Wednesday, July 2, 2014

Media mana yang harus kita percaya?

hmm.. saat ini, semua orang ramai sekali membicarakan Pilpres. Buka facebook, twitter, bahkan instagram (mungkin Path, karena saya ga main Path hehe), is all about Pilpres. Mulai dari yang serius mendukung salah satu kandidat, terang-terang menyatakan nomer 1, 2, 3, dst, sampai ke parodi-parodi yang hanya ditujukan untuk lucu-lucuan.
Pilpres tahun ini juga ga lepas dari black campaign, negative campaign, (apa itu lah istilahnya) yang isi beritanya melulu mencoba menjatuhkan salah satu kandidat yang menjadi saingan. Saya pribadi capek banget lah, ngikutin berita-berita yang mungkin awalnya menarik tapi ga jelas sumbernya dari mana dan lama-kelamanaan ga ada abisnya. *Helouu, plis stop jelek-jelekin orang dong* :p

untuk menjawab hal itu, kemarin, HMFT, himpunan saya tercinta, mengadakan kegiatan HMFT Memilih sebagai bentuk perhatiannya terhadap Pesta Demokrasi ini. Dan juga mencoba membuka wawasan kita tth Pemilu lebih luas. Tema acaranya kemarin adalah "Media dan Fenomena Politik Di Dalamnya".

Dalam diskusi itu, Pers Mahasiswa ITB memaparkan bahwa berdasarkan hasil survey menyatakan sebagian besar anak ITB lebih suka mencari berita pemilu dari media sosial dan online dengan alasan lebih praktis. *it's sooo true*
Namun, mas Adi dari AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) berkata, "Saya sangat kecewa mendengar hal ini. Anak ITB mecari berita dari media online karena lebih praktis? Kalo mau praktis, kalian gausah kuliah S1. Kuliah aja D3 cuma 3 tahun lulus dapet kerja. Lebih praktis kan?" *audiens ketawa tapi itu jleb banget* "Anak ITB yang jelas literasinya lebih banyak aja ga mau repot. Apalagi masyarakat nun jauh di sana, mereka dapet berita dari mana?"
Ada juga pemaparan dari Pak Suwandi, Dosen FIKOM Unpad, "Memang benar bahwa media sekarang menjadi sebuah industri yang bisa dikendalikan oleh para pemilik modal. Sebagian besar kita bahkan sudah tahu, media ini milik siapa, channel ini dibiayai siapa. Untuk apa? Ya, untuk menciptakan opini publik."
Dipaparkan juga tentang keprihatinan TVRI sebagai media penyiaran publik yang kalah pamor dibandig stasiun TV berbayar. padahal sebagai instansi milik pemerintah, TVRI ini punya cakuran penyiaran yang paling luas, yaitu 75 % wilayah Indonesia dapat dicapai oleh gelombang TVRI. tapi kenapa debat capres yang full itu ditayangkan di channel swasta, bukan TVRI? :"

Jadi, yang mana yang harus kita percaya?

Mas Adi ngasih alternatif, "Bacalah media cetak. Mau dia milik siapa pun, menjagokan yang mana pun, semua tulisan di media cetak itu terikat kode etik jurnalisktik. Berita apa pun yang dimuat di media cetak, dia harus memuat dari berbagai sudut pandang, tidak hanya satu. Berita yang dimuat di media cetak adalah berita yang sudah terverifikasi, didapat dari berbagai narasumber dan objektif-tidak memihak. Media cetak yang mana? Sebanyak-banyaknya."

Well, guys, pada akhirnya kita harus mengerti kalau di era modern ini justru kebenaran adalah suatu hal yang sulit didapatkan. Kepraktisan dan segala ke-instan-an ini cenderung membiaskan kita ke arah yang tak menentu. Bener kata para narasumber, mahasiswa jangan mau dapet enaknya aja, cari gampangnya aja. Justru kita yang paling tahu, informasi yang valid didapatkan dengan jalan yang panjang.

So, semangat mencari informasi kawan-kawan. Jangan mau diperdaya oleh berita-berita ga jelas. Ini semua untuk kebaikan kita juga. Kalau bukan kita yang menjadi cerdas untuk bangsa ini, siapa lagi?

No comments: