Saturday, December 3, 2016

A bad habit leads problems : Ketika buku membawa masalah...

Beberapa waktu yang lalu, sempet baca sebuah artikel di website (lupa baca dimana) bahwa ternyata wanita menghabiskan rata-rata 20% gajinya untuk membeli pakaian dan aksesorisnya. Wah, 20% tuh lumayan banyak juga loh. Kamu gajinya 2 juta ada, berarti 400 ribunya kamu pake pake buat beli baju ?! ckckck. Sebenernya teori itu ga berlaku buat saya karena alhamdulillah jarang punya obsesi berlebihan dalam berdandan atau berpakaian. Tapi masalahnya, saya punya obsesi lain yang serupa dengan kegilaan wanita terhadap fashio. Obsesi sama buku! (>.<)

Saya emang suka banget baca buku. Mungkin keturunan, karena ayah, ibu, adik-adik saya suka baca buku juga dan kebiasaan itu terus terpelihara sampai sekarang. Ditambah saya tipenya suka baca buku fisik, ga suka baca dari layar, yang membuat saya menjadi suka membeli buku juga. Tambah lagi, Bandung punya Gramedia, Togamas, Rumah Buku, Toko Buku Mufti, dan Tazkia yang bikin opsi 'window shopping' buku jadi lebih menarik (yg berakhir dengan purchase, ga cuma window shopping -_-). Makanya, udah 4 tahun ini ga heran kalo banyak momen-momen kalap buku yang berujung sedikit penyesalan. Bukan penyesalan karena beli buku, tapi penyesalan karena ga punya uang lagi di akhir bulan :"

Saya orangnya suka ga mikir kalo urusannya sama buku. Akses buku murah yang gampang di bandung bikin belanja makin kalap lagi, and it becomes my habit, a bad habit. Kalo liat buku murah (apalagi dalam event pameran buku), "Ayo, nis beli. Itu lagi murah banget, kapan lagi bisa beli buku murah." Akhirnya... ambil satu buku. Pindah stand lain, "Wah, ada buku ini! Diskon lagi! Mumpung nemu." ambil lagi satu... Tau-tau udah numpuk dan akhirnya harus diseleksi lagi karena ga mungkin bisa beli semuanya. Hal itu berlanjut terus sampai sekarang dan menjadi semakin prah akhir-akhir ini.

Bulan November kemarin, kalau dihitung-hitung ternyata hampir 400-500 ribu untuk belanja buku :o berakibat harus berhemat ketat di akhir bulan :") Kalo udah kaya gini, mau ga mau harus ngasih hukuman buat diri sendiri "No more books for next two months" karena sebenernya saya tau, saya ga sedewa itu untuk menghabiskan 7-8 buku yang udah dibeli dalam waktu satu bulan, apalagi mereka bukan buku-buku novel.

Dalam refleksi pribadi, akhirnya saya menyadari bahwa kebiasaan buruk kaya gini harus segera disembuhkan dan keluar dari jeratan obsesi ini, yang mungkin keliatan baik tapi sebenernya banyak bawa mudharat.

Thursday, November 24, 2016

Departure

source : themavehotel.com

D+33 since my graduation. Seems like everybody has gotten busy with their individual activities again. Back to normal.

Departure. Setelah menempuh penerbangan yang lama dalam maskapai kehidupan kampus, kita semua udah sampai di bandara tujuan. Dan kemudian manusia yg ada di dalamnya berbondong-bondong turun dan berjalan menuju pintu keluar yang berbeda-beda, sesuai dengan passport masing-masing. Ada yang langsung pindah ke penerbangan menuju tujuan selanjutnya, ada yang transit dulu sebentar menunggu penerbangan berikutnya, ada yang menuju loket untuk memilih dan membeli tiket lagi, ada pula yang hanya termenung duduk diam belum ada niat untuk menentukan tujuan berikutnya.

It's' okay, ga ada yang salah dengan semua itu. Dan perjalanan setiap orang memang seharusnya berbeda, it supposed to be. Mungkin orang yang sedang transit akan iri melihat orang yang segera melanjutkan penerbangannya, mereka tidak akan mati kebosanan karena menunggu. Bisa jadi orang yang langsung terbang lagi sebenarnya mereka masih ingin istirahat dulu, menyiapkan diri untuk penerbangan selanjutnya. Orang yang di loket masih kebingungan menentukan destinasi selanjutnya, dia akan bertanya kepada banyak orang sampai hatinya mantap untuk membeli tiket penerbangan lagi.

It's all part of process. Tak apa menunggu sebentar, tak apa bingung sebentar, boleh telat sedikit, yang penting pada akhirnya kita bangkit dari diam dan siap memasuki perjalanan selanjutnya. Meskipun kondisinya akan berbeda dari sebelumnya. Mungkin penerbangannya tidak senyaman yang sebelumnya, tidak sesuai dengan ekspektasi, mungkin akan berganti bandara beberapa kali atau bahkan berganti tujuan. Itu semua resiko yang harus dihadapi.

But it's okay, asalkan kita semua bergerak menuju tujuan masing-masing. Karena kita tidak bisa selamanya berada di bandara ;)

Wednesday, July 13, 2016

You are what you choose to be

I love to get inspired. Rasanya luar biasa banget hidup kita dikelilingi begitu banyak hal-hal yang menginspirasi. Mulai dari sesuatu yang sangat dekat sampai sesuatu yang tak terduga, mereka datang begitu saja tapi tidak untuk pergi begitu saja. Mereka ada untuk berperan dalam hidup kita. Everything is meaningful if you realize, cepat atau lambat.

"Hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin. Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang paling berhak atasnya." -H.R. Tirmidzi

Kemarin baru selesai baca buku bagus banget. Judulnya 'Sukamiskin's Springboard'.



review sedikit:
'Kumpulan Catatan Renungan Kala Diri Berjarak dengan Kemerdekaan'. Penulis buku ini adalah para napi yang sedang menjalani masa 'pembelajaran' di Sekolah Kehidupan (suka banget istilahnya <3) Sukamiskin, Bandung. Meskipun penulisnya berbeda-berbeda, tulisan dalam buku ini dirunut sedemikian rupa sehingga beralur, mulai dari cerita tentang apa dan bagaimana Lapas Sukamiskin itu, berlanjut ke kisah-kisah para napi di awal kehidupannya di sana, kesulitan yang mereka hadapi, bagaimana mereka menerima kenyataan, sampai pelajaran yang mereka dapatkan dari sekolah kehidupan ini. Lumayan surprise karena ternyata hampir seluruh tulisan menceritakan bahwa mereka sangat menikmati kehidupannya di Sukamiskin. "Mempersiapkan kehidupan akhirat," katanya. Sel sempit 1,9x2,7 meter bisa begitu nyaman dan tempat merenung yang paling syahdu, bahagian akan palnggilan adzan shubuh, makanan jatah yang begitu menggoda. Bahkan tampaknya lebih banyak hal yang mereka syukuri di bandingkan ketika mereka ada di dunia nyata yang bergelimang harta.

Buku ini meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Udah lama ga baca buku dengan menyenangkan dan sefokus itu karena kepalang isi kepalanya TA semua dan bersyukur aku bisa baca buku ini di awal-awal dia baru terbit.

Beberapa hari kemudian, sekeluarga pergi nonton film kekinian di bioskop. Judulnya "Rudy Habibie"


Bercerita tentang Habibie muda sebelum bertemu dengan Ainun dan bagaimana kehidupan awal dia di Jerman. Review-nya pasti udah banyak dimana-mana jadi ga bakal ditulis di sini. Aku cuma mau ngasih empat jempol lima bintang buat mas Reza Rahardian yang bisa senyata itu bawa karakter Habibie ke dunia nyata. Bagus banget aktingnya <3 Dan filmnya juga sebagus itu mengingat seorang Habibie yang insinyur dengan latar pendidikan engineering, kurang lebih aku paham dan sepakat sama pemikiran Habibie.

Malamnya, nonton TV lagi tayang ulang film Harry Potter and The Chamber of Secret. Sampai di scene terakhir ketika Harry datang ke Dumbledore setelah berhasil mengalahkan Voldemort di Kamar Rahasia. Ketika Harry mengetahui fakta bahwa dia dan Voldemort sama-sama Parselmouth, bahwa dia berbagi kemampuan yang sama sepertinya. Lalu, Harry mulai berpikir bahwa seharusnya dia mengikuti apa kata Topi Seleksi untuk masuk ke Slytherin. Namun, Dumbledore menenangkan Harry dengan :


Bukan kemampuan yang akan menentukan kita menjadi apa. Tapi pilihan kita. 


Siapa coba yang ga jatuh hati sama Dumbledore >.<  abaikan

And that's what it all means. Kita adalah pilihan kita. You are what you eat, you are what you read, you are what you dress, you are what you think, YOU ARE WHAT YOU CHOOSE TO BE. 

Seandainya para napi menganggap penjara adalah neraka, akhir hidup mereka, selamanya mereka akan sengsara di dalamnya. Tapi mereka menerima dan bersyukur atas hal tak terduga dan menjalani dengan sepenuh hati. Mereka memilihnya.
Rudy Habibie memilih Indonesia daripada kekasihnya Illona, dan dia memilih untuk berjuang untuk Indonesia.
Harry memilih untuk masuk Gryffindor, tidak Slytherin seperti sugesti dari Topi Seleksi dan menjadi penyihir yang penuh keberanian dan berdedikasi. Mungkin kalo Harry masuk Slytherin, dia akan menjadi jaya seperti Tom Riddle dan akan jadi Voldemort Junior (who knows?). Tapi Harry tidak memilih itu.

Jangankan para napi, Habibie, atau Harry Potter yang memilih hal besar. Dalam hal-hal kecil pun kita diminta memilih. Ketemu orang rese banget, kita mau ikutan kesel atau stay cool aja? Bad day, dibantai dosen abis-abisan, mau ngeluh dan cari alasan ini-itu atau lapang dada dan optimis? Hey, itu semua tergantung pilihan kita loh :)

Ingat, you are whay you choose to be ;)


Saturday, June 25, 2016

Self-Reflection : Merasa Cukup



#self-reflection

Akhir-akhir ini lagi diuji banget sama nafsu diri sendiri. Pengen ini-itu beli segala macem.

"Kan puasa, jadi pengen makannya yang enak."
"Pengen beli baju bagus deh, masa bajunya gitu-gitu aja?"
"Kayanya aku butuh tas lagi, yang beda model...."

Kadang-kadang hal itu berakhir di angan-angan, tapi ga jarang juga niatnya direalisasikan dan berakhir dengan beli macem-macem.

Huft.

Trus ga sengaja nemu video ini di FB dan *prakk* bagai ditampar sana-sini.

"It's not as though you feel satisfied after collecting a certain amount of stuff. Instead, you keep thinking about what you're missing."

You must know about it better, nis. Entah dari orang tua, mentoring (either ngementor or dimentor), kajian, ceramah, buku, atau dari mana pun itu, bahwa manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Bahwa akan selalu ada pertarungan antara nafsu dan akal (iman) dalam setiap diri manusia. Mau pilih yang mana? Pilih nafsu, kamu tau resikonya. Pilih akal, kamu tau ganjarannya.

Jadi, berhenti mencari kekurangan diri sendiri, dan mulai lebih banyak bersyukur.


Selamat menunaikan ibadah 10 hari terakhir Ramadhan teman-teman :)
Dapat reminder bagus banget dari ProductiveMuslim. Let me quote it here ya.

Assalamu'alaikum Anisah, There's a phenomenon in distance running, whereby an athlete who is too out of breath and tired to continue running will suddenly find new strength to push forward during a race.. this is called the "second wind".. and it's well documented by sport scientists and athletes.The interesting thing about this phenomenon is that, normally, few minutes before it kicks in, the athlete feels very tired and even considers quitting the race, but once he/she passes that point.. the 2nd wind kicks in and they are running fast!When I first read about the 2nd wind, I wondered if there's a "spiritual 2nd wind".. especially during Ramadan..Most people after 20 days of Ramadan are feeling tired.. and may consider "quitting" by reducing their spiritual activities and "taking it easy" before Eid.. but my advice is to find your 2nd wind for these last 10 nights and end Ramadan just like an athlete on a high note..Here are 5 practical ways to find your 2nd wind for these last 10 nights:Renew your intention: Remind yourself why you want to give this Ramadan your best. Why you shouldn't give up now and why you should push forward and make the most of the last 10 nights.
Watch motivational videos: Watch one or two motivational from our respected scholars that talk about the virtues of the last 10 nights and the virtues of laylatul Qadr. This helps to charge you up for these last remaining days.
Renew your outer appearance: If you've been going to the masjid with your shabby prayer clothes, why not change it up and wear something that makes you feel good and makes these last 10 nights feel special. You'll be amazed how your outer appearance has an impact on your inner state.
Plan the last 10 nights: Plan every single night (and day) for the last 10 nights - hour by hour. Putting pen to paper and planning your nights/day could mean the difference of having a productive last 10 nights or not.
Keep reminding yourself of Death: Remember - this could be your last Ramadan and you may never have another Ramadan again. If that was the case, what would you do in these last 10 nights that'll make you feel that you've given these last 10 nights your best possible effort and there's nothing more that you could’ve done extra?
I hope the above 5 tips help you find the 2nd wind you need to finish this beautiful Ramadan race on a high note.I'm praying for your success - in this life and the next!
Sincerely,Mohammed FarisFounder & Chief Productivity Officer


I strongly recommend you to join their newsletter. They share very useful and practical productive tips. *thumbs up*

Sunday, June 5, 2016

Kisah Indah Ramadhan - Shalat Tarawih

Menuliskan kembali taujih dari Ust. Imron waktu tarhib ramadhan. Suka kisahnya :D

Shalat tarawih yang kita kenal sekarang, pada awalnya bukanlah bernama shalat tarawih tapi shalat Qiyamul Ramadhan (dan memang nama yang benar adalah qiyamul ramadhan).

Sunday, May 29, 2016

Kisah Indah Ramadhan - Tata cara puasa

Sabtu kemarin, dua orang yang lagi-butuh-banget-oase-dalam-hidup (saya dan Asma) berangkat ke Masjid Trans Studio. Di sana sedang ada acara Tarhib Ramadhan dengan pengisi Ust. Salim A. Fillah. Meskipun dateng telat banget karena ga tau angkot, alhamdulillah dapet beberapa cerita yang menurut saya menyenangkan dan indah sekali. Saya ingin menuliskannya kembali dengan versi saya sendiri. Begini ceritanya.

Ketika perintah shaum Ramadhan diturunkan, Allah belum menjelaskan tata cara pelaksanaannya sehingga ibadah shaum ini dilaksanakan mengikuti tata cara puasa kaum terdahulu. Yaitu, puasa dimulai dari bangun tidur (berarti tanpa sahur) dan berbuka ketika malam sudah sempurna yang mana saat sudah tidak tampak lagi garis warna merah/jingga terang di langit yang adalah waktu sholat isya.