifah, Upah, Iin, dan Faizah yang semuanya (kecuali faizah, huhu), Allah kasih kesempatan ke saya untuk jadi mendampingi hari besar mereka dari tempat yang lebih dekat. Wah, kalo dipikir-pikir ga percaya deh semuanya terjadi di 2017 :") What a year ya. Sekarang bahkan 3 dari mereka udah bersiap menyambut manusia baru dalam kehidupannya, uhuhuhu so happy :) Ohya, 2017 juga tahun kehidupan baru buat Hilmi yang jadi anak kuliah dan Azzam yang jadi anak SMA. Udah gede banget ya sekarang :"( brb inget umur.

For me personally, 2017 was my inner-battle with my dream, emotion, and reality. Banyak dikasih pelajaran kehidupan dan merasa makin 'dewasa' (yang bisa jadi positif atau negatif) dalam kehidupan sehari-hari, dalam menghadapi masalah dan memandang hidup. What is it, Nis? Well, unfortunately it won't ever come out, from my mouth or in the writing because it is inside you and you have to experience it yourself, wehehehe. Rada nge-sok gini tapi mungkin menjadi dewasa itu memang seperti itu ya. You stand on your own and have a firm principle. Suatu proses yang ga bisa diganggu oleh orang lain.

Ya sudah, saya mulai meracau ga jelas kaya gini, mungkin sebaiknya diakhiri yang tulisan ini.
2018, I am ready insyaa Allah :)

Sunday, December 10, 2017

A bite of self-reflection

I enjoyed solo-travelling, when it just a short distance like Jakarta-Bandung vice versa or slightly farther, especially using train. Well, Jakarta-Bandung is already like my monthly routine, but I also like it when I have to do some business trip to another province using airplane, mostly alone and I always ask for seat beside the window when I check-in. I love the time when I can dozed off beside the window of train or airplane, looking outside, enjoying the scenery. So, enjoyable me-time that hardly you got when you enter eight-to-five-working-and-staying-all-day-at-office life. I even purposely ask for L**n Airline for my flight to the purchasing officer when I know that the flight will have 99.99% possibility of delay, so that I can have enough time to catch up on my book. Kind of silly, but I really cherish those time, I really need that.

Well, that's not my point actually. As I said, I enjoy sitting beside the window, particularly observing people throughout the journey. What interest me the most is when I see the officers watching the train or airplane take off. Every time a train passing a station, there always will be an officer or two (usually the head of station and the security) that stands by and observe the whole train, and I will watch them instead. I don't know why every station do that, but I think the purpose is to check the train operation, whether the train is running smoothly or they came in time and maybe they will have to report every train that pass through their station. Quite a work :") I mean, how many train will pas in a day and they have to go out every time, checking those trains. My latest trip to Bandung was yesterday and I find myself looking at them again and again every time my train passing a station. And suddenly I feel a little bit emotional, because I realized how my trip is supported by many people, even they are someone i don't know. It was just simple as a train that going on a long rail to reach the destination, but how many people are there to make it happen, in a single simple trip as Jakarta-Bandung train.
It also happen when I take a flight. Every time a airplane will take off, there will be a bunch of people outside, near the take off route, waving at the airplane as if they are letting go the airplane and wishing for their safety during the flight. It was pretty touching because I realized to make one flight happen, there are so many people behind the scene supporting it. Not only the pilot and the flight attendants, but there are also the technicians, the porters, the security officers, the drivers, and so on which I can't mention them all. So I was very touched by everybody's effort to make something happen and how they are so proud of doing it every day, every time.

It was quite a life reflection to me, I am a big dreamer but I also kind of doubting myself a lot. And I failed a lot so there are many times when I want to stop dreaming, quit striving for it. My willpower also needs refreshment, and I have to remind myself over and over again about what I want to do in my life. I often feel fear of not reaching where I want to go, my goals which I once define in detail but it looks so blurry now till I don't know where to look for.
Then, looking at the people in the station and airport, makes me feel warm and assuring a bit. I feel like whenever I feel losing of purpose, one thing will stay true that I have to be someone who gives meaning to other people, be kind. In the end, it is all about kindness and what you can give to life. I really want to become one of those, who stay true to myself, whatever things happen in my life, I hope I won't miss the big goal.

Friday, November 24, 2017

[Review] My Weekend Movie-Marathon

This was supposed to be posted last week, but right after Monday came, I became so lazy at home, even didn't bother to open my laptop a bit (so she got a full week of rest :p) and because my another weekend will start soon, so I forced myself open this page again. For a piece of mind :)

So, last weekend was a blessed one, no social meeting, free from any kondangan or date with friends, and since I had full time for myself and I decided to do movie marathon. Rasanya udah berabad-abad ga nonton di laptop dan sekilas dapet inspirasi dari bukunya kak Urfa tentangan bagaimana 'cara' seorang introver menghabiskan liburannya, akhirnya langsung jadi mode super niat buat segera searching ada film bagus apa yang belum aku tonton. And here comes the list.

The Big Short (2015)




Penasaran banget sama film ini semenjak dengerin Himmah cerita tentang House Bubbling dengan begitu semangat, so I decided to go with this one first. And it was actually really interesting, kind of educating and entertaining at the same time. Singkat cerita, film ini membahas tentang sebab tragedi House Bubbling yang secara nyata terjadi di US pada tahun 2008, dan bagaimana para pemeran utama mengambil keuntungan dari momen tersebut. Meskipun setelah nonton filmnya, masih harus browsing sana-sini supaya lebih paham, overall film yang sangat menarik. Oh, dan satu lagi, A-list castnya juga minta dikomen banget, dari Christian Bale, Ryan Gosling, dan Brad Pitt, udah jaminan mutu banget (thumbs)


The King (2016)

Yes, I am a Korea-enthusiast, so please understand me ya :") Film ini lebih karena lagi seneng sama Jo In sung sih, tapi topik utama politiknya bikin lebih menarik, so I chose this one. Ceritanya tentang kisah hidup Park Tae-su (Jo In sung), si country boy yang berhasil menjadi elite prosecutor and how his life went after that. Seperti judulnya, film ini menggambarkan manusia-manusia dalam dunia perpolitikan dan berlomba menjadi raja di negaranya dengan segala cara kotor yang mereka lakukan. Quite interesting and nice cast :)

Like Father Like Son (2013)


This movie came randomly to my radar, and ta-da! Really great movie. Udah bisa ditebak, bahwa film ini bertema utama tentang keluarga. Ide ceritanya mirip sinetron Indonesia (?) dua keluarga yang ternyata anak laki-laki 6 tahunnya tertukar ketika lahir, but the story is told in a more beautiful way. Watching this movie, was really emotionally exhausting karena mengaduk-aduk perasaan banget, tipe film yang bikin terbawa suasana bahkan tanpa backing sound yang mengharukan sekalipun. Sebenernya susah banget sih diungkap dengan kata-kata how I really appreciate this movie in every aspect, even the ending. For those who enjoy family drama movie, this one is for you. (Dan ternyata film ini cukup terkenal bahkan ditayangkan di Festival Film Cannes, so it is guaranteed ;) )

Justice League (2017)


Yes, I went to movie theater for this one. Emang dasar keluarga demen nonton semua, langsung cus nonton Justice League begitu ada kesempatan, hehe. Sebenernya agak males ya review film kekinian ini karena pasti udah banyak yang nonton. Bluntly speaking, ide ceritanya biasa aja yaa, tapi cukup menghibur dan the cool actions compensated them all. Itulah hebatnya film sci-fi action macem Marvel dan DC, karena dengan senjata keren, aktor ganteng, and some jokes semuanya jadi menarik :)

Keesokan harinya....

When Harry Met Sally (1989)

Cukup dengan segala film yang menguras tenaga, I moved on to rom-com movie and I am really grateful I remember this one! Penasarannya udah lama dan tiba-tiba keingetan, akhirnya donlotlah film ini, apa sih yang bikin dia segitu terkenal sampe banyak disebut di novel-novel? And ta-da! (again), I love this movie! Dari alur ceritanya, actingnya, komedinya, Harry yang kharismatik, Sally yang charming banget, dan yang paling penting, those punchlines! Segala percakapannya yang bikin ketawa, sedih, berempati, dan menojos hati (?). hem, it will be hard to get enough of this movie :) 

The Classic (2003)

Dan akhir movie-marathon kali ini adalah dengan film The Classic dari Korea :) ini juga karena ada Jo In sung sih, tapi cukup senang dengan ceritanya yang manis dan ke-klasik-annya ♥


Well, that's the end of my latest movie-marathon :) Seru juga ya ternyata, kayanya harus dibikin jadi program rutin (?) hehe.

Happy Weekend Everyone!

All pictures taken from Google