Sunday, August 6, 2017

Books I've recently read : Women and stuffs

Hi there again.
Kali ini mau sharing tentang buku-buku yang udah saya baca, as I usually do, tapi kali ini berfokus pada buku tentang pemberdayaan wanita, para wanita, or simply tentang wanita. As I love to get inspired, saya senang sekali membaca buku-buku ini karena memberikan banyak inspirasi untuk terus bergerak dalam hidup dan tetap punya dginity sebagai wanita. Atau seringkali merasa kecil karena belum melakukan apa-apa dalam hidup ini sebagaimana wanita-wanita inspiratif itu. Apalagi mereka adalah sesama wanita seperti saya, makanya jadi kisahnya lebih terasa nyata dan lebih mengena.And of course, those are the books that I've really enjoyed, so I would be glad if you try to read them too.

Disclaimer : ini adalah murni pendapat pribadi, tanpa sponsor (ya iya lah), dan hanya berdasarkan pengalaman dari buku-buku yang pernah dibaca, which is subjektif karena sedikitnya buku yang sudah saya baca sehingga saya sangat terbuka dengan berbagai rekomendasi yang lain.



The Dressmaker of Khair Khana (Gayle Tzemach Lemmon)

Buku ini berlatarkan daerah konflik di Afghanistan dimana daerah ini 'disandera' oleh Taliban dan tidak memungkinkan bagi para wanita untuk keluar rumah dengan bebas. Para pria dalam keluarga banyak yang keluar dari rumahnya untuk ikut berperang sehingga semakin sedikit keluarga yang mempunyai penghasilan dan mampu menghidupi anggotanya karena mereka kehilangan tulang punggung keluarga. 
Begitu pula degan Kamila Sidqi yang harus mensupport kehidupan 5 saudara perempuan yang lain, dia memutuskan untuk membuka usaha jahit pakaian. Dalam buku ini diceritakan cerita perkembangan usaha dia mulai dari Kamila berjuang sendiri sampai dia dapat membuka lapangan pekerjaan untuk wanita-wanita di lingkungannya.
Saya belajar kecerdasan berbisnis dari sosok Kamila bagaimana dia melakukan segmentasi pasar, melakukan marketing, pembagian kerja dengan saudara-saudaranya, hingga diversifikasi produk dengan cara yang amat sederhana. 

I am Malala (Malala Yousafzai)

Masih terinspirasi dengan Malala dan review detilnya udah pernah saya tulis disini (plus curhatannya, hihi). Saya masukkan lagi ke list karena pas banget dengan tema women empowerment.

Mimpi Sejuta Dolar (Merry Riana & Alberthiene Endah)

Buku ini saya baca tahun 2011, tapi masih berkesan sampai sekarang. Tentang perjuangan Merry Riana bertahan hidup di Singapura, membiayai kuliah dan kebutuhan hidup sehari-harinya. Bagaimana dia melewatkan hari-hari penuh perjuangan dengan menjadi sales person di mall-mall, dari yang tidak berhasil mendapat customer sepanjang hari sampai dia bisa punya client banyak. 
Kisah hidupnya memang menginspirasi sekali dan Merry Riana adalah sosok motivator wanita terkenal hingga saat ini. Menurut saya, semuanya worthy setelah apa yang dia lalui, dan membuat saya dan banyak orang terus percaya untuk bekerja keras. Hard works pay off :)

Thrive (Arianna Huffington)


Buku ini sebenarnya bukan tentang wanita sih, lebih ke wisdom of life in general yang simple tapi sangat mengena dan seringkali kita lewatkan padahal mereka sangat penting. Tapi dimasukkan ke dalam list ini karena sosok penulisnya Arianna Huffington sendiri yang merupakan 'wanita hebat' zaman ini. 
Seperti yang kita semua tahu, dia adalah pendiri surat kabar terkenal, Huffington Post, dan sekarang menjadi Board member di beberapa perusahaan besar, salah satunya Uber. Dia juga suka memberi inspirational talk di TED, termasuk tentang pentinganya tidur (I lover her ;p), haha. 
Sebenernya ada satu lagi buku dari pengarang wanita yang ingin saya baca, yaitu Lean in, tapi belum tercapai. Semoga segera ya.


Eat Pray Love (Elizabeth Gilbert)
Buku ini salah satu memoir favorit saya. Tentang Liz yang mencoba mencari makna kehidupan dengan travelling sendiri ke Italy, India, dan Indonesia (bali lebih tepatnya). Cerita Liz sangat menghibur bagi saya sekaligus berkesan karena jadi ikut merasakan mental struggle-nya Liz. Membaca kisah ini juga menginspirasi saya untuk travelling lebih banyak, hihi (yang sampai sekarang masih wacana).












Bonus :

Three Cups of Tea (Greg Mortenson & David Oliver Relin)

Buku ini sebenarnya bukan tentang wanita dan bukan juga ditulis oleh wanita. Buku ini menceritakan dengan Greg Mortenson, seorang nurse yang hobi mendaki gunung, dimana dia diselamatkan oleh penduduk lokal setelah terpisah dari rombongan pedakian K2 dalam keadaan sekarat dan bersumpah akan membalas jasa mereka dengan membangun sekolah di desa tersebut. Janji ini mengantar Greg pada kehidupan baru yang pada akhirnya membuat dia menjadi sosok pahlawan pendidikan di Pakistan dan daerah konflik lainnya. 
Saya memasukkan buku ini di list karena terkesan dengan filosofi bergeraknya Greg yang sangat menekankan pada pendidikan untuk para anak-anak perempuan di Pakistan di mana mereka tidak bisa mendapat fasilitas pendidikann yang sama seperti anak laki-laki. Perjuangan Greg ini berbuah berhasilnya anak-anak perempuan di desa yang melanjutkan sekolah hingga pendidikan tinggi, dan sebagian besar dari mereka kembali lagi ke desanya dan menjadi penggerak kesehatan di sana.
Saya juga terkesan banget dengan pemikiran Greg seperti yang saya kutip :

"Once you educate the boys, they tend to leave villages and go search for work in the cities. But the girls stay home, become leaders in the community, and pass on what they've learned. If you want to change a culture, to empower women, improve basic hygiene and healthcare, and fight high rates of infant mortality, the answer is to educate girls."

Ga salah sih kalau wanita disebut tiang negara. Praktisnya sama seperti apa yang Greg katakan diatas, bahwa betapa pentingnya pendidikan, untuk wanita juga :)

Friday, August 4, 2017

Pendapat tentang sukses dan struggle

Kalau ada orang bisa menghafal satu halaman Qur'an hanya dengan 10 menit dan ada orang yang baru bisa menghafal satu halaman Qur'an setelah 1 jam, mana yang lebih baik? Mana yang lebih banyak pahalanya?

Tergantung. Tapi kemungkinan besar orang yang butuh sejam lah yang berkesempatan mendapat pahala lebih banyak. Kenapa?

Karena satu jam yang dipakai untuk menghafal, full diisi oleh bacaan Qur'an. Dia akan mengulang-ulang ayat Qur'an yang mau dia hafalkan, dibaca lagi, dihafal lagi, diulang lagi hafalannya sampai selesai sudah satu halaman dia hafal semua.
Bukannya bisa menghafal cepat itu lebih baik? Belum tentu, bisa jadi dia bisa hafal satu halaman hanya dengan waktu sepuluh menit. Tapi ternyata sisa 50 menitnya dia pakai untuk main game yang ga ada faedahnya. 50 menitnya luput diisi oleh menghafal halaman selanjutnya, padahal dengan waktu sejam, dia bisa menambah hafalan 6 halaman.

Bisa dianalogikan ke kehidupan juga sih konsep ini. Ga selamanya orang yang suksesnya cepat itu lebih baik. Ada orang yang ga perlu struggle lama untuk mencapai mimpinya. Ada orang yang bisa cepet kaya, cepet nikah, cepet punya anak, cepet jadi professor. Tapi ada juga orang yang struggle banget, hidupnya penuh cobaan dan ujian, dan kayanya jauuuh banget dari kesenangan hidup. Siapa yang lebih baik hidupnya? Lebih berkah hidupnya?

Ya, tergantung.

Ketika orang bisa sukses dengan mudah, bisa memiliki pencapaian hidup dengan cepat, maka dia haru segera berpindah menuju pencapaian sebelumnya. Supaya ga banyak waktu sia-sia yang terbuang. Itu rezeki dia, dengan segala akselerasi dalam hidupnya, dia bisa memiliki banyak hal dan mencapai banyak hal dalam hidup. Tapi, kalau cepat sukses naun gampang terlena, waktunya habis untuk banyak kesia-siaan. Menikmati kemewahan hidupnya.
Sedangkan orang yang struggle dan tidak menyerah dengan tujuannya, maka kemungkinan besar hidupnya selalu diisi oleh attempt-attempt yang baik, selalu bersyukur, bersabar sambil menikmati proses menuju pencapaiannya. Bisa jadi dalam perjalanannya dia mendapat pelajaran hidup yang banyak, dikasi kesempatan untuk beramal yang banyak dulu, berdoa yang banyak, beribadah yang banyak, sehingga prosesnya selalu diisi oleh hal-hal yag bermanfaat.

So, that's okay kalo struggle. Ga perlu iri dengan keberhasilan orang, karena untungnya Allah nilai kita dari proses, bukan hanya dari hasil. But for some people out there who are lucky enough to achieve success quickly, segeralah berpindah mencari proyek kebaikan selanjutnya karena keerhasilan kadang emang melenakan.

Tuesday, July 4, 2017

Tujuan Hidup yang Butuh Ditata

Harusnya manusia ga bakal pernah kehilangan tujuan hidupnya. Tujuan manusia hidup di dunia itu apa? "Beribadah kepada Allah SWT." Selama kita masih percaya dengan pernyataan ini, harusnya manusia ga akan pernah kehilangan arah hidupnya. Beribadah itu konteksnya banyaak banget, dan opsi-opsi ibadah itu ga akan ada habisnya, mau kita setua renta apa pun. Mau kita sudah punya seluruh harta di dunia, pergi ke suluruh belahan dunia, sudah mencapai puncak karir, tapi kesempatan beribadah itu tidak akan pernah habis. Pada akhirnya, manusia memang dituntut untuk selalu bergerak dalam hidupnya. Bahan, ketika kita sudah abai dengan dunia, ga punya keinginan apa-apa, ga ingin bekerja, ga peduli dengan uang, tidak memiliki keluarga, toh selama kita masih bernafas, kita masih harus tetap sholat, puasa, dan zakat. Itu opsi ibadah yang paling minimal.

Ladang ibadah di dunia ini sangatlah luas, tak terhingga.

Tapi, dengan tujuan hidup 'beribadah kepada Allah' ini, kita tidak bisa membatasi diri sendiri, di dunia kecil hasil rekayasa kita sendiri, dengan obsesi yang ga berujung dan kadang lupa daratan. Karena ladang amal yang Allah tebar begitu luasnya, sehingga ga layak bagi kita untuk membangun agar batas sendiri. Merasa pagar yang kita bangun ini sudah benar dan paling baik. Dan mungkin itu yang sedang aku pelajari. Belajar menghancurkan pagar batas yang aku bangun sendiri di ladang yang begini luasnya.

Belajar menata hati, menata pikiran, menata prioritas. Semakin lama, semakin sadar, mugkin sekarang lagi kehilangan prioritas dan jadi disorientasi pikiran dan hati, mana pikiran dan mindset yang harus didahulukan. Kadang, menjadi begitu ambisius untuk 'beribadah kepada Allah', mengejar sesuatu di dunia, tapi pada akhirnya hal itu tak lebih kurang hanyalah hawa nafsu semata.
Sepertinya aku lupa pada konsep tawakkal setelah ikhtiar, di mana harus seimbang antara keduanya tanpa berat sebelah.

Akhir-akhir ini jadi susah membedakan mana impian yang murni ibadah, mana yang ternyata cuma hawa nafsu pribadi aja. Terkadang kita sangat menginginkan sesuatu hingga takut kehilangan, tapi pada akhirnya hal itu dicabut jauh dari diri kita, terkadang dengan cara yang menyakitkan. Mungkin kita menjadi sangat sedih, menangisi, meratapi, tapi bisa jadi kita tak sadar bahwa ambisi itu menjadi tumbuh menjadi racun dalam diri kita sendiri, yang bisa membutakan hati, menjauhkan kita dari prioritas yang hakiki, yaitu ibadah itu sendiri.

Makanya, perkataan "orang yang mengejar dunia akan mendapatkan dunia, tapi orang yang mengejar akhirat akan mendapat dunia dan akhirat" itu benar. Bukan berarti mengejar akhirat itu selesai dengan ibadah mahdhah atau ibadah ritual semata. Tapi dengan selalu melibatkan Allah, dengan selalu memprioritaskan ibadah dan percaya dengan ladang amal yang Allah sediakan buat kita membuat kita lebih ikhlas menjalani apa-apa yang menghadang dalam hidup.

Barakallah buat kita semua :)

Tuh, nis. Ini semua tuh materi mentoring yang udah kamu hafal, udah kamu sampaikan berkali-kali ke adik-adik. Tapi ternyata prakternya di dunia nyata, susahnya minta ampun :"

Wednesday, June 28, 2017

Trust me. tadi gue udah nulis post baru panjaaang banget, tapi gara-gara internet yang super ga jelas ini, tiba-tiba semua tulisan itu hilang entah kemana. Ga ada di draft, ga ada di list published post. Hilang ditelan bumi.

And I am totally not in mood to type down AGAIN all of previous writing, so here it is. Mengisi blog post baru dengan tulisan ga jelas. Semoga ada lagi niat buat nulis di blogs di sertai kondisi internet yang memadai.

Friday, February 24, 2017

Resolusi Si Penggemar Kucing

Kok judulnya gitu? Jadi gini ceritanya..

Saya punya adik mentor, sebut saja N. Anaknya suka semau sendiri, tapi yang pasti dia penggemar kucing. Ada satu kebiasaan dia yang bikin saya heran sekaligus kagum.

Setiap hari dia bawa sebotol makanan kucing ke kampus.

Waktu pertemuan perdana mentoring, di tengah-tengah pemberian materi, seperti biasa, ada satu kucing berseliweran. N langsung memanggil kucing itu, 'Waduh mau ngapain nih' sebagai anti-kucing, saya ogah banget ada kucing ikutan mentoring saya /-_-/ Ternyata N mengeluarkan sebuah botol dari dalam tasnya, "Sini, kamu laper ya" dan diberilah makan si kucing itu. Saya cuma bisa melongo. "Kamu tiap hari bawa itu?" "Iya kak" "Dikasih ke kucing mana?" "Mana aja kak, seketemu di jalan aja, hehe" "Habis ga tiap hari?" "Biasanya abis sih kak" "ooo (kemudian speechless)". Ketika itu cuma ada satu yang di kepala saya. Salut.

*****

Pertemuan mentoring awal tahun ini, saya buka dengan kegiatan menulis resolusi tahunan. Saya minta setiap mentee saya menulis hal-hal yang ingin mereka capai tahun ini di sebuah kertas. Semuanya asik menulis mimpi-mimpinya yang bisa mencapai satu kertas penuh. Tapi N selesai menulis lebih cepat dari yang lain. "Udah?" "Udah kak, aku ga nulis banyak sih hehe" "Liat dong". Lalu yang pertama dia tulis di kertas adalah

1. Jadi lebih baik sama kucing-kucing di kampus

/gulp/

*****

Mungkin untuk sebagian orang, resolusi ini terlihat lucu. Tapi saya cukup tertancap dengan kalimat ini, ugh, straight to the heart /apasih/ Saya langsung malu dengan resolusi saya, 'Berangkat S2 tahun ini' 'Dapet beasiswa' 'Bisa Qurban sendiri' dll, yaa mungkin terdengar bagus dan besar, tapi terdengar egois juga.

Mimpi besar selayaknya disupport dengan mimpi kecil, mendambakan hal besar dimulai dari memiliki hal-hal sederhana. Seberapa pun besarnya resolusi, apa gunanya kalau ternyata memperbaiki diri setiap hari, sedikit demi sedikit saja kita belum bisa, bahkan belum terpikirkan? Sesimpel N yang ingin makin baik sama kucing-kucing kampus, dia bikin small step untuk memperbaiki dirinya, untuk memberi manfaat buat orang lain (ups, makhluk lain maksudnya, hehe). Mungkin saya juga harus bikin resolusi simpel, 'Ga jajan kalau ga lapar' 'Lebih banyak senyum sama orang' gitu ya?

Orang-orang simpel tuh emang suka inspiratif ya :")

*****

Ya udah begitu aja ceritanya..
Plus bonus foto kucing makan dan botol makanan :)


Monday, January 9, 2017

Setelah masuk ke dalam proyek dosen ini dan menjalani kehidupan 'selayaknya' bekerja, entah pikiran jadi lebih tenang daripada masa 'menganggur' dulu.

Sebelumnya kerjaannya galau terus, browsing sana-sini, cari kerjaan yang bisa dilakukan sambil nunggu LoA dari kampus yang udah didaftar, galau (lagi) ga jelas. pokoknya pikirannya disibukkan dengan hal-hal pribadi yang mengganggu, bisa dibilang kekhawatiran yang berlebihan.

Begitu sudah punya hal yang dikerjakan, pikirannya jadi lebih fokus, kerjaan jadi lebih jelas, pikiran udah ga mondar-mandir kesana kemari lagi karena kita punya prioritas yang harus diselesaikan. jadi lebih tenang, istirahat juga lebih nikmati, dan kesendirian lebih dihargai.

Manusia memang harus bekerja, harus bermanfaat untuk orang lain, biar tidak disibukkan dengan urusan diri sendiri saja.

Jadi inget taujih ustadz tentang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu. 'Kalau kita tidak disibukkan dengan proyek-proyek kebaikan, maka pasti pikiran kita, kegiatan kita akan penuh dengan hal yang sia-sia'. :"(

Friday, January 6, 2017

Syukur di Malam Sabtu

Manusia yang bekerja Mon to Fri, 8 to 4 (atau 9 to 5) pasti ngerti banget betapa membahagiakannya malam sabtu, seperti malam ini. Begitu jam menunjuk angka 4 pada hari jumat, waah pikiran udah liar kemana-mana, malam ini tidur jam berapa, besok mau ngapain, lusa mau ngapain, mau nonton apa, baca apa :)

Saya bersyukur bisa jadi yang merasakan itu :) rasanya tak perlu susah payah untuk mencari pengalaman bahagia, cukup jam 4 di hari jumat sudah seperti terapi 'how to be happy', hehe

Seperti malam ini, bisa menghabiskan waktu ngoceh di blog, bukan nulis draft Job Safety Analysis seperti tadi malam. Dan bisa pergi tidur tanpa pikiran besok pagi harus mandi jam setengah 7 :")

Alhamdulillah, terlalu banyak hal yang bisa kita syukuri, seperi malam sabtu ini :)