Sunday, April 17, 2016

Pelajaran dari Malala (Antara mimpi dan realita)

sumber : twitter.com


Beberapa hari yang lalu, baru selesai baca buku berjudul, "I Am Malala : Menantang Maut di Perbatasan Pakistan-Afganistan" terbitan Mizan. Buku ini menang Best Memoir & Autobiography Book di Goodreads Choice Awards 2013, dan waktu itu emang lagi cari-cari buku bagus buat dibeli, Jadilah buku ini masuk list-to-buy dan saya cari ke Togamas ASAP, hehe.

Setelah selesai membaca buku ini, saya jadi kagum banget sama sosok Malala. Mungkin iri, lebih tepatnya, Malala adalah seorang gadis muda yang bersemangat bersekolah lebih dari siapa pun, meskipun dia berada di negara yang sangat mengekang wanita. Di tanah airnya, wanita bahkan tidak lazim untuk keluar rumah sendiri dan beraktivitas selayaknya laki-laki. Ditambah pemberontakan dari golongan ekstremis yang menyatakan bahwa anak perempuan bersekolah adalah haram dan satu persatu sekolah yang menampung murid perempuan dihancurkan.

Namun, Malala bukan gadis penakut yang akan nurut begitu saja, Dia malah semakin bersemangat membela apa yang menjadi haknya, yaitu bersekolah dan mendapat ilmu. Di saat teman-temannya sedikit demi sedikit menyerah, Malala dan segelintir teman-temannya tetap bertahan bersama sekolah tercintanya. Malala memang dikenal sebagai anak yang vokal, maka dia mulai bersuara, memperjuangkan haknya dan teman-temannya melalui siaran radio, TV, dan media massa lainnya dibantu oleh orang-orang dewasa. Beruntung, Malala memiliki keluarga yang sangat mendukung. Ayah Malala juga merupakan pejuang pendidikan yang menjadi 'juru bicara' masyarakat dan lantang menyuarakan kecaman terhadap pemberontakan ini.

Singkat cerita, Malala diserang oleh sekelompok pemberontak. Badannya tertembak dan saraf wajahnya terputus. Namun, Malala terselamatkan berkat bantuan berbagai pihak dan ia menjadi ikon perjuangan pendidikan perempuan dunia. Bahkan dia menjadi nominator termuda untuk Nobel Perdamaian dan telah menyampaikan pemikirannya di hadapan ratusan kepala negara. Malala adalah simbol perjuangan dan bintang bagi perempuan, khususnya perempuan Pakistan.

Selama membaca buku ini, saya sangat terkesan dengan keteguhan Malala dalam mempertahankan prinsipnya, yaitu menuntut ilmu. Di usianya yang sangat muda (dia kelahitan 1997), dia memiliki idealisme yang tinggi tentang pentingnya pendidikan bagi wanita, despite lingkungannya yang sama sekali tidak kondusif. Namun, kepercayaan terhadapa mimpinya yang sangat dalam memberi Malala energi untuk bertahan. Tidak hanya bertahan, tapi juga bergerak, berjuang.

Kebetulan ketika membaca buku ini, saya lagi 'agak panik' gara-gara suatu hal. Seperti biasa, mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini berada dalam masa galau tentang masa depan. Beberapa minggu lalu, ada Career Days dan saya melihat teman-teman sekitar saya sudah mulai mencari kerja untuk menyongsong kehidupan pasca-kampusnya. Saya yang masih belum mantap hatinya, cukup 'goyah' melihat keadaan ini. "Apa gue kerja aja ya habis lulus?" "Nis, lu beneran mau lanjut S2 habis lulus?" pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul silih berganti. Kadang saya kepikiran orang tua juga, pengen cepet-cepet membalas investasi mereka kepada saya selama ini "Mau sampe kapan bergantung sama orang tua, Nis?". Rasanya saya udah dimanjain banget, padahal anak sulung ._.

Tapi setelah membaca buku ini, saya mulai mendapat pencerahan atas 'kegalauan' saya selama ini. Sosok Malala dengan idealismenya membuat saya berpikir, "Apa sih yang gue cari dalam hidup ini?" dan mencoba membayangkan kehidupan seperti apa yang ingin saya tempuh di masa depan (kalau saya masih dikasih umur). Saya masih punya banyak mimpi di bidang pendidikan, keinginan kuat untuk menjadi pendidik masih ada dalam diri saya, bahwa 'mendidik adalah kewajiban semua yang terdidik'. Ditambah minat saya sudah mengerucut di bidang Fisika Bangunan membuat saya ingin lebih mendalami, lebih mengeksplor dan menjadi expert di bidang tersebut.

Kalau Malala adalah saya, dia pasti akan mengejar mimpi itu. Tanpa terpengaruh sekitar, mengabaikan apa kata orang dan apa yang orang lakukan. Just go for it. Malala pasti akan melakukan itu (duh, jangan samain kondisi lu sama Malala, Nis. Dia mah emang lagi literally perang sama kaum dzalim, kalo lu mah cuma pergumulan batin dan efek galau ga karuan aja. Jadi malu ._.)
Anyway, saya berhasil dapat inspirasi dari Malala ini dan mencoba untuk lebih teguh memegang mimpi-mimpi ini.

Tapi punya mimpi itu emang ga mudah. Kadang kalau liat lagi ke orang-orang sekitar, kayanya mereka kaya air mengalir aja. Cari kerja, ya cari kerja aja. Terserah mau kerja dimana, asal diterima. Sedangkan kalau saya bercermin ke diri sendiri, pengen jadi dosen (padahal jadi dosen itu susah sekarang), dan pengen jadi konsultan/energy manager (padahal belum tau step-step yang harus ditempuh). "Apa gue muluk-muluk banget ya, punya cita-cita kaya gitu?". Tapi Malala engga tuh. Tetap pada nilai-nilai yang dipegangnya, membuat dia justru menjadi lebih bersinar daripada orang lain. Menjadikan dia seorang bintang. Intinya disini bukan menjadi bintangnya, tapi kita manusia memang makhluk yang hanya bisa berusaha dan berserah diri kan? Kalau emang jodoh, semesta pasti akan membantu, seperti semesta yang mendukung Malala. Selain itu, Malala juga didukung oleh keluarganya sehingga dia senantiasa punya orang-orang yang selalu berada di sampingnya, siap membela dan melindunginya apa pun yang terjadi. Saya sendiri, alhamdulillah, tumbuh dalam keluarga yang sangat kondusif. Saya punya orang tua yang sangan mendukung apa pun keputusan yang saya ambil selama itu baik. Masih ragu, Nis?

Jadi teringat perkataan dari Owner Taka Group di kuliah umum beberapa hari lalu, bahwa pengusaha itu hidup dari mimpi-mimpi mereka. Ketika ada mahasiswa yang mengutarakan kekhawatirannya dalam memulai usaha dikarenakan keahliannya yang terlalu spesifik dan belum dikenal pasar, Bapaknya justru berkata, "Kamu justru harus jadi spesialist, sespesial mungkin. And just do it. Itu yang membuat kamu akan dicari orang." Dream, then do it!

Nah, tuh, Nis. Makanya berhenti galaunya dan mulai bergerak yuk. Masih banyak yang harus dilakukan. Yang penting lulus sarjana dulu deh.

0:26 WIB
keasyikan nulis blog, 
tidak berhasil menyelesaikan to-do-list
dan pada akhirnya tidak menepati jam tidur

1 comment:

himmah qudsiyyah said...

ih aku baru baca nis hal ini.
Tau ga apa yang ada di pikiran orang yang menurut anis "kayanya mereka kaya air mengalir aja. Cari kerja, ya cari kerja aja. Terserah mau kerja dimana, asal diterima." ?

mereka iri sama orang yang punya mimpi dan memperjuangkan mimpi tersebut, kayak anis. Namanya rumput tetangga emang lebih hijau, makanya harus banyak bersyukur huihihi
(based on true story) (story of my lyf)