Tuesday, July 4, 2017

Tujuan Hidup yang Butuh Ditata

Harusnya manusia ga bakal pernah kehilangan tujuan hidupnya. Tujuan manusia hidup di dunia itu apa? "Beribadah kepada Allah SWT." Selama kita masih percaya dengan pernyataan ini, harusnya manusia ga akan pernah kehilangan arah hidupnya. Beribadah itu konteksnya banyaak banget, dan opsi-opsi ibadah itu ga akan ada habisnya, mau kita setua renta apa pun. Mau kita sudah punya seluruh harta di dunia, pergi ke suluruh belahan dunia, sudah mencapai puncak karir, tapi kesempatan beribadah itu tidak akan pernah habis. Pada akhirnya, manusia memang dituntut untuk selalu bergerak dalam hidupnya. Bahan, ketika kita sudah abai dengan dunia, ga punya keinginan apa-apa, ga ingin bekerja, ga peduli dengan uang, tidak memiliki keluarga, toh selama kita masih bernafas, kita masih harus tetap sholat, puasa, dan zakat. Itu opsi ibadah yang paling minimal.

Ladang ibadah di dunia ini sangatlah luas, tak terhingga.

Tapi, dengan tujuan hidup 'beribadah kepada Allah' ini, kita tidak bisa membatasi diri sendiri, di dunia kecil hasil rekayasa kita sendiri, dengan obsesi yang ga berujung dan kadang lupa daratan. Karena ladang amal yang Allah tebar begitu luasnya, sehingga ga layak bagi kita untuk membangun agar batas sendiri. Merasa pagar yang kita bangun ini sudah benar dan paling baik. Dan mungkin itu yang sedang aku pelajari. Belajar menghancurkan pagar batas yang aku bangun sendiri di ladang yang begini luasnya.

Belajar menata hati, menata pikiran, menata prioritas. Semakin lama, semakin sadar, mugkin sekarang lagi kehilangan prioritas dan jadi disorientasi pikiran dan hati, mana pikiran dan mindset yang harus didahulukan. Kadang, menjadi begitu ambisius untuk 'beribadah kepada Allah', mengejar sesuatu di dunia, tapi pada akhirnya hal itu tak lebih kurang hanyalah hawa nafsu semata.
Sepertinya aku lupa pada konsep tawakkal setelah ikhtiar, di mana harus seimbang antara keduanya tanpa berat sebelah.

Akhir-akhir ini jadi susah membedakan mana impian yang murni ibadah, mana yang ternyata cuma hawa nafsu pribadi aja. Terkadang kita sangat menginginkan sesuatu hingga takut kehilangan, tapi pada akhirnya hal itu dicabut jauh dari diri kita, terkadang dengan cara yang menyakitkan. Mungkin kita menjadi sangat sedih, menangisi, meratapi, tapi bisa jadi kita tak sadar bahwa ambisi itu menjadi tumbuh menjadi racun dalam diri kita sendiri, yang bisa membutakan hati, menjauhkan kita dari prioritas yang hakiki, yaitu ibadah itu sendiri.

Makanya, perkataan "orang yang mengejar dunia akan mendapatkan dunia, tapi orang yang mengejar akhirat akan mendapat dunia dan akhirat" itu benar. Bukan berarti mengejar akhirat itu selesai dengan ibadah mahdhah atau ibadah ritual semata. Tapi dengan selalu melibatkan Allah, dengan selalu memprioritaskan ibadah dan percaya dengan ladang amal yang Allah sediakan buat kita membuat kita lebih ikhlas menjalani apa-apa yang menghadang dalam hidup.

Barakallah buat kita semua :)

Tuh, nis. Ini semua tuh materi mentoring yang udah kamu hafal, udah kamu sampaikan berkali-kali ke adik-adik. Tapi ternyata prakternya di dunia nyata, susahnya minta ampun :"

Wednesday, June 28, 2017

Trust me. tadi gue udah nulis post baru panjaaang banget, tapi gara-gara internet yang super ga jelas ini, tiba-tiba semua tulisan itu hilang entah kemana. Ga ada di draft, ga ada di list published post. Hilang ditelan bumi.

And I am totally not in mood to type down AGAIN all of previous writing, so here it is. Mengisi blog post baru dengan tulisan ga jelas. Semoga ada lagi niat buat nulis di blogs di sertai kondisi internet yang memadai.

Friday, February 24, 2017

Resolusi Si Penggemar Kucing

Kok judulnya gitu? Jadi gini ceritanya..

Saya punya adik mentor, sebut saja N. Anaknya suka semau sendiri, tapi yang pasti dia penggemar kucing. Ada satu kebiasaan dia yang bikin saya heran sekaligus kagum.

Setiap hari dia bawa sebotol makanan kucing ke kampus.

Waktu pertemuan perdana mentoring, di tengah-tengah pemberian materi, seperti biasa, ada satu kucing berseliweran. N langsung memanggil kucing itu, 'Waduh mau ngapain nih' sebagai anti-kucing, saya ogah banget ada kucing ikutan mentoring saya /-_-/ Ternyata N mengeluarkan sebuah botol dari dalam tasnya, "Sini, kamu laper ya" dan diberilah makan si kucing itu. Saya cuma bisa melongo. "Kamu tiap hari bawa itu?" "Iya kak" "Dikasih ke kucing mana?" "Mana aja kak, seketemu di jalan aja, hehe" "Habis ga tiap hari?" "Biasanya abis sih kak" "ooo (kemudian speechless)". Ketika itu cuma ada satu yang di kepala saya. Salut.

*****

Pertemuan mentoring awal tahun ini, saya buka dengan kegiatan menulis resolusi tahunan. Saya minta setiap mentee saya menulis hal-hal yang ingin mereka capai tahun ini di sebuah kertas. Semuanya asik menulis mimpi-mimpinya yang bisa mencapai satu kertas penuh. Tapi N selesai menulis lebih cepat dari yang lain. "Udah?" "Udah kak, aku ga nulis banyak sih hehe" "Liat dong". Lalu yang pertama dia tulis di kertas adalah

1. Jadi lebih baik sama kucing-kucing di kampus

/gulp/

*****

Mungkin untuk sebagian orang, resolusi ini terlihat lucu. Tapi saya cukup tertancap dengan kalimat ini, ugh, straight to the heart /apasih/ Saya langsung malu dengan resolusi saya, 'Berangkat S2 tahun ini' 'Dapet beasiswa' 'Bisa Qurban sendiri' dll, yaa mungkin terdengar bagus dan besar, tapi terdengar egois juga.

Mimpi besar selayaknya disupport dengan mimpi kecil, mendambakan hal besar dimulai dari memiliki hal-hal sederhana. Seberapa pun besarnya resolusi, apa gunanya kalau ternyata memperbaiki diri setiap hari, sedikit demi sedikit saja kita belum bisa, bahkan belum terpikirkan? Sesimpel N yang ingin makin baik sama kucing-kucing kampus, dia bikin small step untuk memperbaiki dirinya, untuk memberi manfaat buat orang lain (ups, makhluk lain maksudnya, hehe). Mungkin saya juga harus bikin resolusi simpel, 'Ga jajan kalau ga lapar' 'Lebih banyak senyum sama orang' gitu ya?

Orang-orang simpel tuh emang suka inspiratif ya :")

*****

Ya udah begitu aja ceritanya..
Plus bonus foto kucing makan dan botol makanan :)


Monday, January 9, 2017

Setelah masuk ke dalam proyek dosen ini dan menjalani kehidupan 'selayaknya' bekerja, entah pikiran jadi lebih tenang daripada masa 'menganggur' dulu.

Sebelumnya kerjaannya galau terus, browsing sana-sini, cari kerjaan yang bisa dilakukan sambil nunggu LoA dari kampus yang udah didaftar, galau (lagi) ga jelas. pokoknya pikirannya disibukkan dengan hal-hal pribadi yang mengganggu, bisa dibilang kekhawatiran yang berlebihan.

Begitu sudah punya hal yang dikerjakan, pikirannya jadi lebih fokus, kerjaan jadi lebih jelas, pikiran udah ga mondar-mandir kesana kemari lagi karena kita punya prioritas yang harus diselesaikan. jadi lebih tenang, istirahat juga lebih nikmati, dan kesendirian lebih dihargai.

Manusia memang harus bekerja, harus bermanfaat untuk orang lain, biar tidak disibukkan dengan urusan diri sendiri saja.

Jadi inget taujih ustadz tentang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu. 'Kalau kita tidak disibukkan dengan proyek-proyek kebaikan, maka pasti pikiran kita, kegiatan kita akan penuh dengan hal yang sia-sia'. :"(

Friday, January 6, 2017

Syukur di Malam Sabtu

Manusia yang bekerja Mon to Fri, 8 to 4 (atau 9 to 5) pasti ngerti banget betapa membahagiakannya malam sabtu, seperti malam ini. Begitu jam menunjuk angka 4 pada hari jumat, waah pikiran udah liar kemana-mana, malam ini tidur jam berapa, besok mau ngapain, lusa mau ngapain, mau nonton apa, baca apa :)

Saya bersyukur bisa jadi yang merasakan itu :) rasanya tak perlu susah payah untuk mencari pengalaman bahagia, cukup jam 4 di hari jumat sudah seperti terapi 'how to be happy', hehe

Seperti malam ini, bisa menghabiskan waktu ngoceh di blog, bukan nulis draft Job Safety Analysis seperti tadi malam. Dan bisa pergi tidur tanpa pikiran besok pagi harus mandi jam setengah 7 :")

Alhamdulillah, terlalu banyak hal yang bisa kita syukuri, seperi malam sabtu ini :)

Saturday, December 31, 2016

2016 was..

Tidak terasa sudah sampai di penghujung tahun lagi :)

meskipun ga punya ritual khusus menyambut tahun baru dan biasanya hanya menikmati kesendirian di kamar kosan seperti biasanya, tapi tetap tidak bisa dipungkiri malamini memang malam yang berbeda. tidak biasanya suara petasan dimana-mana, dari luar kamar terdengar tiupan-tiupan terompet yang mau tidak mau menyadarkan diri sendiri "wah, udah akhir tahun aja ya..."

sebenarnya malam ini sedikit berbeda dari malam-malam tahun baru sebelumnya karena tidak dilewati di rumah (biasanya malam tahun baruan di rumah sambil nonton TV). Tapi karena sekarang sudah bertekad menetap di bandung (dan keluarga yang malah mau visit Bandung), jadilah asik menjomblo di malam tahun baru, haha :) Wah, ternyata sudah dewasa ya, malam tahun baru tanpa orang tua :") apasih

sehinggaaa.... saya memutuskan untuk menulis, menyapa kembali blog yang udah usang ini dengan rekap singkat tentang hal-hal mengesankan dalam hidup 2016 saya ini :)

2016 saya dibuka dengan amanah Majelis Syuro Gamais (yang bikin kita semua jadi ahli 'syuro') dan magang di BPPT bagian konservasi energi. Kerja magang ini bener-bener spontan dan atas kemauan sendiri, ngurus surat sendiri, minta izin sendiri sampai rela libur minggu pertama kuliah karena magang ini. Akses magang ini didapat lewat jalur belakang (wkwk) karena kebetulan Abi kenal dengan salah satu bos di sana. Meskipun singkat (ga sampai sebulan) tapi saya mendapat gambaran tentang kerja PNS, terutama peneliti. Saya ga dapet uang saku atau keuntungan fisik apa pun, tapi sangat bersyukur saya memutuskan untuk magang di BPPT karena memperkuat pengetahuan tentang Fisika Bangunan dan teman-temannya.

Cerita setengah tahun pertama 2016 saya pasti tentang Tugas Akhir. Memulai dengan banyak kebingunan, ekspektasi tinggi, konsultasi tiada henti dengan pak Nugroho (sampai bapaknya bosan liat kita ._.) tapi setelah dijalani perlahan, alhamdulillah banyak kemudahan yang dikasih dalam menyelesaikan TA ini. Bisa dibilang tidak ada kendala yang berarti dan sangat menikmati proses pengerjaannya, semangat mencari literatur, baca puluhan paper tentang bangunan (padahal lebih banyak paper yang ga ada hubungannya sama TA, haha), diskusi panjang ini-itu dengan Inay, 6 bulan berkutat dengan TA ini berhasil membuata saya jatuh hati dengan dunia fisika bangunan dan menjadi aspirasi saya untuk kehidupan mendatang :)

Satu lagi hal besar yang terjadi dalam first-half 2016 saya adalah backpacking pertama sekeluarga ke Singapura ! Hal paling menyenangkan yang ga akan saya lupakan di tahun ini :) Perjalanan ini bener-bener terjadi seperti kejutan, mulai dari WA mendadak dari Ummi  "Teh, insyaa Allah berangkat ke singapura 17-19 Juli ya.." yang berhasil membuat saya :O bikin itenerary bareng mulai dari tujuan wisata, tpurist attraction mana saja yang mau dikunjungi, alur perjalanannya dan akomodasinya. Dari awal ummi udah bilang, "Kita ke Singapura bukan buat kuliner ya," sehingga makan kita di Singapur cuma indomie, McDonalds, dan KFC :") ga nginep di hotel fancy tapi cuma di satu kamar apartemen di Orchard yang disewa murah, commute kemana-mana dengan MRT dan jalan kaki cukup menguras tenaga dan sering kali menghasilkan pertengkaran kecil antara member keluarga. Tapi saya bener-bener bahagia diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan kali ini, selain karena Singapur yang emang ramah turis dan menyenangkan untuk dikunjungi, saya merasa didewasakan dengan trip kecil ini yang bisa bikin saya lebih dekat dengan adik-adik, menyadari bahwa keluarga memang harta tak ternilai yang harus kita syukuri :)

Setengah tahun terakhir 2016 saya menguji kesabaran dan kedewasaan saya dengan cukup dalam. Selesai kuliah berarti selesai sudah satu rangkaian perjalanan kehidupan, lalu sekarang mau kemana lagi? Bagi sebagian orang, pertanyaan ini terjawab dengan mudah, tapi saya termasuk yang struggle dalam mencari jawaban. Galau tanpa akhir, sudah bulat keputusan tapi ada kalanya meragu pada diri sendiri, sehingga sebagian besar waktu dihabiskan bertapa di kamar kosan :") Kisah sidang dan wisuda udah banyak diekspos di socmed, jadi sepertinya tidak perlu diceritakan disini ya :p
Setelah wisuda, saya mulai siap-siap untuk daftar universitas impian, urus dokumen, memperbaiki CV, meminta surat rekomendasi, dan membuat personal statement. Sebelum wisuda, kegiatan persiapan S2 saya hanya berkisar browsing, mencari informasi, nonton video-video tips dan trik, tapi ketika wisuda sudah lewat, saya sadar bahwa sekarang saya harus benar-benar 'memulai' semua hal itu dari nol dan itu cukup menguras energi, not physically but mentally.. Meski sampai baru berbuah satu LoA dan masih belum punya beasiswa, Insyaa Allah akan Allah pertemukan dengan jalan terbaik-Nya :)

Ohya satu lagi, di tahun 2016 ini officially jadi M.SG (a.k.a. Master Syuro Gamais) dan (akhirnya) resmi mengakhiri karir saya di Gamais :) hehe. Setelah 3 tahun non-stop wadah dakwah ini, antara lega dan sedih melepas amanah sudah melekat terlalu lama dalam diri saya. Proses regenerasinta cukup memakan waktu dan pikiran, tapi alhamdulillah bisa keluar nama pemimpin-pemimpin kebaikan baru di ITB ini. Barakallah semua :)

Melanjutkan judul yang terpotong, 2016 was incredible and memorable :) Sejujurnya terlalu banyak hal yang terjadi di satu tahun ini dan apa yang telah saya ketik di atas hanyalah satu fragmen kecil kehidupan setahun ini.

Menyambut 2017 yang hanya dalam hitungan menit, mari sapa dia dengan semangat baru dan proyek-proyek kebaikan baru :)

Tuesday, December 13, 2016

[Review] Tamasya ke Surga (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

sumber : rumah-muslim.com
Kemarin, akhirnya selesai baca buku tebal berbobot ini setelah beberapa minggu (pengangguran) berusaha sekuat tenaga buat terus konsisten baca buku ini dari awal sampai akhir :") And it is worth it!

Brief overview :
Sesuai dengan judulnya, buku ini mengajak kita bertamasya, mengenal lebih dekat surga. Apa saja isinya, seperti apa bentuknya, siapa saja di dalamnya, pokoknya complete introduction dari Jannah yang semua muslim dambakan. Buku ini terdiri dari 61 bab dan hampir semua isi halamannya adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang detail surga. Dan bener-bener literally everything, mulai dari definisi surga sampai luas pintu surga (hayo, pernah kepikiran ga?!). Mungkin kalau dijadikan buku yang lebih modern, judulnya akan menjadi 'A-Z tentang surga' :)

Kesan :
Aku pribadi beneran bertamasya setelah baca buku ini. Kadang terpana dengan deskripsi keindahan surga, ada kalanya juga menangis karena sedih inget dosa dan takut belum pantas jadi penghuni surga :") Recommended untuk dibaca siapa pun yang ngaku muslim. Jadi reminder banget, bahwa dunia ini kehidupan semerntara, jadi stop berharap mengejar kenikmatan disini dan berharapkah dibalas semuanya di surga, aamiin.

Special thanks to Atifah Rabbani yang ngasih buku spesial ini (setelah 'maksa' supaya ngasih aku buku, haha)