Friday, September 28, 2018

Recent Thought: Fans fanatik, pologami, dan Supreme Court

Hi guys, kali ini mau menulis cepat tentang apa yang gue pikirkan beberapa hari ini, karena makin menyadari makin kacaunya dunia, hadeuh.

note: menulis cepat adalah menulis dengan sekilat mungkin, tanpa mikir (karena udah mikir sebelumnya) dan tanpa diedit, apalagi dibaca ulang. mohon maklum bila ada salah kata yang menyakitkan. mohon diingatkan.

Pertama, tentang pembunuhan supporter Persija oleh supporter Persib #RIPHarilangga. Maksud gue, hey, mereka tuh pada mikir apa ya. Sesuaka apa pun kita sama sesuatu, apakah jadi alasan yang kuat untuk mengeroyok sampai membunuh seseorang. Orang rasional macam apa ya yang punya perilaku kaya gitu, kecuali kalau mereka irasional atau hilang akal ya. Bukan maksud menghina, tapi yaampun ini tuh udah jelas banget hitam putihnya, ga ada abu-abu sama sekali. Dan kita semua tau siapa yang salah disini. Apakah moral supporter bola di Indonesia segitunya. Dan setelah kejadian ini mulai banyak yang membahas tentang angka dan data kejadian serupa yang pernah terjadi sebelumnya. ternyata ini bukan kejadian luar biasa, bahkan sudah beberapa kali terjadi dalam beberapa tahun kebelakang..... speechless ga, coba cari deh banyak banget beritanya. Harus kaya gimana dong kita? Giana cara edukasi orang-orang kaya gitu? dan apa yang bisa kita-kita lakukan dalam hal ini? any ideas?

Kedua, beberapa hari lalu nonton video tentang Poligami di youtube dari channel Vice Indonesia (coba dicari ya, I personally respect their channel). Ampun ya, rasanya campur aduk habis nontonnya. Dulu sempet bahas sih di grup ciwi-ciwi ukhtiku tentag sekarang marak pelatihan tentang poligami (what?) dan di dalamnya mengencourage para suami untuk mencari istri lagi JUGA mendorong para istri untuk mencarikan istri lagi bagi suaminya (kalo kaya gini lafadz dzikirnya apa ya, gue bingung). Reporternya adalah cewek yang asumsi gue adalah sama sekali ga familiar dengan ide poligami, sehingga jelas dia mengerutkan kening sepanjang dia ikut acara training tersebut, juga ketika wawancara pegiat poligami. Si bapak pegiat poligaminya juga yaa, aku sih ga sreg ya, sebagian apa yang dia katakan bener, tapi sebagian besar kaya ga bisa diterima nurani aja. Apalagi argumen dia adalah bahwa Islam itu memfasilitasi para lelaki yang punya nafsu dan kemampuan untuk menyukai lebih dari satu perempuan dengan adanya poligami sehingga tidak perlu ada yang namanya selingkuh, perzinaan di luar pernikahan (kata dia loh ya). "Oh, jadi karena gitu ya pak? hmmmmm" Gue juga bingung ya memposisikan diri seperti apa, nikah aja belum #plak. tapi gue suka sih di akhir videonya si reporter bertanya pada pakar yang mendalami poligami (kata dia ya, gue belum cross check), bahwa sebenarnya praktik poligami itu sudah biasa dilakukan, bukan hanya dalam islam (iya juga ya, jadi inget kalo raja di korea kan selirnya bejibun, di eropa juga mungkin). Dan justru di islam itulah jumlahnya dibatasi hingga 4, bahkan sebenarnya ultimate goalnya adalah untuk punya 1 istri saja, seperti di penggalan ayat poligami yang selanjutnya, bahwa jika ditakutkan kamu tidak akan bisa adil, maka 'jangan serakah' dan cukup dengan satu istri saja. Wah, iya juga ya, justru kaya gitu pengerucutannya #ngangguk2. Kalo kata di grup ukhtiku sih, kalo idealnya jika seseorang itu mendalami tentang poligami lebih lanjut, sang istri makin ikhlas untuk dipoligami, dan sang suami makin hati-hati untuk mempoligami. Iya kali ya? (an open question)

Ketiga, baru aja nyari-nyari tau, awalnya dari ignya gitasav. Tentang hearing hakim Brett Kavanaugh. Jadi ceritanya Pak Kavanaugh ini menjadi salah satu nominasi Supreme Court (kalo di Indonesia kaya ketua MA or MK kali ya, cmiiw), yang ternyata tersangkut dugaan pelecehan seksual, yang diduga pernah dia lakukan dulu ketika SMA. Akhirnya kemarin 27/09 dilaksanakan hearing untuk mempertanyakan hal tersebut, dengan menhadirkan saksi yang merupakan korban pelecehan seksual oleh Kavanaugh, Dr. Christine Balsey Ford. Dia datang dan memberikan kesaksian tentang detail kejadian yang dia alami dulu. Dan setelah itu terjadilah sesi debat panas antara para senator Demokrat, Republikan dan Kavanaugh itu sendiri.
Setelah gue melihat berbagai video youtube tentang hal ini, banyak banget yang melintas dalam pikiran kalo kejadian politik tuh bisa jadi seru banget kalo diikutin, serunya ngalahin drama tv mana pun, saking dramatisnya, wkwk. Politik tuh abu-abu banget, belum tentu yang terlihat baik tuh baik beneran dan sebaliknya. Serem ya.
Pertama kali gue mengikuti hal ini, gue mencoba seobjektif mungkin dan melihat dari berbagai sudut. Tentunya di US sana juga pendapatnya terbagi dua. Ada yang ngebela Kavanaugh, ada juga yang ngebela Ford dan nuntut pencabutan nominasi Kavanaugh. Kalo gue pikir, hal apa pun bisa terjadi dalam politik. Gue mikir bisa aja ini Dr. Ford bikin kesaksian palsu untuk ngejatuhin Pak Kavanaugh (dan Kavanaugh juga mengklain seperti itu, he insists he's innocent), karena hal ini mungkin aja loh terjadi. kalo udah demi kekuasaan kan orang bisa jadi buta. Dari pihak yang ngebela Kavanaugh juga bilang, kalo mereka percaya dengan record bersih Kavanaugh dan ga perlu lah mengungkit-ungkit kembali apa yang terjadi hampir 35 tahun yang lalu. Apa benar-benar ga usah dipeduliin? I mean, he is running for Supreme Court, tentu record hidup dia penting dong kita simak, termasuk kehidupan masa lalu dia. Segala catatan buruk dia harus kita masukin dalam pertimbangan, karena seperti itu lah seharusnya. Yayaya, gue juga tau kalo orang tuh bisa berubah dalam kurun waktu tertentu, tapi apakah Pak Kavanaugh ini sudah mendapat hukuman atas apa yang pernah dia perbuat, menyesali dan kembali ke jalan yang benar? yang lebih anehnya lagi menurut gue adalah ketika dia tidak mengajukan permohonan investigasi FBI (dan tidak mau mengajukan, ketika ditanya) untuk kasus ini, padahal kita sebagai manusia yang rasional pasti paham kalau itu adalah satu-satunya jalan tengah yang paling aman dan adil untuk dilakukan. Why Pak Why?
Balik lagi ke yang soal kemungkinan testimoni palsu, kalo gue pikir-pikir lagi, seberapa besar coba keberanian yang harus Dr. Ford kumpulkan untuk hadir di hearing itu, ngasih testimoni yang sangat privat seperti itu denga konsekuensi mukanya diketahui seluruh rakyat US, ucapannya disiarkan di seluruh saluran TV US, dan resiko-resiko lainnya yang akan dia hadapi? Kalaupun testimoni itu dibuat-buat, gue ga kebayang seberapa besar imbalan yang Dr. Ford ini akan terima dengan resikonya udah mendekati hidup mati dengan bersaksi di ruangan itu. Karena gue yakin, ini udah bulan soal uang atau jabatan tapi juga tentang integritas diri. Well, it's just my personal opinion anyway.

Btw, deg-degan juga ya dia bakal dikonfirmasi yes or no besok. Kita lihat ya hasilnya gimana.

Friday, September 21, 2018

People see what they want to see

Jadi ceritanya, untuk keperluan kantor, gue bikin garansi bank. seperti biasa lewat finance kantor.
Ternyata di jasa asuransi buat bikin garansi ini protes akan suatu klausa dalam garansi tersebut yang setelah gue perhatikan juga emang klasua yang jarang mucnul dalam format garansi-garansi selama ini.

Proteslah gue ke si klien, kok ada klausa begini, apa bisa dihilangkan. Dia gamau kan, tapi di asuransi ini ngotot. Jadinya bilang lah gue ke klien, kalo kita belum familiar dengan klausa ini, mohon pertimbangannya untuk dihilangkan, blablabla sambil gue lampirin garansi bank terakhir dari kantor yang pernah dibuat untuk si klien. Gue lihat sih, ga ada tuh klausa 'sumber masalah' tersebut.

tiba-tina mba finance yang masuk ke loop email gue nelpon, "Nis, itu di garansi bank sebelumnya ada tau klausa itu!" Eh? cek lagi lah gue. OMG, ternyata ada dong *brb panik* "Udahlah nis, ntar lo ngeles aja, itu juga kalo dia komen" ujar si mba finance ini. *brb lemes* "Ok, mba" kututup telponnya. Dan beneran dia komen, dan akhirnya gue ngeles (dengan niat minta maaf) sehingga case closed lah.

Bingung ya? wkwkwkwk
intinya sih disitu gue bikin salah. karena apa? gue hanya melihat apa yang ingin gue lihat, tidak berusaha menjadi objektif dan terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan. Akhirnya gue jadi yang terlihat bodoh kan, hadeuh.

Yak, orang-orang tuh emang hanya mau melihat dari sisi interest mereka, yang menguntungkan mereka, yang sesuai dengan logika, pemahaman, dan pemikiran mereka aja ya, baru mereka akan mengakui sesuatu. Dan kadang orang juga terlalu overestimate akan diri sendiri, seperti gue yang udah kepedean duluan email ke klien :") *ini kata buku 'The Art of Thinking Clearly"

hehe, ya sudahlah. Untung klienku baik (but I bet she was annoyed too). Ya gapapalah, gue juga sering dibuat bete sama klien kok #loh

Dah semuanya :)

Sunday, July 29, 2018

Dari Penjara sampai PNS (What I feel about recent issues)

A lot of things happened in a week. I mean, in this era of information flooding over us, impossible to avoid yourself from hearing issue, both in good and bad way. So, I just want to make a quick recap about what I feel about our world recently.

Pertama, soal episode Mata Najwa terbaru, Pura-Pura Penjara. Kalo belum nonton, gue saranin kalian tonton di channel yutub Mba Nana because it's mind-blowing. 
Gue udah liat kisi-kisinya dari ig Mba Nana, so I was like "wah, harus banget nonton ini" sehingga TV yang bisa default tersetel di tvN, untuk malam rabu kemarin sengaja dipindah ke trans7. Gue nonton acranya dari awal sampai akhir dengan perasaan nano-nano (wk, entah kenapa lagi suka kata ini karena pas banget menggambarkan hati gue yang gampang terombang-ambing (?)). Di satu sisi kasian, tapi inget kalo mereka tuh melakukan kejahatan pada negara, jadi gemes juga. Yang paling bikin elus dada adalah gap antara orang berduit dan orang ga punya bahkan terlihat juga di penjara. Ada yang kamarnya baguuus banget, dimodif kata kamar apartement aja (tapi versi mini) dan segala fasilitas pribadi kaya gadget yang mereka bawa sendiri. Dan ketika dibandingkan dengan kamar napi biasa, ya Allah jauh bangeeet. Parah banget, kaya ga layak dihuni manusia gitu, apalagi posisi kamar mandinya yang cuma bolongan doang PERSIS DISAMPING TEMPAT TIDURNYA. :"( #findingjustice
Jadi mempertanyakan disiplin petugas penjaranya sih ini mah. Penjara tuh dijaga oleh para pegawai teknis yang ga heran kalo mereka akan dengan mudah akan abai dengan peraturan jika ditawarkan uang, mungkin beberapa lembar saja? Integrity problem comes up here. Esensi penjara adalah mengambil kebebasan dari si penjahat. kalo kaya gini, kebebasan mana yang diambil? apa gue harus ikutan hashtag #2019gantirakyat? heheh. Menurut gue untuk orang yang butuh menumpahkan pemikirannya, bisa dikasih perpustakaan di penjara, tempat mereka bisa bekerja kalau memang dibutuhkan. Bukan dengan mengizinkan segala kebebasan mereka bertebaran di dalam sel penjara. Tapi kalo dipikir-pikir, penjara itu dioperasikan dengan uang negara, berarti semua orang yang ada didalam penjara tuh tanggungan negara. Semakin banyak penjahat yang dipenjara, berarti semakin banyak pengeluaran negara buat menyokong kehidupan para penjahat ini? Wait, jadi pusing.


Kedua, soal Mesut Özil yang keluar dari Timnas Jerman. Heboh juga nih diantara para fans Jerman dan akhirnya dibahas juga di video Mba Gitasav. Sedih juga sih dengan beberapa isu rasisme kaya gini. Ternyata masih banyak orang yang diperlakukan tak adil kaya gini. Dan bagusnya dia speak up, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk jadi pelajaran buat orang lain. 
Gue sendiri ga pernah ngalamin hal kaya gini. Eh, pernah deng dulu banget pas kecil. Lebih tepatnya dibully sih pas di Jepang dulu. Sebenernya yang jahat cuma satu anak aja, dia emang suka bilang gue 'gaijin' which means 'orang asing' dalam bahasa Jepang. Tapi klimaksnya adalah dia ngatain makan siang gue kaya 'kotoran' (karena ga semua menu makan siang dari sekolah bisa gue makan, jadi gue selalu bawa bekal masakan ummi dari rumah). Gue juga udah lupa kronologisnya gimana dan apa yang gue rasakan saat itu, tapi yang masih gue inget adalah akhirnya saat itu juga gue samper wali kelas gue (yang selalu makan bareng di kelas) dan gue lapor ke dia kalo makanan gue dikatain. Akhirnya guru gue marahin dia dan dia berhenti ngatain gue sejak saat itu. Yeah, it's important to stand up for yourself. Dan alhamdulillah, gue belum pernah mengalami hal tidak enak sampai sekarang (atau gue yang ga sadar, wkwk). Tapi menurut gue penting untuk punya that feeling of self worthiness, power to stand up for yourself, apalagi wanita ya.


Ketiga, tentang overheard gossip ringan di kantor tentang Konser Syahrini yang harga tiketnya 25 juta. WHAT. Sefenomenal Celine Dion aja ga nyampe 10 juta ga sih tiket konsernya. Entah kenapa, jadi emosi wkwkwk (ya Allah nis ga penting banget ya). Ya ampun, tapi ga penting banget ya ngurusin orang gini. Biarin lah mereka mau ngapain dan bikin sensasi apa, yang penting ga ganggu hidup gue aja, daripada bikin cape hati.


Terakhir, dari hasil ngobrol sama Masi dari antah berantah sana (engga deng, dia lagi jadi PM di Konawe sana). Tentang budaya hidup orang disana. Yang gurunya ga ada komitmen ngajar, padahal udah PNS dan digaji pemerintah. Yang PNS-nya masuk jam 9 dan pulang sebelum siang (?). Trus kegiatan mereka apa dong, "Yaa, cuma duduk-duduk nongkrong, kumpul di rumah yang ada TV-nya. Ngopi-ngopi, ngobrol. Trus dateng ke pesta tiap ada hajatan." Wow. "Trus mereka ga ada motivasi untuk bekerja, melakukan sesuatu gitu?" "Iya, ga ada kali ya. Tempo kehidupannya tuh santai banget" *kemudian speehless*
Di satu sisi, ide tentang kehidupan yang dimiliki orang-orang yang tinggal di daerah itu (terutama desa, kampung, or whatever you call it) sederhana banget. Mereka tuh sudah senang dan puas hanya dengan duduk-duduk, bersantai, kumpul dengan keluarga, teman, dan seterusnya. Mereka juga bukan tipe rakus, haus harta tahta, karena... yaa... kurang ambisi. dan semua yang mereka butuhkan tersedia dan terbeli.
Tapi itu juga membuat mereka kurang ambisius (in a good way) yang motivate mereka untuk bekerja (paling sederhana) dan berkontribusi untuk masyarakat, melayani kebutuhan orang lain. Wajar kalau pendidikan masih terbelakang, karena bisa baca gajadi prioritas buat mereka, yang penting anaknya mau bisa berkebun. Mentalitas seperti itu ya yang kurang (apa gue harus tambahin #2019gantirakyat lagi? hehe). Setelah denger cerita Masi, jadi ngerasa banget sih kalo pada akhirnya kita ga heran di daerah tuh susah majunya, karena mindsetnya aja belum ada. Mau sebagus apapun kebijakan pemerintah, tapi ga ada orang yang menjalankannya. Dan kebayang bedanya dengan Jakarta yang mostly orang yang punya determinasi dalam berkarir dan berkontribusi.
Berarti sebenernya program pemerintah tentang Revolusi Mental tuh bagus banget, kalo emang beneran direalisasikan sampai ke akar-akarnya. Susah ya.... jadi presiden Indonesia :"(
Dan hal kaya gini baru kerasa kalo kita beneran tinggal di daerah, yang faktanya jarang ada orang yang mau 'mengorbankan dirinya' memperbaiki daerah karena anak muda zaman sekarang justru berbondong-bondong ingin tinggal di ibu kota *tunjuk diri sendiri*. Susah yaaa...jadi gubernur di Indonesia. Berarti betapa mulianya kepala daerah yang emang punya niat baik untuk membawa perubahan bagi daerahnya. Makanya pilih orang baik ya, jangan golput :")


Oke, sekian dulu racauannya karena lagi butuh ngerapihin otak. dan sekarang gue butuh tidur karena besok mulai agenda pagi :") bye!


Tuesday, July 24, 2018

Nano-nano,

Kadang ingin berjuang untuk masa depan, kerja keras, punya goal yang SMART (wk)

Kadang ingin menikmati momen 'sekarang', tanpa peduli harta, kedudukan (?) toh ga akan kita bawa mati juga

In the end, kalau dipikir-pikir, semuanya tentang membawa kemaslahatan, kebermanfaatan, apapun pont of view yang dia ambil dalam hidupnya.

Maka, akan ada orang yang terlihat begitu 'pasrah', cukup dengan apa yang ia punya, kadang terlihat seolah tidak peduli harta dan tahta. Hidupnya mengalir seperti air.

Pula akan ada orang yang terlihat begitu berjuang, bekerja keras, atau sering kita bilang 'ambisius'. Prestasinya yang tak habis-habis, selalu berusaha menjadi number 1.


Tapi tak apalah, ga ada yang salah maupun benar,karena pada akhirnya yang dilihat adalah amalnya dan apa yang telah dia berikan untuk dunia.

Wednesday, June 27, 2018

Get Inspired: TED talk, time management and your personality




Honestly speaking, my youtube playlist isn't a pretty one. Aktivitas yutub saya kebanyakan buat dengerin lagu, nonton klip drama korea or jepang (karena terlalu malas untuk nonton full episode-nya) dan tontonan hiburan-hiburan lainnya. 
Tpi yutub masih baik sama saya dan keluarlah video diatas (TED Talk - Inside the mind of a master proscrastinator by Tim Urban) dengan tag Recommended for you (well, how do youtube knows that?!), tergeraklah jari saya untuk mengklik video ini tanpa banyak mikir. Waktu itu jam kantor udah selesai tapi tertahan di ruangan karena hujan deras, akhirnya memutuskan untuk menunggu reda sambil mencoba menghabiskan kuota youtube yang masih seabreg.

Saya termasuk yang senang menonton TED talk karena inspiratif dengan topik yang menarik dan relatable dengan lehidupan sehari-hari. Juga pembicara di TED biasanya adalah para pakar yang memang bicara dengan data dan fakta sehingga lumayan persuasif dan memuaskan untuk saya pribadi yang ga mudah percayaan orangnya, hehe. 

Selama menonton video ini, saya hanya bisa tersenyum miris, realizing how relatable those things to mine, the money and panic attack monster (saya saranin, kalian nonton dulu ya talknya. ga panjang dan cukup menghibur kok).

Then, that so called "panic attack monster" menyerang dan saya langsung "waduh, gawat" and then I came across this video



How to gain control of your free time by Laura Vanderkam. Very classic yet often forgotten (and maybe neglected) life advice you have received. There is no such thing as "I don't have time, I am busy", set your priority and time will find you.

As a treat, saya juga memutuskan untuk menonton TED talk lain yang topiknya cukup menarik tentang personality.




Personally, suka banget pembawaan Bapak ini, tipe professor yang mengayomi murid-muridnya dan terlihat dari pembawaannya kalau dia passion dengan apa yang dia lakukan. Hal yang megena banget dalam TED talk ini adalah bagian:

"Don't ask people what is their type (of personality), but ask them what is their core project in life".

This. 
Saya termasuk yang menyenangi dan juga menjadikan referensi segala tipe-tipe personality, murni karea mereka menarik untuk dipelajari dan membantu kita memahami karakter orang lain (juga diri sendiri) dengan lebih baik. 
Tapi di satu sisi, saya juga tidak setuju dan tidak suka menjadikan tipe-tipe tersebut sebagai hal yang baku dan definitive, membuatnya jadi standar baku dalam menggambarkan sikap seseorang. Kadang ada aja orang yang menjadi tipe kepribadian sebagai pembenaran dalam sikapnya, "gue kan tipenya ini, makanya harus kaya gini". Hmmm.
Saya percaya manusia adalah makhluk yang berkembang, not just physically but also mentally and brainly (ga tau sih ada kata ini apa engga). Sehingga manusia itu jauh lebih pintar dan bisa punya kepribadian yang variatif daripada sekedar 16 tipe kepribadian, dll.

Maka, kembali lagi ke talk Pak Brian Little di atas, bahwa tidak sebaiknya kita mendefinisikan orang dengan tipe kepribadian mereka, tapi dengan apa yang mereka perjuangkan dalam hidup sehingga dari sana kita bisa liat seperti apa orang ini menyikapi hidupnya dan bagaimana dia menghadapi masalah.

Well.

Sekian dulu ya. 
And another thing I realise is,
I really need to reduce watching youtube :"

Thursday, June 21, 2018

Happy Eid 1439 H!

Semuanya, selamat Idhul Fitri 1439H! Mohon maaf lahir batin atas semua kata-kata, tingkah laku ataupun tulisan dalan blog ini yang tidak berkenan. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang leih baik setelah 'pesantren' Ramadhan tahun ini dan bisa dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan :) Amiiin.

Well, mau cerita tentang lebaran sedikit. Karena sadar udah sebulan belum mampir lagi kesini (dan mungin siklusnya emang bulanan ya --") jadi mau menulis sebentar saja karena sebentar lagi jam tidur (yap, besok masih ngantor sehingga harus tidur jam 11 supaya besok ga ngantuk di kantor). Dan juga perlu tempat untuk 'pamer' foto-foto lebaran kemaren, wkwkw. Rada insecure kalo ngepost di instagram karena udah ga ada sense of privacy di IG, jadi agak burdensome aja kalo ngepost di sana, hehe.

Well, let's start. Jadi lebaran tahun ini (dan tiap tahun) hari pertama dihabiskan di Bandung, visit Uyut di Banjaran dan Keluarga Aki Bojongloa. Biasanya hari kedua di Bandung juga, gilirannya silaturahmi keluarga abi yang di bandung. Tapi tahun ini agak beda, dan kita langsung cus ke Depok di hari kedua. Alasannya adalah karena Keluarga Am Ade (adik Abi) yang berdomisili di Kapuas, Kalimantan, lagi pulang ke Depok sekeluarga setelah 7 tahun lamanya :o

Keluarga Bandung-Cimahi

Rutinitas setelah maaf-maafan: Foto time w/ timer!

Tim nunggu mobil menuju Banjaran

Keluarga Depok

Akhirnya anak nenek lengkap tahun ini.

Ketauan banget siapa aja yang tua

The girls!

Si adek kecil yang membesar

Satu-satunya keluarga yg gatau malu di silsilah rumah ini
Ketemu sanak saudara emang selalu menyenangkan dan emang momen banget untuk mempererat persaudaraan yang emang ketemunya jarang. Tapi hal yang lebih menyenangkan lagi adalah bisa spend more time bareng keluarga inti, yang notabene si adik-adik cowo ini sudah mulai besar (dan emang sudah besar) dan gamau ngomong kecuali sama gadgetnya. Kalau udah 'dipaksa' keluar rumah dengan minim wifi kaya gini, biasanya jadi bisa ngobrol sama mereka dan denger oppini-opini mereka. Disitu aku akan merasa, "wah, mereka udah besar banget ya. udah punya pemikiran sendiri. udah mulai milih jalan hidup sendiri. makin mandiri dan makin ga dengerin apa kata orang tua (wk)." Jadi, terharu :")


So, kapan ya family trip lagi?


Monday, May 21, 2018

Ramadhan Kantoran (2018)

Marhaban Ya Ramadhan :) Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya. Alhamdulillah, dipertemukan kembali dengan Ramadhan lagi tahun ini dengan kondisi yang sehat wal afiat tidak kurang satu apa pun. Semoga kita bisa meraih, menggali, menabung pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan ini dan menambah investasi kebaikan yang akan kita tuai untungnya nanti di akhirat nanti. Amiin.

So, ini adalah tahun pertama gue puasa sebagai karyawan kantoran. Beda? Beda banget. Sekarang gue ngerti kenapa semua orang bilang kangen Ramadhan di Bandung. Selain karena cuacanya lebih bersahabat di Bandung, tapi suasana di Bandung (terutama di kampus ya) itu sangat kondusif untuk kamu menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Apalagi dengan adanya oase bernama masjid Salman. Udah enak banget pokoknya. Mungkin untuk gue, selain Bandungnya, gue juga kangen puasa sebagai mahasiswa ataupun civitas kampus karena lu tuh ga begitu terikat oleh ruang dan waktu (#maksud?), dan bisa menyesuaikan ritme ibadah dengan jauh lebih leluasa. Tilawah di mushola bisa, mau tilawah di pojok selasar juga boleh banget, malah enak karena tertiup angin sepoi-sepoi dan lu ga bakal diganggu. Sholatnya ganti-ganti tempat dari mushola satu ke mushola lain bisa. Kalau bosan, bisa jalan-jalan juga sekitaran kampus. Waktunya juga bisa disesuaikan dengan jadwal kegiatan, karena lu ga harus bekerja straight 8 jam sehari. Jadi, paham kan maksud dari ga terikat ruang dan waktu? hehe

Nah, tahun ini pertama kali ngerasain puasa di kantor, adaptasi banget dan gue masih mencari cara banget supaya tetap nyaman beribadah. Apalagi kantor gue bukan yang terkondisikan untuk beribadah secara khusyu. Ga kaya kantor-kantor lain yang ada kajiannya, musholanya pun berukuran 2x3 sehingga seringkali sangat packed, penuh orang dan lu ga bisa lama-lama disana. Meja kerja juga  bukan tempat yang efektif untuk tilawah karena yaa, begitu deh, hehe. Sebenernya ada masjid di kampus samping kantor, tapi untuk orang kaya gue yang suka waswas dengan lautan manusia, bukan jadi opsi yang menyenangkan juga. Padahal 1/3 waktu gue dalam sehari dihabiskan di kantor dan sayang banget kalau ternyata gue ga bisa pake waktu sama sekali untuk nambah tilawah atau amalan yang lainnya.

Sampai sekarang, paling yang gue lakukan adalah, curi-curi waktu untuk dhuha dan nambah beberapa lembar di waktu itu. trus sebisa mungkin udan siap-siap sholat dari sebelum adzan, sehingga mushola masih sepi dan masih bisa punya space dan waktu untuk tilawah, karena kalo udah mulai berdatangan orang-orang, lu udah ga bisa ngapa-ngapain disana. Selama di meja, sebisa mungkin gue pake buat dengerin qur'an, loop ayat untuk nambah hafalan supaya nanti tinggal dilancarin aja begitu ketemu waktu untuk murajaah. Itu pun kalau ga tiba-tiba dipanggil, "Anisah!" hehehe

Yaa, begitulah. sejujurnya masih struggle untuk menyesuaikan diri dengan ritme Ramadhan di kantor. Mungkin kalian yang kebetulan lagi baca ini bisa ngasih ide atau berbagi pengalaman tentang ramadhan di kantor? I would appreciate it so much :)