Dia seorang bapak tua yg sering aku lihat. Di perjalananku kembali ke kosan, jika aku pulang agak malam. Bapak itu tampaknya bukan pengemis. Dia hanya berdiri di depan rumah pagar hijau dengan tongkat dan segala barang bawaannya dalam tas selempangan. Dia tidak mengajak orang untuk ngobrol ataupun ngomong sendiri. Mukanya selalu menunduk, miring ke kiri dan memakai topi, aku tidak pernah bisa melihat mukanya.
Bapak tua itu selalu berhasil mengundang simpatiku. Penampilannya lusuh membuat ku yakin, dia butuh pertolongan. Tapi entah kenapa, aku selalu takut hanya untuk sekedar mendekat. Terlalu banyak asumsi dan prediksi mungkin. Akhirnya bapak tua menjadi pemandanganku sehari-hari.
Suatu hari, aku membeli makan malam di bapak nasi uduk langganan deket kosan. Ketika aku sedang menunggu pesanan, salah satu abang nasi uduk datang menggandeng seseorang. Bapak tua itu. Diajak duduk lah bapak tua yang sering aku lihat itu, lalu bapak pemilik nasi uduk segera menyiapkan alas untuk bapak tua itu duduk. "Bapak kenapa? Sakit?" Bapak nasi uduk segera menyiapkan piring, menyediakan makan, dam memberikannya ke bapak tua. Aku yg berada di tempat, termenung. Terlalu terharu dengan apa yg aku lihat. Melihat bapak itu makan dengan lahap, aku jadi ingin menangis.
Kenapa aku terlalu berpikir panjang dalam membantu orang? Kalah sama bapak nasi uduk? Aku belum punya cukup keberanian ternyata.
fenomena shaf shalat -miris"
mau dikit curhat aja (padahal gue tiap hari curhat ya --") selama bertahun-tahun gue ngerasain shalat di masjid deket rumah, bertahun-tahun juga kebiasaan orang-orang pada ga berubah. khususnya yang ibu-ibu, mereka ga menata shaf shalatnya dengan baik, cuma dilurusin menurut sajadahnya masing-masing aja. mana kadang sajadahnya gede lagi, jadi bolong shafnya gede juga. sebenernya taun ini udah lebih mending, mereka yang sajadahnya panjang suka dilipet biar kecil atau tindihin sajadah orang jadi spacenya jadi lebih rapet. selain itu juga, kadang gue sedih ngeliat orang-orang (terutama shaf wanita) yang shalat nyari ademnya doang. jadi mereka ga mau masuk ke dalam masjid dan memilih di luar masjid karena dalam masjid itu gerah, kalo di luar masjid adem, kan ada anginnya. (-_-)" yaa, gimana ya. gue tau ga semua orang punya kepahaman agama yang baik. gue yang udah (mau) 6 tahun sekolah di asrama semi-pesantren (karena ga pernah yang bener-bener pesantren) udah keseringan diceko...
Comments