Sunday, December 31, 2017

The Dawn of 2018

Okey, jadi sekarang sudah kurang dari 2 jam lagi menuju tahun baru, waktu yang sangat tepat untuk diisi dengan kegiatan pra-mengantuk dan biasanya di penghujung tahun, orang-orang akan menulis refleksi atau pun highlight hidupnya setahun, so here I am.

Blog ini memang sudah seperti tempat sampah pikiran aja ya, seenaknya nulis disini. Tapi lebih tempat sampah diary tulis sih, cuma lagi malas menulis manual sekarang.

Jika melihat 2017 kembali dari januari hingga sekarang, hmm, lumayan banyak ya yang terjadi. But mostly wasn't about me. Well, saya bekerja untuk pertama kalinya sebagai asistem proyek untuk waktu yang lumayan lama, 8 bulan. dari sana dapet kesempatan bolak-balik Bontang, stay di sana kurang lebih 1 bulan, dan dapet banyak pengalaman dan gambaran tentang life as an engineer, apa yang akan saya hadapi dan skill apa saja yang harus saya punya. I owe much to Pak Augie, Prof Yul, dan Pak Tua for this. Dan juga jajaran alumni TF di Badak NGL, terima kasih banyak atas kesempatannya. Lalu karena rencana masa depan yang masih buram (yang curhatannya lumayan banyak ya di blog ini wkwk), akhirnya saya memutuskan untuk pindah bekerja tetap sebagai karyawan swasta, yang saya masih jalani hingga sekarang, dan kali ini bener-bener ngerasain gimana the real work life is. It definitely have pro and cons for my future plan, but I decided to take it slow and give more careful thought on this. So, it is quite interesting way to go. Udah komitmen sih, seenggaknya satu tahun mau kerja dulu to gain some new skills, karena sebenernya apa yang aku kerjakan di kantor sangatlah berbeda dari yang dipelajari dan pernah aku kerjakan. Jadi, setidaknya aku harus punya skill baru yang berguna, seperti skill komunikasi yang baik dengan klien, skill negosiasi dan some new knowledge on project management. Then, I think I will be confident enough to decide my next move for further career path.

Paling yang bisa diceritakan tentang diri sendiri yaa cukup sekian yaa. bagi-bagi sama post-post sebelumnya dan apa yang tertulis di dalam buku diary, juga bagi-bagi dengan post di instagram, goodreads, hmm, mungkin dua itu yang masih dijamahi ya. Ohya, sadly, reading challenge di goodreads tidak terpenuhi per hari ini, yang targetnya 30 buku per 2017, hanya berhasil menyelesaikan 28 buku. Tinggal dua lagi, hiks. But I wrote many reviews this year, glad that it can be my portofolio of book, thing I love so much. Pencapaian baru adalah akhirnya Anisah qurban sendiri guys. Ya Allah, kenapa baru sekarang, hiks. dulu pas kuliah tuh kayanya berat banget ngelepas uang 2,5 juta aja, tapi alhamdulillah sekarang diberi kelapangan rezeki jadi bisa kurban. Insyaa Allah doakan semoga bisa jadi kebiasaan ya.

The other point is 2017 was much about my good friends and family. Banyak sahabat terdekat yang punya momen istimewa di tahun 2017 ini dan alhamdulillah bisa jadi saksi peristiwa bahagia tersebut. Fiftythree's yang akhirnya semuanya berhasil wisuda, yey!! dan yang paling penting para bidadari jiwa yang menggenapkan setengah agamanya. Dibuka dari Arina, Atifah, Upah, Iin, dan Faizah yang semuanya (kecuali faizah, huhu), Allah kasih kesempatan ke saya untuk jadi mendampingi hari besar mereka dari tempat yang lebih dekat. Wah, kalo dipikir-pikir ga percaya deh semuanya terjadi di 2017 :") What a year ya. Sekarang bahkan 3 dari mereka udah bersiap menyambut manusia baru dalam kehidupannya, uhuhuhu so happy :) Ohya, 2017 juga tahun kehidupan baru buat Hilmi yang jadi anak kuliah dan Azzam yang jadi anak SMA. Udah gede banget ya sekarang :"( brb inget umur.

For me personally, 2017 was my inner-battle with my dream, emotion, and reality. Banyak dikasih pelajaran kehidupan dan merasa makin 'dewasa' (yang bisa jadi positif atau negatif) dalam kehidupan sehari-hari, dalam menghadapi masalah dan memandang hidup. What is it, Nis? Well, unfortunately it won't ever come out, from my mouth or in the writing because it is inside you and you have to experience it yourself, wehehehe. Rada nge-sok gini tapi mungkin menjadi dewasa itu memang seperti itu ya. You stand on your own and have a firm principle. Suatu proses yang ga bisa diganggu oleh orang lain.

Ya sudah, saya mulai meracau ga jelas kaya gini, mungkin sebaiknya diakhiri yang tulisan ini.
2018, I am ready insyaa Allah :)

Sunday, December 10, 2017

A bite of self-reflection

I enjoyed solo-travelling, when it just a short distance like Jakarta-Bandung vice versa or slightly farther, especially using train. Well, Jakarta-Bandung is already like my monthly routine, but I also like it when I have to do some business trip to another province using airplane, mostly alone and I always ask for seat beside the window when I check-in. I love the time when I can dozed off beside the window of train or airplane, looking outside, enjoying the scenery. So, enjoyable me-time that hardly you got when you enter eight-to-five-working-and-staying-all-day-at-office life. I even purposely ask for L**n Airline for my flight to the purchasing officer when I know that the flight will have 99.99% possibility of delay, so that I can have enough time to catch up on my book. Kind of silly, but I really cherish those time, I really need that.

Well, that's not my point actually. As I said, I enjoy sitting beside the window, particularly observing people throughout the journey. What interest me the most is when I see the officers watching the train or airplane take off. Every time a train passing a station, there always will be an officer or two (usually the head of station and the security) that stands by and observe the whole train, and I will watch them instead. I don't know why every station do that, but I think the purpose is to check the train operation, whether the train is running smoothly or they came in time and maybe they will have to report every train that pass through their station. Quite a work :") I mean, how many train will pas in a day and they have to go out every time, checking those trains. My latest trip to Bandung was yesterday and I find myself looking at them again and again every time my train passing a station. And suddenly I feel a little bit emotional, because I realized how my trip is supported by many people, even they are someone i don't know. It was just simple as a train that going on a long rail to reach the destination, but how many people are there to make it happen, in a single simple trip as Jakarta-Bandung train.
It also happen when I take a flight. Every time a airplane will take off, there will be a bunch of people outside, near the take off route, waving at the airplane as if they are letting go the airplane and wishing for their safety during the flight. It was pretty touching because I realized to make one flight happen, there are so many people behind the scene supporting it. Not only the pilot and the flight attendants, but there are also the technicians, the porters, the security officers, the drivers, and so on which I can't mention them all. So I was very touched by everybody's effort to make something happen and how they are so proud of doing it every day, every time.

It was quite a life reflection to me, I am a big dreamer but I also kind of doubting myself a lot. And I failed a lot so there are many times when I want to stop dreaming, quit striving for it. My willpower also needs refreshment, and I have to remind myself over and over again about what I want to do in my life. I often feel fear of not reaching where I want to go, my goals which I once define in detail but it looks so blurry now till I don't know where to look for.
Then, looking at the people in the station and airport, makes me feel warm and assuring a bit. I feel like whenever I feel losing of purpose, one thing will stay true that I have to be someone who gives meaning to other people, be kind. In the end, it is all about kindness and what you can give to life. I really want to become one of those, who stay true to myself, whatever things happen in my life, I hope I won't miss the big goal.

Friday, November 24, 2017

[Review] My Weekend Movie-Marathon

This was supposed to be posted last week, but right after Monday came, I became so lazy at home, even didn't bother to open my laptop a bit (so she got a full week of rest :p) and because my another weekend will start soon, so I forced myself open this page again. For a piece of mind :)

So, last weekend was a blessed one, no social meeting, free from any kondangan or date with friends, and since I had full time for myself and I decided to do movie marathon. Rasanya udah berabad-abad ga nonton di laptop dan sekilas dapet inspirasi dari bukunya kak Urfa tentangan bagaimana 'cara' seorang introver menghabiskan liburannya, akhirnya langsung jadi mode super niat buat segera searching ada film bagus apa yang belum aku tonton. And here comes the list.

The Big Short (2015)




Penasaran banget sama film ini semenjak dengerin Himmah cerita tentang House Bubbling dengan begitu semangat, so I decided to go with this one first. And it was actually really interesting, kind of educating and entertaining at the same time. Singkat cerita, film ini membahas tentang sebab tragedi House Bubbling yang secara nyata terjadi di US pada tahun 2008, dan bagaimana para pemeran utama mengambil keuntungan dari momen tersebut. Meskipun setelah nonton filmnya, masih harus browsing sana-sini supaya lebih paham, overall film yang sangat menarik. Oh, dan satu lagi, A-list castnya juga minta dikomen banget, dari Christian Bale, Ryan Gosling, dan Brad Pitt, udah jaminan mutu banget (thumbs)


The King (2016)

Yes, I am a Korea-enthusiast, so please understand me ya :") Film ini lebih karena lagi seneng sama Jo In sung sih, tapi topik utama politiknya bikin lebih menarik, so I chose this one. Ceritanya tentang kisah hidup Park Tae-su (Jo In sung), si country boy yang berhasil menjadi elite prosecutor and how his life went after that. Seperti judulnya, film ini menggambarkan manusia-manusia dalam dunia perpolitikan dan berlomba menjadi raja di negaranya dengan segala cara kotor yang mereka lakukan. Quite interesting and nice cast :)

Like Father Like Son (2013)


This movie came randomly to my radar, and ta-da! Really great movie. Udah bisa ditebak, bahwa film ini bertema utama tentang keluarga. Ide ceritanya mirip sinetron Indonesia (?) dua keluarga yang ternyata anak laki-laki 6 tahunnya tertukar ketika lahir, but the story is told in a more beautiful way. Watching this movie, was really emotionally exhausting karena mengaduk-aduk perasaan banget, tipe film yang bikin terbawa suasana bahkan tanpa backing sound yang mengharukan sekalipun. Sebenernya susah banget sih diungkap dengan kata-kata how I really appreciate this movie in every aspect, even the ending. For those who enjoy family drama movie, this one is for you. (Dan ternyata film ini cukup terkenal bahkan ditayangkan di Festival Film Cannes, so it is guaranteed ;) )

Justice League (2017)


Yes, I went to movie theater for this one. Emang dasar keluarga demen nonton semua, langsung cus nonton Justice League begitu ada kesempatan, hehe. Sebenernya agak males ya review film kekinian ini karena pasti udah banyak yang nonton. Bluntly speaking, ide ceritanya biasa aja yaa, tapi cukup menghibur dan the cool actions compensated them all. Itulah hebatnya film sci-fi action macem Marvel dan DC, karena dengan senjata keren, aktor ganteng, and some jokes semuanya jadi menarik :)

Keesokan harinya....

When Harry Met Sally (1989)

Cukup dengan segala film yang menguras tenaga, I moved on to rom-com movie and I am really grateful I remember this one! Penasarannya udah lama dan tiba-tiba keingetan, akhirnya donlotlah film ini, apa sih yang bikin dia segitu terkenal sampe banyak disebut di novel-novel? And ta-da! (again), I love this movie! Dari alur ceritanya, actingnya, komedinya, Harry yang kharismatik, Sally yang charming banget, dan yang paling penting, those punchlines! Segala percakapannya yang bikin ketawa, sedih, berempati, dan menojos hati (?). hem, it will be hard to get enough of this movie :) 

The Classic (2003)

Dan akhir movie-marathon kali ini adalah dengan film The Classic dari Korea :) ini juga karena ada Jo In sung sih, tapi cukup senang dengan ceritanya yang manis dan ke-klasik-annya ♥


Well, that's the end of my latest movie-marathon :) Seru juga ya ternyata, kayanya harus dibikin jadi program rutin (?) hehe.

Happy Weekend Everyone!

All pictures taken from Google

Sunday, November 12, 2017

[Review] Mendengar Nyanyian Sunyi by Urfa Qurrota 'Ainy

Mendengar Nyanyian SunyiMendengar Nyanyian Sunyi by Urfa Qurrota 'Ainy
My rating: 4 of 5 stars

Kesan sepanjang membaca buku ini, "wah, gue banget""kok sama persis sih dengan apa yang aku rasain?" "oh.. ternyata begitu toh."
Sebagai peminat ilmu-ilmu kepribadian, saya termasuk yang senang mencari-cari tahu tentang personality, termasuk MBTI lah yang paling banyak saya acu. Berkali-kali saya mencoba mengetes kepribadian saya, dari berbagai situs yang berbeda dengan pertanyaan berbeda, hasilnya pun beraneka ragam. Namun, satu yang tidak pernah berubah, yaitu huruf I, introversion over extroversion yang selalu menang. Setelah banyak membaca mengenai kepribadian, saya adalah orang yang sampai pada kesimpulan bahwa kepribadian itu bukan sesuatu yan saklek dan tidak bisa dikotak-kotakkan secara sederhana oleh empat huruf atau hanya satu kata sifat saja. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih rumit dan misterius daripada itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, suatu sifat bisa menjadi sangat dominan dalam diri kita, baik kita sukai atau tidak, yang mana kita harus memahami, mengayomi dan berdamai dengannya. Dan bagi saya itu adalah sifat I ini.
Bisa dibilang saya adalah golongan yang sudah bisa menolerir ke-I-an saya, sudah bisa lebih nyaman dengan diri sendiri without any burden to try to interact with more people, bisa mengatakan 'tidak' untuk aktivitas sosial yang tidak saya inginkan tanpa merasa bersalah (atau setidaknya berusaha tidak merasa bersalah :") tapi tetap saja masih banyak hal yang membingungkan dalam diri saya, dan BUKU INI berhasil mendefinisikan hal-hal tersebut dengan tepat. Jujur, saya mendapat banyak sekali pembelajaran dengan membaca buku ini dan menjadi lebih termotivasi dengan kelebihan yang saya miliki sebagai introver yang mungkin selama ini saya sepelekan.

Jadi curhat gini ya di kolom review goodreads :") tapi jujur, buku ini membuat saya jadi ingin menumpahkan segala sisi introver saya yang baru saya temukan definisinya sekarang. Terima kasih kak Urfa :)

View all my reviews

Saturday, November 11, 2017

Impresi Pasca Bekerja

Here we come.

Lagi-lagi sudah lama ga menengok halaman ini, dan tanpa disadari membuka laptop di malam hari udah jadi momen langka. Biasanya pulang kerja yang bisa jadi jam 7 atau 8 di rumah, langsung tidur-tiduran sambil nonton TV, atau main HP, atau cuma sekedar bengong tanpa bergerak. Udah ga ada semangat untuk bergerak berpikir produktif lagi setelah dikuras seharian di kantor (kecuali kalau terpaksa atau memaksakan diri).

Wah, ternyata gini ya kehidupan berkantor itu. minimal sepertiga jatah waktu dalam seharinya diambil dan hanya akan menyisakan kelelahan di malam hari dan siap-siap menyambutnya di pagi hari. Hidup terpusat pada bekerja itu sepeti itu ya ternyata. Dulu waktu kuliah, banyak hal yang bisa dipikirkan selain kuliah itu sendiri, ya itu tugas dosen lah, asisten praktikum lah, kerjaan organisasi lah, atau kerjaan part-time lah. Sekarang, no time for that. Jadi paham sih, kenapa bekerja itu harus dilandasi dengan itikad yang baik, kenapa kita harus berhati-hati dalam memilih bekerja, dan kenapa ada orang yang berpindah-pindah kerja. Karena kalau kita bekerja hanya sekedar sebagai penggugur kewajiban mencari nafkah saja atau hanya demi kepuasan melihat slip gaji saja, sia-sia banget ga sih? Sebegitu besar ia mengambil porsi waktu hidup kita, tapi ternyata tujuan kita hanya sedangkal materi saja :"(

Akhirnya banyak orang juga yang merasa kosong dan mencari kegiatan bermanfaat lainnya. Beruntung lah jika sudah bekerja di tempat yang dapat memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Kalau tidak, kita harus pandai-pandai mencari kesempatan memanfaatkan waktu kita yang ada untuk menjadikan aktivtas kita lebih bermakna dalam, baik bagi diri kita maupun orang lain.
Q@@AQ
Impresi setelah hampir tiga bulan kerja di perusahaan swasta, aku banyak dapet insight baru tentang dunia kerja, terutama jika ingin berkarir di dunia engineering. Aku sudah mulai terbiasa di tempat bekerja, dan senang juga terutama karena semua personil timnya baik dan suasana kerjanya bikin nyaman. Tapi ya, kalau direnungkan lagi, aku ingin berkarir yang lebih tepat guna dan tidak hanya sekedar rutinitas, apalagi di perusahaan swasta yang tujuan utamanya hanya mencari profit saja. I am not saying that is bad, but I need something more meaningful in my life.

Thursday, October 26, 2017

Soon November

So I skipped my September without a blogpost and finally I find my time to open this blog tab again. Many things happened for past months and I am in the process of adaptation to the new circumstance, trying to be grateful and I AM grateful for everything happened lately. That I still got a chance to be productive, having experience working on a decent company, have new colleagues, earn money ;)

SO many things going on that I don't know what to write here. I just want to let the world know that I am fine, living well, and still finding my way to become better, stronger person.

I'll be back soon with more 'berfaedah' post ya, guys.

Sunday, August 6, 2017

Books I've recently read : Women and stuffs

Hi there again.
Kali ini mau sharing tentang buku-buku yang udah saya baca, as I usually do, tapi kali ini berfokus pada buku tentang pemberdayaan wanita, para wanita, or simply tentang wanita. As I love to get inspired, saya senang sekali membaca buku-buku ini karena memberikan banyak inspirasi untuk terus bergerak dalam hidup dan tetap punya dginity sebagai wanita. Atau seringkali merasa kecil karena belum melakukan apa-apa dalam hidup ini sebagaimana wanita-wanita inspiratif itu. Apalagi mereka adalah sesama wanita seperti saya, makanya jadi kisahnya lebih terasa nyata dan lebih mengena.And of course, those are the books that I've really enjoyed, so I would be glad if you try to read them too.

Disclaimer : ini adalah murni pendapat pribadi, tanpa sponsor (ya iya lah), dan hanya berdasarkan pengalaman dari buku-buku yang pernah dibaca, which is subjektif karena sedikitnya buku yang sudah saya baca sehingga saya sangat terbuka dengan berbagai rekomendasi yang lain.



The Dressmaker of Khair Khana (Gayle Tzemach Lemmon)

Buku ini berlatarkan daerah konflik di Afghanistan dimana daerah ini 'disandera' oleh Taliban dan tidak memungkinkan bagi para wanita untuk keluar rumah dengan bebas. Para pria dalam keluarga banyak yang keluar dari rumahnya untuk ikut berperang sehingga semakin sedikit keluarga yang mempunyai penghasilan dan mampu menghidupi anggotanya karena mereka kehilangan tulang punggung keluarga. 
Begitu pula degan Kamila Sidqi yang harus mensupport kehidupan 5 saudara perempuan yang lain, dia memutuskan untuk membuka usaha jahit pakaian. Dalam buku ini diceritakan cerita perkembangan usaha dia mulai dari Kamila berjuang sendiri sampai dia dapat membuka lapangan pekerjaan untuk wanita-wanita di lingkungannya.
Saya belajar kecerdasan berbisnis dari sosok Kamila bagaimana dia melakukan segmentasi pasar, melakukan marketing, pembagian kerja dengan saudara-saudaranya, hingga diversifikasi produk dengan cara yang amat sederhana. 

I am Malala (Malala Yousafzai)

Masih terinspirasi dengan Malala dan review detilnya udah pernah saya tulis disini (plus curhatannya, hihi). Saya masukkan lagi ke list karena pas banget dengan tema women empowerment.

Mimpi Sejuta Dolar (Merry Riana & Alberthiene Endah)

Buku ini saya baca tahun 2011, tapi masih berkesan sampai sekarang. Tentang perjuangan Merry Riana bertahan hidup di Singapura, membiayai kuliah dan kebutuhan hidup sehari-harinya. Bagaimana dia melewatkan hari-hari penuh perjuangan dengan menjadi sales person di mall-mall, dari yang tidak berhasil mendapat customer sepanjang hari sampai dia bisa punya client banyak. 
Kisah hidupnya memang menginspirasi sekali dan Merry Riana adalah sosok motivator wanita terkenal hingga saat ini. Menurut saya, semuanya worthy setelah apa yang dia lalui, dan membuat saya dan banyak orang terus percaya untuk bekerja keras. Hard works pay off :)

Thrive (Arianna Huffington)


Buku ini sebenarnya bukan tentang wanita sih, lebih ke wisdom of life in general yang simple tapi sangat mengena dan seringkali kita lewatkan padahal mereka sangat penting. Tapi dimasukkan ke dalam list ini karena sosok penulisnya Arianna Huffington sendiri yang merupakan 'wanita hebat' zaman ini. 
Seperti yang kita semua tahu, dia adalah pendiri surat kabar terkenal, Huffington Post, dan sekarang menjadi Board member di beberapa perusahaan besar, salah satunya Uber. Dia juga suka memberi inspirational talk di TED, termasuk tentang pentinganya tidur (I lover her ;p), haha. 
Sebenernya ada satu lagi buku dari pengarang wanita yang ingin saya baca, yaitu Lean in, tapi belum tercapai. Semoga segera ya.


Eat Pray Love (Elizabeth Gilbert)
Buku ini salah satu memoir favorit saya. Tentang Liz yang mencoba mencari makna kehidupan dengan travelling sendiri ke Italy, India, dan Indonesia (bali lebih tepatnya). Cerita Liz sangat menghibur bagi saya sekaligus berkesan karena jadi ikut merasakan mental struggle-nya Liz. Membaca kisah ini juga menginspirasi saya untuk travelling lebih banyak, hihi (yang sampai sekarang masih wacana).












Bonus :

Three Cups of Tea (Greg Mortenson & David Oliver Relin)

Buku ini sebenarnya bukan tentang wanita dan bukan juga ditulis oleh wanita. Buku ini menceritakan dengan Greg Mortenson, seorang nurse yang hobi mendaki gunung, dimana dia diselamatkan oleh penduduk lokal setelah terpisah dari rombongan pedakian K2 dalam keadaan sekarat dan bersumpah akan membalas jasa mereka dengan membangun sekolah di desa tersebut. Janji ini mengantar Greg pada kehidupan baru yang pada akhirnya membuat dia menjadi sosok pahlawan pendidikan di Pakistan dan daerah konflik lainnya. 
Saya memasukkan buku ini di list karena terkesan dengan filosofi bergeraknya Greg yang sangat menekankan pada pendidikan untuk para anak-anak perempuan di Pakistan di mana mereka tidak bisa mendapat fasilitas pendidikann yang sama seperti anak laki-laki. Perjuangan Greg ini berbuah berhasilnya anak-anak perempuan di desa yang melanjutkan sekolah hingga pendidikan tinggi, dan sebagian besar dari mereka kembali lagi ke desanya dan menjadi penggerak kesehatan di sana.
Saya juga terkesan banget dengan pemikiran Greg seperti yang saya kutip :

"Once you educate the boys, they tend to leave villages and go search for work in the cities. But the girls stay home, become leaders in the community, and pass on what they've learned. If you want to change a culture, to empower women, improve basic hygiene and healthcare, and fight high rates of infant mortality, the answer is to educate girls."

Ga salah sih kalau wanita disebut tiang negara. Praktisnya sama seperti apa yang Greg katakan diatas, bahwa betapa pentingnya pendidikan, untuk wanita juga :)